Ikatan Seniman & Budayawan Indonesia (ISBI) Sumut pada medio desember 2012 menggelar sebuah perhelatan berupa perlombaan lawak untuk kalangan pelajar dan mahasiswa di gedung bina budaya medan dgn thema "mencari figur pemimpin sumut".
Sebuah catatan ringan tentang acara itu adalah ternyata pelajar dan mahasiswa kita bukan hanya mampu mengeksplor sisi negatifnya saja sebagaimana pemberitaan media massa beberapa waktu belakangan ini. Ternyata masih banyak potensi kaum muda kita itu yang mungkin luput dari sorotan kamera media, seperti halnya festival lawak ini, materinya cukup segar dan mampu menghibur pengunjung yang datang. Gak kalah saing dengan gelaran API (akademi pelawak indonesia)... banyak pengunjung yang berkata"Lucuu juga anak-anak ini yaa..", sayapun sepakat dengan gumamam pengunjung itu..
Namun catatan lain dibalik lucunya peserta festival dan ledakan tawa para penonton, ternyata dibelakang layar saya lihat panitia yang sangat irit untuk tertawa (kalau tidak mau dikatakan stress..hehe), sebagai ketua pembina ISBI, saya bertanya kepada bung Ucok Galung mengenai keadaan itu, ternyata hampir seluruh panitia menyebutkan bahwa acara yang di gagas oleh para pekerja seni itu kurang mendapatkan respon positif dari pihak luar, khususnya kalangan pemerintah dan dunia usaha.
Sangat disayangkan jika keringat yang dikeluarkan para seniman itu tidak mendapat dukungan nyata dari kedua pihak itu, padahal acara seperti ini seharusnya menjadi media refreshing yang murah meriah bagi kalangan masyarakat bawah, masyarakat kita yang sudah sangat lelah disuguhkan segala kekerasan dan hitamnya kehidupan di berbagai media, masyarakat kita yang belakangan sangat sulit untuk ikhlas tersenyum.
Tetapi para seniman itu tidak pernah akan berhenti untuk terus berusaha melahirkan generasi seni yang akan menggantikan mereka, selesai acara mereka malah berencana ingin membuat gelaran serupa dengan segmen yang lebih besar... seni tidak akan mati meskipun minim dukungan pemerintah kata mereka.
hmmm, sebuah semangat yang patut dicontoh oleh banyak pihak..
Salut buat ISBI.....
Minggu, 16 Desember 2012
MENAPAK KISAH MASA KECIL (Kunjungan Ke Pesantren)
Beberapa waktu lalu tepatnya pada akhir november 2012, Ketua Umum Ikappai H.Hendra Cipta,SE bersama rombongan kecilnya mengunjungi ponpes Atthoyyibah di desa pinang lombang,kabupaten labuhan batu utara, sumatera utara. Tepat pada seusai para santri melaksanakan shalat isya di mesjid, rombongan kecil kami sudah berada di depan gapura ponpes tersebut. Kami langsung menuju rumah salah seorang pengasuh yaitu sahabat kami alustaz Abdul Hadi yang dahulu bersama sama kami saat menuntut ilmu di Alazhar Kairo, jamuan kabab ala mesir sudah disiapkan oleh sahabat kami itu yang gelisah sejak siang hari, tak terkira banyaknya beliau menelpon kami selama diperjalanan. Kamipun rehat serta makan malam sembari menunggu para santri bersiap menghadiri acara muhadarah yang rutin dilakukan setiap minggu di ponpes tersebut.
Sekilas dalam benak kami melewati lintasan waktu, menapak perjalanan masa kecil kami hingga beranjak dewasa saat di dalam naungan ponpes itu, namun seluruh kenangan itu bukanlah cukup menjadi memori kami, tetapi juga berubah menjadi tanggung jawab akan eksistensi lembaga pendidikan agama yang sangat masyhur dizamannya itu.
Dalam kesempatan muhadarah yang dihadiri oleh seluruh penghuni ponpes, saya dimintakan untuk memberikan kata motivasi selaku ketua alumni ponpes atthoyyibah bagi seluruh warga pondok yang wajahnya penuh cahaya itu. Pesan singkat yang bisa diberikan adalah jangan pernah malu untuk menjadi anak pesantren, pola didikan yang diperoleh selama melewati masa pubertas generasi islam telah menjadi modal kuat untuk berkompetisi di dunia yang lebih nyata, dunia keras dan penuh kalkulkasi kualitatif, dan anak pesantren punya segalanya untuk menghadapinya, kemandirian, kebersamaan, pengetahuan, kemampuan berbahasa asing dan seluruhnya itu dibingkai dengan kualitas keislaman dan keimanan yang mumpuni.
Sebaran alumni PAI diseluruh daerah tanah air ini, ditambah dengan kiprahnya diberbagai aspek kehidupan telah membuat PAI seharusnya berdiri kokoh.
PAI ternyata juga telah berkontribusi bagi negeri ini..
Semoga rumah masa kecil kami itu kembali bersinar.. amin
Sebaran alumni PAI diseluruh daerah tanah air ini, ditambah dengan kiprahnya diberbagai aspek kehidupan telah membuat PAI seharusnya berdiri kokoh.
PAI ternyata juga telah berkontribusi bagi negeri ini..
Semoga rumah masa kecil kami itu kembali bersinar.. amin
Rabu, 12 Desember 2012
Gus Irawan: Masalah Narkoba dan HIV/AIDS Sudah “SOS”
Saat
ini, masalah HIV-AIDS dan Narkoba di Sumut sudah sampai pada tingkat
SoS (Save our Soul). Artinya, penyalahgunaan Narkoba di kalangan remaja
sudah sampai tahap mengkhawatirkan dan m
emprihatinkan.
Hal ini disampaikan Gus Irawan Pasaribu saat menjadi keynote speaker
pada seminar nasional bertajuk “Stop HIV-AIDS : Stands Up For
Indonesian’s Brilliant Future” di Aula STIkes Helvetia Medan, Sabtu
(8/12) kemarin.
“Perlu gagasan dan langkah progresif untuk mengantisipasi penyebaran dan pencegahannya.Solusi paling efektif saat ini adalah pencegahan dengan membuka ruang kreatif seluas-luasnya. Upaya konkrit dari pemerintah dalam menampung kreativitas remaja harus benar-benar direalisasikan, sehingga setiap remaja yang sedang mencari jati diri bisa diarahkan ke hal-hal positif,” paparnya.
Data terakhir menyebutkan, dari 3.461 penderita HIV-AIDS di Sumut, sebanyak 57 persen diidap oleh kalangan remaja. Bahkan tragisnya 25 persen dari 75 persen tersebut kemungkinan besar merupakan pelajar.
Selanjutnya, Gus mengingatkan, pergaulan remaja saat ini benar-benar sangat rawan dan rentan dengan dunia Narkoba. Untuk itu, Gus mengajak seluruh mahasiswa untuk berwirausaha, sehingga kemandirian bangsa tidak bisa ditawar oleh persoalan sepele seperti Narkoba.
“Bila setiap saat remaja disibukkan dengan kreativitasnya masing-masing, maka Narkoba dan pergaulan bebas bisa kita minimalisir. Kemandirian secara ekonomi dan pemikiranlah yang akan membuat setiap orang menjadi bermanfaat sehingga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan masa mudanya dengan hal-hal negatif,” ujar calon Gubernur Sumut periode 2013 – 2018 ini.
Sementara itu, Ketua Badan Pelaksana Harian Yayasan Helvetia, Iman Muhammad, SE, S.Kom, MM, M.Kes yang ditemui di sela-sela seminar mengaku persoalan HIV-AIDS di Sumut sudah tahap mengkhawatirkan. Untuk itu, menurutnya, perlu digalakkan promosi kesadaran akan bahaya HIV-AIDS dan penghapusan stigma terhadap penderita HIV-AIDS.
“Pola yang pengobatan yang dilakukan selama ini kurang maksimal bila dibandingkan dengan pendakatan perilaku. Cerita sukses Gus Irawan yang masih terbilang muda perlu didengarkan generasi muda, khususnya mahasiswa STIKes Helvetia Medan, sehingga bahaya Narkoba dan HIV-AIDS bisa dicegah melalui pendekatan dengan menghadirkan inspirator sukses.
“Perlu gagasan dan langkah progresif untuk mengantisipasi penyebaran dan pencegahannya.Solusi paling efektif saat ini adalah pencegahan dengan membuka ruang kreatif seluas-luasnya. Upaya konkrit dari pemerintah dalam menampung kreativitas remaja harus benar-benar direalisasikan, sehingga setiap remaja yang sedang mencari jati diri bisa diarahkan ke hal-hal positif,” paparnya.
Data terakhir menyebutkan, dari 3.461 penderita HIV-AIDS di Sumut, sebanyak 57 persen diidap oleh kalangan remaja. Bahkan tragisnya 25 persen dari 75 persen tersebut kemungkinan besar merupakan pelajar.
Selanjutnya, Gus mengingatkan, pergaulan remaja saat ini benar-benar sangat rawan dan rentan dengan dunia Narkoba. Untuk itu, Gus mengajak seluruh mahasiswa untuk berwirausaha, sehingga kemandirian bangsa tidak bisa ditawar oleh persoalan sepele seperti Narkoba.
“Bila setiap saat remaja disibukkan dengan kreativitasnya masing-masing, maka Narkoba dan pergaulan bebas bisa kita minimalisir. Kemandirian secara ekonomi dan pemikiranlah yang akan membuat setiap orang menjadi bermanfaat sehingga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan masa mudanya dengan hal-hal negatif,” ujar calon Gubernur Sumut periode 2013 – 2018 ini.
Sementara itu, Ketua Badan Pelaksana Harian Yayasan Helvetia, Iman Muhammad, SE, S.Kom, MM, M.Kes yang ditemui di sela-sela seminar mengaku persoalan HIV-AIDS di Sumut sudah tahap mengkhawatirkan. Untuk itu, menurutnya, perlu digalakkan promosi kesadaran akan bahaya HIV-AIDS dan penghapusan stigma terhadap penderita HIV-AIDS.
“Pola yang pengobatan yang dilakukan selama ini kurang maksimal bila dibandingkan dengan pendakatan perilaku. Cerita sukses Gus Irawan yang masih terbilang muda perlu didengarkan generasi muda, khususnya mahasiswa STIKes Helvetia Medan, sehingga bahaya Narkoba dan HIV-AIDS bisa dicegah melalui pendekatan dengan menghadirkan inspirator sukses.
ITU MAH RELATIF : Iskandar Zulkarnain
Pada akhir
februari 1992 saya meninggalkan Pinang lombang menuju ke tanah Jawa, inilah
awal perjalanan panjang yang kelak akan membawa banyak cerita, di pinang
lombang selama kurang lebih empat tahun saya berdomisili disini, tempat
persinggahan yang cukup lama, karena setelah era pinang lombang ini, relatif
saya selalu berpindah tempat, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu
proyek ke proyek yang lain, dari satu budaya pindah ke budaya masyarakat yang
lain, dari satu kota besar ke kota besar lain, dari satu kota besar ke kota
kecil, dari satu kota kecil ke kota besar yang lain, dari pulau Sumatera yang
besar ke pulau batam yang kecil.
Apa artinya
semuaitu….?
Artinya, saya mengalami banyak hal yang relatif , sesuatu yang boleh disuatu tempat, ternyata tidak boleh ditempat yang lain, sesuatu yang bagi kita hal yang biasa saja, ternyata di tempat lain merupakan sesuatu yang luar biasa, ketika kita menyebut “kakak” di Medan artinya wanita yang lebih tua dari kita, di lampung itu artinya pria yang lebih tua dari kita, sedangkan di Banten itu artinya bagi laki-laki yang telah beristri. Ketika kita menyebut “bu” di jawa, itu artinya sosok wanita yang kita hormati, atau wanita yang telah berkeluarga, tetapi di papua, itu artinya abang. Semuanya jadi tidak pasti, semuanya jadi relatif , tergantung ruang dan waktu. Demikianlah terus menerus, setiap saya pindah ke daerah baru (ini umumnya disebabkan karena tugas yang mengharuskan saya selalu berpindah-pindah) saya selalu berusaha untuk menyesuaikan diri, bagaimana caranya? Tentu dengan bertanya pada teman sekitar saya yang lebih dulu mukim disitu, atau dengan tokoh agama ketika selesai sholat di mesjid pada daerah itu. Hingga suatu waktu saya benar-benar terbentur dengan masalah relatif itu sendiri.
Artinya, saya mengalami banyak hal yang relatif , sesuatu yang boleh disuatu tempat, ternyata tidak boleh ditempat yang lain, sesuatu yang bagi kita hal yang biasa saja, ternyata di tempat lain merupakan sesuatu yang luar biasa, ketika kita menyebut “kakak” di Medan artinya wanita yang lebih tua dari kita, di lampung itu artinya pria yang lebih tua dari kita, sedangkan di Banten itu artinya bagi laki-laki yang telah beristri. Ketika kita menyebut “bu” di jawa, itu artinya sosok wanita yang kita hormati, atau wanita yang telah berkeluarga, tetapi di papua, itu artinya abang. Semuanya jadi tidak pasti, semuanya jadi relatif , tergantung ruang dan waktu. Demikianlah terus menerus, setiap saya pindah ke daerah baru (ini umumnya disebabkan karena tugas yang mengharuskan saya selalu berpindah-pindah) saya selalu berusaha untuk menyesuaikan diri, bagaimana caranya? Tentu dengan bertanya pada teman sekitar saya yang lebih dulu mukim disitu, atau dengan tokoh agama ketika selesai sholat di mesjid pada daerah itu. Hingga suatu waktu saya benar-benar terbentur dengan masalah relatif itu sendiri.
Awalnya
ketika saya baru tiba disuatu daerah kecil, diujung pulau Jawa, sebagaimana
biasa, saya bertanya pada teman tentang adat kebiasaan di daerah tersebut, dan
sebagaimana biasa pula, teman menceritakannya secara detail mana yang boleh dan
mana yang tidak boleh. Di akhir cerita, teman tersebut berpesan agar saya
jangan terlalu dekat dengan ustadz anu…….. karena ustadz tersebut punya
referensi agama yang aneh, semuanya serba relatif
, bahkan kalimat popular yang sering keluar dari mulut beliau yang terkenal adalah
“itu mah relatif”
Sore itu,
ba’da sholat Isya, saya berkesempatan silaturahmi dengan ustadz aneh ini,
beliau lulusan Madinah dengan jurusan Ushuludin, kesan pertama saya, tidak ada
yang aneh pada beliau, kecuali suka pakai celana jean, minum kopi dan merokok,
kamipun saling tukar informasi tentang diri masing-masing, hingga akhirnya
ceritapun beralih pada perihal agama.
Karena
merasa saya awam dalam masalah agama, maka saya banyak bertanya tentang hal-hal
yang banyak saya alami. Pertanyaan pertama saya, bagaimana soal shalat
berjamaah di Mesjid, karena waktu saya gak jelas, kadang waktu sholat datang,
posisi saya jauh dari Mesjid? Sebagaimana sudah saya duga, kalimat yang pertama
keluar dari beliau adalah “itu mah
relatif “, lalu beliau meneruskan, kalau hanya sebab jauh dari Mesjid, maka
lakukan ketika ketika sudah menjumpai masjid, tetapi jika jumlah anda banyak,
maka lakukan dimana saja dengan berjamaah, karena sesungguhnya, bumi Allah yang
luas ini adalah Mesjid, tetapi jika hanya agar terlihat saleh, ingin dipuji
manusia, atau malu karena ada orang yang disegani, maka jangan lakukan, karena
sholat sendiri dengan khusuk dan mohon ampun atas segala dosa dengan rintihan
dari qolbu terdalam, jauh lebih baik daripada sholat di mesjid dengan tujuan
seperti diatas.
Lalu saya
bertanya lagi, bagaimana caranya agar saya lebih mengenal Allah? Lalu jawab beliau “itu mah relatif “, jika anda seorang anak kecil, maka jalan
mengenal Allah dengan dengan sifat dua puluh atau dengan asma’ul husna,
walaupun seluruh sifat dua puluh dan asma’ul husna itu, sesungguhnya
perumpamaan yang sangat dangkal, ketika anda tahu bahwa Allah itu Maha Melihat,
maka seluruh gambaran tentang penglihatan yang dimilikii Allah itu salah,
seluruh gambaran yang anda bayangkan tentang sifat mendengarnya Allah itu
salah….lah…lah. mendengar ini saya kaget, “kok bisa” Tanya saya. Ya iyalah…..
bagaimana anda bisa menggam barkan sang Pencipta, jika hasil ciptaannya saja
anda tidak bisa gambarkan, bahkan khayal mu saja tidak dapat menggambarkannya,
demikian firman Tuhan pada hadist Qudsi, ketika menggambarkan kondisi syurga, demikian
kata beliau, bahkan untuk menggambarkan beda manis pada buah mangga dan buah
korma saja anda tidak memiliki cukup kata-kata agar dimengerti oleh lawan
bicara anda, demikian beliau mengakhirinya jawabannya, saya jadi tertegun
sendiri, beliau benar, kiyai relatif ini bicara dengan makna dan pengertian
yang tak terbantahkan
Lalu saya
bertanya lagi tentang hukumnya makan nasi, pertanyaan ini sesungguhnya hanya
pertanyaan asal-asalan, karna merasa sangat kecil dihadapan beliau, sekali lagi
beliau menjawab; “itu mah relatif “
jika anda lapar dan merasa tidak bertenaga karenanya, maka makan, saat itu,
hukumnya wajib, kalau anda tambah sedikit lagi maka mubah, tetapi kalau
anda tambah lagi….tambah lagi hingga
tidak bisa berdiri, bahkan muntah-muntah, maka hukumnya haram, hebat sekali
jawabnya, kata saya dalam hati, lalu beliau menambahkan kembali, dan satu hal yang
jarang diketahui orang, bahwa ternyata nasi itu lebih berbahaya dari pada
rokok, bagaimana bisa Tanya saya pula, “tidak setiap perokok akan memperoleh
sakit jantung atau paru-paru….tetapi setiap orang yang pernah makan nasi pasti
mati”. Wah……??? Luar biasa ustadz ini, lalu kami pun menghabiskan kopi kami dan
pada batang rokok terakhir, saya pun mohon diri untuk pulang.
Di tengah
jalan, menuju rumah, dikegelapan malam itu, saya bergumam, semuanya relative,
bahkan sesuatu yang saya tahu selama ini mutlak, ternyata juga relatif,
semuanya tergantung pada ruang dimana kita berada dan waktu serta kondisi
bagaimana ketika hal itu terjadi, lalu yang mutlak itu apa….??? Dialah ALLAH
SWT……………………………wallahu’alam bish-shawab



