Tampilkan postingan dengan label KISAH PILIHAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH PILIHAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 September 2015

KISAH KAKEK DAN PENCURI PEPAYA

Saya ingin mengawali renungan kita kali ini dengan mengingatkan pada salah satu kisah kehidupan yang mungkin banyak tercecer di depan mata kita. Cerita ini tentang seorang kakek yang sederhana, hidup sebagai orang kampung yang bersahaja. Suatu sore, ia mendapati pohon pepaya di depan rumahnya telah berbuah. Walaupun hanya dua buah namun telah menguning dan siap dipanen. Ia berencana memetik buah itu di keesokan hari. Namun, tatkala pagi tiba, ia mendapati satu buah pepayanya hilang dicuri orang.

kisah inspirasi kakek dan pencuri pepaya
Kakek itu begitu bersedih, hingga istrinya merasa heran. “masak hanya karena sebuah pepaya saja engkau demikian murung” ujar sang istri.

“bukan itu yang aku sedihkan” jawab sang kakek, “aku kepikiran, betapa sulitnya orang itu mengambil pepaya kita. Ia harus sembunyi-sembunyi di tengah malam agar tidak ketahuan orang. Belum lagi mesti memanjatnya dengan susah payah untuk bisa memetiknya..”

“dari itu Bune” lanjut sang kakek, “saya akan pinjam tangga dan saya taruh di bawah pohon pepaya kita, mudah-mudahan ia datang kembali malam ini dan tidak akan kesulitan lagi mengambil yang satunya”.
Namun saat pagi kembali hadir, ia mendapati pepaya yang tinggal sebuah itu tetap ada beserta tangganya tanpa bergeser sedikitpun. Ia mencoba bersabar, dan berharap pencuri itu akan muncul lagi di malam ini. Namun di pagi berikutnya, tetap saja buah pepaya itu masih di tempatnya.

Di sore harinya, sang kakek kedatangan seorang tamu yang menenteng duah buah pepaya besar di tangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu tersebut. Singkat cerita, setelah berbincang lama, saat hendak pamitan tamu itu dengan amat menyesal mengaku bahwa ialah yang telah mencuri pepayanya.

“Sebenarnya” kata sang tamu, “di malam berikutnya saya ingin mencuri buah pepaya yang tersisa. Namun saat saya menemukan ada tangga di sana, saya tersadarkan dan sejak itu saya bertekad untuk tidak mencuri lagi. Untuk itu, saya kembalikan pepaya Anda dan untuk menebus kesalahan saya, saya hadiahkan pepaya yang baru saya beli di pasar untuk Anda”.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi diatas, adalah tentang keikhlasan, kesabaran, kebajikan dan cara pandang positif terhadap kehidupan.

Mampukah kita tetap bersikap positif saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan ikhlas mencari sisi baiknya serta melupakan sakitnya suatu “musibah”?

"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta."


Kisah inspirasi diatas dikutip dari khutbah yang ditulis oleh ustadz Saiful Amien. Diambil darihttp://malang.muhammadiyah.or.id/muhfile/malang/file/artikel/Mengakhlaqkan%20Cara%20Pandang.doc Gambar pohon pepaya dari http://mahaguru58.multiply.com/journal 
Read More..........

JAWABAN ELEGAN TUKANG BAKSO

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?

"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?" "Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita รข€“ cita penyempurnaan iman ".

"Maksudnya.. ...?", saya melanjutkan bertanya.

"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".

Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.

Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".

"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso". 

diposkan oleh syaskastupnya di kaskus http://livebeta.kaskus.co.id/post/000000000000000460001231#post000000000000000460001231
gambar dari http://agsfood.blogspot.com/2008/09/bakso-tenis.html
Read More..........

10 Ribu Rupiah Membuat Anda Mengerti Bersyukur

Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"

Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.

Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.

Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"

Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"

Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.

Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.

Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"

Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!

Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.

Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."

Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu

kisah diambil dari http://myquran.org/forum/index.php/topic,82145.0.html di posting oleh andy swan
Read More..........

Jumat, 18 September 2015

Wali Kota Getafe secara langsung menyambut kehadiran pengungsi asal Suriah, Osama Abdul Mohsen yang sempat mendapat perlakuan buruk di Hungaria.

Osama Abdul Mohsen, seorang pengungsi asal Suriah yang sempat menghiasi tajuk media internasional akibat dijegal reporter Hungaria, Petra Laszlo, mendapat kesempatan untuk berkarier sebagai pelatih di Getafe, Spanyol.
Mohsen sebelumnya telah teridentifikasi pernah bekerja sebagai pelatih di klub kasta tertinggi liga domestik Suriah, Al Fotuwa SC, sebelum perang dalam negeri memaksanya untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Setelah menarik perhatian dunia dengan kejadian penjegalannya saat berlari melintasi perbatasan Serbia-Hungaria, kini Mohsen bersama putranya yang berusia tujuh tahun, Zaid, telah tiba di Madrid untuk memulai kehidupan baru di sana.
"Kami akan bekerjasama dengan [klub] Getafe, jadi Osama Abdul Mohsen dapat melatih di sana, sebagaimana ia punya pengalaman itu. Sementara putranya, Zaid bisa bermain dan bukan tak mungkin bisa juga berkembang bersama klub Spanyol lainnya," ujar wali kota Getafe, Sara Hernandez.
"Cukup menyedihkan karena mereka terkenal karena insiden penjegalan oleh seorang jurnalis wanita, yang menunjukkan sikap xenophobia dan tanpa toleransi. Namun Getafe akan memberikan apa yang mereka seharusnya butuhkan."
sumber : http://www.goal.com/id-ID/news/1367/asia/2015/09/17/15449352/pengungsi-suriah-ini-bakal-melatih-di-spanyol
Read More..........

Ini Sosok Pengungsi Suriah yang Ditendang Kameramen TV Hungaria

Nama Osama Abdel-Mohsen al-Atharu mungkin masih terdengar sangat asing. Padahal, gambar dirinya sudah beredar di seluruh dunia, terutama lewat media sosial.

Atharu adalah sosok pengungsi Suriah yang ditendang oleh seorang kameramen televisi Hungaria, Petra Laszlo saat terjadi kericuhan di tempat penampungan pengungsi di Roszke, Hungaria beberapa waktu lalu.

Melansir Al Arabiya pada Minggu (13/9/2015), Atharu hanyalah salah satu dari ratusan ribu orang yang hidupnya hancur akibat krisis di Suriah. Sebelum konflik pecah, hidup Atharu terbilang cukup sempurna. Dirinya diketahui adalah seorang pelatih dan mantan pejabat di klub Foutowa di Deir Al-Zour, salah satu provinsi Suriah.

Hidupnya mulai berantakan ketika konflik mulai pecah di Suriah empat tahun lalu. Kehidupannya semakin amburadul setelah dirinya memutuskan untuk mendukung pemeberontak Suriah, dan turut melakukan perlawanan terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Akibat keputusannya ini, dia ditangkap dan dipenjara di salah satu penjara di Deir Al-Zour. "Saya mengalami banyak penderitaan ketika berada di dalam penjara pemerintah," ucapnya.

Setelah mengalami serangkaian penyiksaan dan penderitaan Atharu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Suriah, dan bertolak ke Eropa untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Dia tidak pergi sendirian, dalam pelariannya ke Eropa, dimana dia akhirnya menjadi penghuni tempat penampungan pengungsi di Roszke dia turut membawa anaknya.


source: http://international.sindonews.com/read/1044216/41/ini-sosok-pengungsi-suriah-yang-ditendang-kameramen-tv-hungaria-1442154461
Read More..........

Selasa, 24 Juli 2012

Islamnya Umar Ibnu Khattab

Umar gelisah tak bisa tidur malam itu. Ia kemudian keluar rumah. Purnama bersinar terang menerangi jalan-jalan kota Mekah yang sepi. Sejenak, Umar melihat seorang berjalan perlahan mendekati Ka'bah. Langkahnya begitu teratur, agak perlahan sebab jalan memang sedikit terjal. Orangnya berperawakan sedang, tidak tinggi, juga tidak pendek. Namun, berkesan ada kekuatan mengelilinginya. Umar segera tersadar, orang itulah yang sangat dibencinya. Orang yang telah membawa banyak problema bagi masyarakat Mekah akibat ajakannya pada Agama baru. Orang yang telah menantang tetuhanan yang telah mereka sembah sejak beberapa abad. Bahkan dengan gamblang orang tsb menyebut itu sebagai tuhan-tuhan palsu. Dan lebih lagi, ia justru mengajak pada Tuhan yang Satu. Orang yang telah memecah belah bangsa Quraish, memisahkan antara anak dan orang tua, menimbulkan perang antar saudara, penyebab bercerainya suami dan istri. Umar naik pitam. Tapi mencoba menahan diri. Ia berfikir, mestinya ada perhitungan dengan Muhammad, paling tidak agar da'wahnya berjalan tersendat.


Perjumpaan dengan Ummu Abdullah

Pagi sebelumnya, Umar berjumpa Ummu Abdullah, sepupunya sendiri. Ia mendapatinya sedang dalam persiapan hijrah ke Abisinia. Umar sempat berucap
"Engkau juga akan pergi?"
"Ya!", sahut Ummu Abdulah. "Umar! Engkau telah menyulitkan kehidupan kami", sambung Ummu Abdullah. "Satu-satunya celah menurutmu, hanya karena kami mempercayai Allah."

Umar terdiam, sebab ia sendiri tak punya alasan tepat untuk membenci sepupunya itu. Perasaan sedih juga merasut dalam dadanya, meyaksikan beberapa anggota klannya sediri meninggalkan Mekah. Tak sadar, Umar berucap menimpali kata-kata Ummu Abdullah
"Mudah-mudahan Tuhan bersamamu"

Maka sejak itulah Ummu Abdullah punya keyakinan bahwa, mungkin suatu ketika Umar akan menjadi seorang muslim. Disampaikannya harapan itu pada suaminya, Amier. "Ah...tak mungkin!", kata Amier. "Seluruh keturunan Khattab boleh saja menjadi muslim, tapi dengan Umar...rasanya sangat jauh. Hatinya lebih keras dari karang." Bagi Umar sendiri, percakapannya dengan Ummu Abdullah meninggalkan kesan cukup dalam. Ia tak menemukan legitimasi atas penyiksaan yang telah dilakukannya pada orang-orang muslim. Sesungguhnya Umar merasa bersalah. Tapi gengsi dan rasa sombong masih melekat dalam dadanya, karena itulah ia gelisah, tak bisa tidur.

Sampai akhirnya malam itu, mendapatkan Muhammad menghampiri Ka'bah. Umar masih dengan gumannya sendiri, sembari mengawasi bayangan Nabi.
"Bukankah orang ini biang kerok dari semua masalah? Penyebab kegoncangan keluarga dan membuat banyak orang-orang seperti tersihir?" Dan kali ini, Ia justru berjalan dengan tenanganya menuju Ka'bah, seolah-olah tak punya rasa takut. Umar semakin jengkel. Ia berkata-kata sendiri.
"Umar! Bukankah engkau orang yang paling berani sekota Mekah? Juga tidakkah Engkau membenci Islam? Terlebih pada orang yang menjadi sumbernya? Yang sekarang justru dengan tenangnya mendekati Ka'bah. Karena itu, buatlah perhitungan Umar!"
Umar, mengendap mengikuti arah Nabi. Kata-kata Ummu Abdullah kembali mengiang di telinganya.


Mengitip di Ka'bah

Begitu Umar melangkah memasuki Masjidil Haram, Nabi Muhammad SAW sudah berada di sana melaksanakan Shalat. Beliau menghadap ke Utara, arah Jerussalem. Sebenarnya Umar hingga saat itu belum pernah mendengar ayat-ayat Quran, yang menurut cerita orang-orang mengandung kekuatan. Hanya buruk sangka yang menyelemutinya selama ini. Tapi, rasa ingin tahu muncul juga dalam dadanya. Ia menarik tirai pada Ka'bah dan bersebunyi disitu.
"Kata-kata apa gerangan yang akan keluar dari mulutmu Muhammad? Bicaralah!" Gumamnya disertai gercikan gigi pertanda marah. Tiba-tiba, seperti jawaban, suara Nabi membedah keheningan malam. Beliau membaca Surah Al Haqqah. "Hari kepastian!". Apakah hari kepastian itu? Dan, apa yang boleh menyadarkan kamu tentang hari kepastian? (QS Al-Haqqah).

Umar maju selangkah, konsentrasi penuh, tak ingin tertinggal sepenggal kata pun. Tertegung oleh keindahan dan keagungan Alquran yang dibaca oleh Nabi. "Sungguh, kalimat-kalimat itu menakjubkan, ia mengandung kekuatan", sahutnya. Umar mencoba mengerti maknanya, lalu terbetik dalam pikirannya "Kedengarannya seperti syair, yah... syair yang punya kekuatan. Syair berkekuatan inilah yang telah menyesatkan orang-orang Quraish".

Umar yang terbawa oleh pikirannya sendiri kembali tersentak oleh suara Nabi yang melantunkan:
"Sesungguhnya Alquran itu adalah benar-benar wahyu yang diturunkan Allah kepada RasulNya yang mulia. Alquran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya."

Umar terpana. "Apakah orang ini mampu membaca pikiran orang lain? Oh... jika demikian, maka ia adalah tukang tenung. Tukang tenunglah yang bisa tahu kata hati orang lain".

Kembali suara Nabi menghentak Umar. "Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ini adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Sekiranya Dia, Muhammad, mengadakan/menambah perkataan atas nama Kami. Niscaya benar-benar Kami beri tindakan sekeras-kerasnya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya". (QS 69:42-46).

Tak pernah sebelumnya Umar dihadapkan pada kondisi yang demikian krusial. Semua prasangka dan argumennya tak berdaya. "Jika Muhammad berbohong, jika Ia tak menerima wahyu dari Tuhan, maka Tuhannya pasti telah membinasaknnya", pikir Umar. Umar tak tahan lagi, Ia merasa kalah. Lemas, lalu membalikkan badannya parlahan kemudian pulang menyusuri padang pasir ke rumahnya.

Jalan-jalan kota Mekah yang semakin sepi menyertai perang yang sedang berkecamuk dalam benak dan hati Umar. Ia merasa kesal sekaligus memandang bahwa ketakbedayaannya menghadapi kekuatan Kalimat-kalimat Quran sebagai kelemahan baginya. Karenanya, Umar kembali marah. Akan tetapi Umar juga tahu dan sadar bahwa Muhammad adalah orang yang ikhlas, orang yang punya integritas, yang ajarannya jauh melampaui ajaran yang Umar pernah dengar sebelumnya. Umar memasuki rumahnya dengan pikiran yang berkecamuk.


Rumah Arqam

Kaum minoritas muslim yang sebagian besar penganut baru sering dianiaya. Mereka sulit melaksanakan ajaran agama secara terbuka, juga tak boleh shalat di Ka'bah. Sementara itu, markas Besar Rasul, dimana ia sering memberi pengajaran pada shahabatnya, berlokasi di sekitar bukit Shafa, di rumah Arqam. Orang-orang muslim mengunjungi tempat ini, belajar Alquran dan bahkan kadang-kadang nginap beberapa hari. Selain ditempa di Rumah Arqam oleh Rasul, orang-orang muslim saling mengujungi antar sesama. Rumah Rasul, tentu saja juga menjadi bagian yang sangat penting. Penganut senior mengajari penganut yang baru.

Suatu pagi di kediaman Rasul, suasana begitu mengharukan. Kabar sampai ke pihak mereka bahwa Abu Jahl, musuh besar islam yang lain, bersama Umar, sedang merencanakan rangkaian penganiayaan terhadap penganut Islam. Karena itu, sebagian yang hadir di rumah Rasul ketika itu hanya ada dua pilihan, yakni bersembunyi atau disiksa. Salah seorang di antara mereka berucap,
"Masalahnya tidak cukup jumlah kita untuk mengadakan perlawanan, lihatlah! Lagipula, beberapa di antara kita adalah bekas budak, dan sebagaian besar masih terlalu muda. Apa yang kita bisa lakukan melawan kaum Quraish yang besar? Sebenarnya kita butuh orang-orang kuat di antara kita."

Yang lain senyum sedih, tetapi setuju, mendengar ungkapan itu. Nabi yang berada di tengah mereka, perlahan menegadahkan tangan sambil berdoa, "Ya Allah, Tunjukilah kami dan Kuatkanlah Islam. Beri petunjuk Abu Jahl Ibnu Hisyam atau Umar Ibnu Khattab. Ya Allah, siapa pun dari keduanya yang Engkau cintai, tunjuki ia ke Islam. Semua yang hadir mendengar doa itu, dan menirukannya dalam hati. Seketika Rasul selesai berdoa, serentak terdengar ucapan, Aamin.


Kegoncangan Umar

Sementara itu, Umar kelihatan semakin galak. Apa yang disaksikannya di Ka'bah malam itu senantiasa lengket dalam benaknya, menghantuinya, hingga kadang-kadang menjagakannya dari tidur. Suatu malam, ia tak tahan lagi, puncak amarah menembus ubun-ubunnya. Ia memutuskan untuk segera saja menghabisi jiwa orang yang dianngapnya biang kerok. Segera ia mengambil pedang, menghunusnya, lalu keluar rumah. Sisa purnama masih ada. Orang-orang sepanjang jalan sulit untuk tidak mengenali Singa padang Pasir yang lagi geram ini.

Tak lama kemudian, ia berpapasan dengan sepupunya Nu'aim ibnu Abdullah Annahm. Mata Nuaim hampir silau oleh pedang Umar yang mengkilat terhunus. Nu'aim yang agak gugup mencoba tetap diam. Tapi kemudian bertanya dengan lembut,
"Hendak kemana Umar?"
Umar yang di puncak amarah, setengah berteriak,
"Kemana!?... ha!! masih tanya juga! kemana lagi kalau bukan untuk menghabisi orang yang selama ini menjadi biang kerok, orang yang telah menghina agama nenek moyang Quraish serta merendahkan Tuhan-tuhan kita."

Nuaim diam. "Orang itu tak akan menghina lagi", sambung Umar sembari menebaskan pedangnya ke udara. Orang-orang yang rumahnya di pinggiran jalan hanya kuasa mengintip dari balik jendela. Sementara Nuaim kendati gugup punya keberanian menimpali,
"Siapa yang mengajarimu bahwa Kamu dapat membunuh Muhammad dengan mudah? Apa Kamu pikir, kalo berhasil membunuhnya lalu kamu bisa bebas begitu saja? Apa Kamu tidak sadar akan jumlah darah balasan yang akan dimintakan oleh pihak Banu Hasyim terhadap banu kita, banu Abi?"

Keduanya, kelihatan sedang beradu argumen. "Aku tahu sekarang! Engkau juga sudah tersihir oleh Muhammad", balas Umar.
"Mendekatlah ke sini, akan kuobati engkau dengan pedang ini", lanjut Umar.
"Engkau tertipu", kata Nuaim menimpali. "Ternyata Engkau tak tahu bahwa saudaramu sendiri seorang muslim. Yah... Fatimah dan Suaminya, Said jauh lebih bijaksana dari pada Engkau. Mereka berdua tidak dungu untuk berpegang teguh pada ajaran jahilliyah begitu mereka mendengar kebenaran."

"Bohong!", bantah Umar. Ia kemudian merubah arah jalannya, menuju rumah saudaranya itu. "Jika demikian, maka merekalah yang harus mampus lebih dulu", ketusnya. Jarak ke rumah Fatimah cukup jauh, karena itu amarah Umar sempat mereda sesampai di depan pintu. Ia mendengar penghuni rumah sedang membacakan Ayat-ayat Quran. Sejenak Umar berhenti. Lalu diketuknya pintu agak keras. Seisi rumah, Fatimah, suaminya Said dan Habbab, pembimbing mereka, berhenti membaca Quran.
"Siapa di luar?", tanya Fatimah.
"Umar ibnu Khattab!"

Mendengar suara itu, Habbab gugup lalu menuju ke kamar, bersembunyi.
"Cepat, sembunyikan rontal itu", bisik Said. Fatimah kemudian memasukkannya ke dalam gaungnya. Umar kembali mengetuk dengan ketukan yang lebih keras. Said membuka pintu, dan tampak olehnya Umar dengan pedang terhunus.
"Kalian sedang apa? Kamu pikir saya tak mendengarnya?", gertak Umar.

"Tidak ada apa-apa", jawab Fatimah tenang. "Kami sedang ngobrol biasa. "Umar naik pitam, "Bohong! Pengecut!" katanya. "Saya tahu bahwa kamu ikut tersihir". Fatimah dan Said saling berpandangan. Lalu Said kemudian berujar, "Kini Umar telah tahu, tak ada yang patut disembunyikan. Tapi ketahuilah Umar, kebenaran itu bukan seperti yang Anda pahami".

Ucapan ini keterlaluan bagi Umar. Ia marah, dan mencoba menyerang Said. Umar terlalu kuat, Said terjatuh. Menyaksikan itu, Fatimah menghentak Umar, dengan sekuat tenaga mencoba membela Suaminya, sekaligus saudara Muslimya.

"Lepaskan Dia!" Merasa terhalangi, Umar menampar saudara perempuannya sendiri. Pipi Fatimah merah, tapi ia menantang Umar, "Hai musuh Allah!", katanya. "Engkau membenci kami hanya karena kami beriman?" "Benar", kata Umar. " Sekarang, lakukan apa saja yang kau mau", Suara Fatimah menyambar bagai petir. "Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah. Engkau tak kuasa mengubah keyakinan kami. Apapun yang terjadi, kami tak akan pernah meninggalkan Islam. Umar terkesan mendengar keteguhan hati saudarinya itu, amarahnya seperti tersiram salju. Perlahan-lahan, Umar mereda.

Kemudian dengan suara perlahan, ia berkata, "Baiklah Saudariku! perlihatkanlah padaku apa yang sedang kalian baca! Sekiranya ia mengadung kebenaran, apa salahnya engkau memberi tahu aku."

Fatimah ragu, ia memandang suaminya. "Saya berjanji tak akan membuangnya", tambah Umar. "Akan Aku kembalikan", Umar meyakinkan. "Baiklah!", sahut Fatimah. "Tapi, basuh duluh wajahmu dengan air, Engkau tidak dalam kondisi membaca ayat suci".

Umar kemudian menuju mengambil air, Habbab keluar dari kamar berbisik,
"Bagaimana engkau percaya pada orang yang demikian keras dan kejam?" "Aku tahu karakter saudaraku", jawab Fatimah. Malah saya punya harapan besar bahwa Allah akan memberinya petunjuk. Habbab, meyaksikan Umar, kembali bersembunyi. Dengan doa dalam hati, Fatimah menyerahkan ayat Al-Quran itu pada saudaranya.

Umar membaca:
"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang zhahir dan Yang Bathin; Dan Dia maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah lah dikembalikan segala urusan. Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha mengetahui Segala isi hati. (QS Al-Hadiid 57:1-6)

Umar tertegun akan keagungan ayat-ayat suci itu. Segera ia insyaf akan kekeliruannya selama ini. Mata hatinya kini terbuka, tak mungkin ada Tuhan lain selain Allah. Muhammad kini diakuinya sebagai benar-benar Nabi. Kata yang pertama terucap baginya setelah membaca,
"Cepat! Dimana Muhammad? Beri tahulah aku!" Ipar dan saudarinya berdiri. Habbab yang keluar dari persembunyian berbisik pada Said, "Apakah ini menunjukan bahwa Doa Nabi terkabul?" Said diam saja, sembari memberi kode pada Fatimah, untuk memberi tahu di mana Nabi.

Pedang yang terhunus sejak awal disarungkan kembali oleh Umar. Ia kemudian menuju Rumah Arqam. Di dalam, Nabi dan para shahabat sedang duduk, Hamzah dan Talha berjaga di depan pintu. Umar mengetuk. "Siapa di luar?", tanya Talha. Umar memberi respons, dan seketika suasana terdiam. Melihat gelagat para shahabat seolah ketakutan, Hamzah berucap, "Kenapa takut? Mungkin ia datang dengan maksud baik, untuk memeluk islam. Kalau tidak, tak soal, kita dengan mudah bisa meringkusnya."

Ia kemudian memberi isyarat pada Talha untuk membuka pintu. Umar melangkah masuk. Hamzah dan Talha memegang tangan Umar dan membawanya menuju Nabi. Tapi, Nabi meminta mereka berdua untuk membiarkan Umar. Umar tak melangkah lagi. Nabi mendekat, Beliau membisiki Umar meletakkan pedang. Umar tak kuasa menolak, ia pasrah, bahkan berkesan tak bergerak. Nabi lalu angkat bicara, "Umar! Tinggalkanlah perbuatan maksiat, sebelum murka Allah menimpamu. Umar, terimalah Islam. Allah, beri dia petunjuk."

Umar hanya bisa menjawab, "Apa yang seharusnya saya ucapkan?" Hamzah pun bicara, "Persaksikan bahwa Tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah". Umar menoleh ke arah Hamzah, lalu ke arah Nabi, kemudian Umar berucap,
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Engkau Muhammad adalah Rasul Allah".

Mendengar deklarasi itu, para shahabat serentak berucap, "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar". Belum semenit memeluk Islam, Umar menambah kekuatan pada barisan kaum muslimin. Dukungannya terhadap Islam begitu antusias, melebihi antusiasnya ketika sebagai musuh. "Ya Rasulullah, kita harus memperjuangkan kebenaran ini sekarang juga?" Ya, tentu saja, jawab Nabi SAW. Kalau begitu, mari kita keluar memproklamirkan keyakinan kita ini secara terbuka, Ayo! Kita shalat di depan Ka'bah".

Rasulullah mengiyakan. Para shahabat kemudian berbaris dua menuju Ka'bah yang satu dipimpin oleh Umar, lainnya lagi oleh Hamzah, keduanya adalah pemimpin Makkah yang sangat disegani. Antusiasme keislaman Umar dibuktikan dengan mendatangi beberapa pemimpin utama kaum Quraish, termasuk paman Nabi sendiri, Abu Jahal. Bukan itu saja, Ia bahkan mendatangi kerumunan kaum kafir seorang diri memproklamirkan keislamanya. Orang yang berani mempersalahkannya dihadapinya semua. Tapi, memang inilah yang diharapkan Umar. Keislaman Umar mengubah peta kekuatan Kota Mekah. Kaum kafir quraish tak semena-mena lagi melakukan penganiayaan terhadap kaum minoritas muslim.
Read More..........

KATA BIJAK UMAR BIN KHATTAB

Umar bin Khotob: “duduklah dengan orang-orang yang bertaubat, sesungguhnya mereka menjadikan segala sesuatu lebih berfaedah.” (Tahfdzib Hilyatul Auliya I/71)

Umar bin Khotob: “Kalau sekiranya kesabaran dan syukur itu dua kendaraan, aku tak tahu mana yang harus aku kendarai.” (Al Bayan wa At Tabyin III/ 126)

Umar bin Khotob: “Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya.” (Ihya’ Ulumuddin 4/203)

Umar bin Khattab: “Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan.” (Shifatush Shafwah, I/286)

Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar. ~ Khalifah ‘Umar

Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku. ~ Khalifah ‘Umar

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah.Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya.

Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat.-Umar bin Khatab-

Barangsiapa yang jernih hatinya, akan diperbaiki Allah pula pada yang nyata di wajahnya.-Umar bin Khatab-

Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yang dapat menimbulkan persangkaan, maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk kepadanya.-Umar bin Khattab-

Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah-lembut.-Umar bin Khattab-

Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar.-Umar bin Khatab-

Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang kerana mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zaman engkau.-Umar bin Khattab-
Read More..........

Senin, 28 Mei 2012

Haji Agus Salim: Diplomat Minang Berlidah Pedang : The Grand Old Man

Di panggung rapat Sarekat Islam itu, Muso –kelak menjadi tokoh Partai Komunis Indonesia– berdiri, kokoh. Dia melihat para anggota rapat, tersenyum.

“Saudara, saudara, seperti apa orang yang berjanggut itu,” tanyanya.

Para peserta seperti kaget. Tapi, mereka menjawab juga. “Kambing!”

“Lalu, seperti apa orang yang memasang kumis,” tanya Muso lagi.

“Kucing!”

“Terimakasih.” Muso tergelak, lalu turun dari podium.

Kemudian, seorang lelaki kecil, berjanggut panjang, berkumis, naik podium. Dia tersenyum sebentar pada peserta rapat. Mengelus janggutnya, berdehem, dan bertanya, “Tahukah Saudara, seperti apa orang yang tidak berkumis dan berjanggut?”

Koor jawaban pun bergema. “Anjing!”

Lelaki berjanggut itu tersenyum. Kemudian meneruskan pidatonya, menjelaskan agenda Sarekat Islam dalam menghadapi politik kolonialisasi Belanda.

Lelaki berjanggut dan berkumis panjang itu adalah Haji Agus Salim, pentolan Sarekat Islam. Sejak awal, dia memang agak berbeda sikap dengan Muso. Tapi, Agus Salim selalu menanggapi semua perdebatan dengan Muso, bahkan sampai menyentuh hal yang amat pribadi. Bagi Agus Salim, setiap perdebatan harus ia hadapi, dan mesti ia menangi.

“Jarang ada yang mau menghadapi Agus Salim dalam berdebat. Ia amat ahli berkelit, bernegosisi, dan lidahnya amat tajam kala mengecam,” jelas Mohamad Roem, rekan Agus Salim semasa aktif di Jong Islamieten Bond.

Menolak Bea Siswa

Agus Salim lahir di kota Gedang, Bukittinggi, Sumatera Barat, 8 Oktober 1884. Ia anak keempat dari Haji Moehammad Sali, jaksa di pengadilan negeri setempat. Karena kedudukan ayahnya itu, Agus kecil yang bernama asli Mashudul Haq, dapat bersekolah Belanda. Hebatnya, lelaki yang memang sedari muda suka memelihara janggut ini, amat pintar. Waktu lulus dari Hogere Burgerschool (HBS) di usia 19 tahun, ia meraih predikat sebagai lulusan terbaik untuk wilayah tiga kota: Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Karena itu, Agus kemudian mengajukan permintaan beasiswa pada pemerintaan Belanda. Tapi, permintaan itu ditampik. Agus Salim patah arang.

Sementara itu, di Jawa, tepatnya di Jepara, Kartini yang mendapat beasiswa tapi tak diizinkan orang tuanya, mendesak pemerintahan Belanda untuk menghibahkan beasiswa itu pada Agus Salim. Pemerintah Belanda menyanggupi. Tapi apa kata Agus Salim?

“Jika beasiswa itu diberikan kepadaku karena desakan Kartini, dan bukan karena penghargaan atas diriku sendiri, lebih baik tidak akan pernah kuterima,” kecamnya.

Sebagai sikap pembangkangan, Agus Salim bahkan hengkang ke Jeddah, dan belajar pada ulama di sana, sambil bekerja di konsulat Belanda.

Karier politik Agus Salim bermula saat dia pulang ke Indonesia, dan bergabung dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis di Sarekat Islam. Waktu kedua tokoh SI itu mundur dari Volksraad (dewan rakyat), Agus menggantikannya. Tapi, karena Belanda tak juga mengubah kebijakanannya pada Indonesia, Agus pun akhirnya mundur.

SI kemudian pecah, antara golongan Semaun dan Muso yang condong ke garis kiri, dan Agus Salim-Tjokro yang tetap di jalur agama. SI Semaun-Muso berkembang menjadi partai komunis, sedangkan Agus Salium kemudian aktif di Jong Islamieten Bond.

Di organisasi baru ini, Agus pernah dituduh memecah belah pemuda berdasarkan sentimen keagamaan. Tapi Agus menolak, dan mengajak berdebat, dan dia menang.

Di lembaga ini Agus kemudian melakukan gebrakan. Dalam kongres Jong Islamieten Bond di Yogyakarta 1925, peserta lelaki dan wanita duduk terpisah dan berbatas tabir, sesuai syariah Islam. Tapi, dua tahun kemudian, dalam kongres di Solo, Agus atas nama pengurus membuka tabir itu, setelah menjelaskan penafsirannya. Semangat pembaruan Islam ini terus berkembang.

“Ajaran dan semangat Islam, memelopori emansipasi perempuan. Itu pasti,” ucapnya, berapi. Kisah ini sering diucapulangkan Seokarno dalam tiap pidatonya, untuk menerangkan perlunya memandang Islam dan berbagai agama dengan dada terbuka.

Tak Hirau Harta Dunia

Setelah Indonesia merdeka, bakat debat dan ketajaman lidah Agus Salim dimanfaatkan untuk menyokong politik luar negeri Indonesia. Agus menjadi diplomat, yang bahkan atas lobinya, Mesir mau mengakui kemerdekaan Indonesia pertama kali. Dalam perjanjian dengan Belanda dan negara lain pun, Agus pasti disertakan. Tapi, sebagai pejabat negara, hidup keseharian Agus tak ubahnya rakyat jelata.

Hidupnya berpindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain. Kadang, rumah itu hanya satu kamar, di gang becek, dan dia huni bersama 8 anaknya, serta ribuan buku koleksinya.

Tapi, menjadi miskin tak membuat keluarga itu murung. Penampikan Agus pada harta tak membuat anaknya kehilangan kegairahan dan keceriaan hidup. Mohamad Roem yang acap bertandang, menjadi saksi: “Kegembiraan berada di tengah keluarga Agus Salim, membuat kita acap lupa, sungguh betapa melaratnya keluarga ini,” katanya.

Agus Salim memang tak dendam pada kemiskinannya. Yang ia dendami adalah perlakuan Belanda yang menolak beasiswa dia. Karena itu, sedari lahir, tak pernah anaknya ia sekolahkan formal, kecuali yang bungsu. Agus mendidik sendiri anaknya dengan cinta dan pengertian. Bermain bagi Agus adalah belajar, belajar juga adalah permainan.

Hebatnya, sistem pendidikan informal ini cukup berhasil. Anak tertuanya, Jusuf Taufik, telah mampu membaca Mahabrata berbahasa Belanda di usia 13 tahun, dan yang lainnya, di usia belasan telah mampu menghapal syair Belanda. Perlu diketahui, tata bahasa Belanda amat sulit, sehingga butuh ketekunan yang luar biasa untuk bisa menguasainya.

Bagi Agus Salim, keberhasilan dirinya dia ukur dengan kemampuannya mengantarkan jiwa merdeka dan mandiri bagi anak-anaknya, tak menggantungkan hidup pada orang atau bangsa lain.

Jiwa yang merdeka ini, lidah yang amat tajam ini, dan otak yang luar biasa cemerlang itu, akhirnya rebah, 4 November 1954, di usia 70 tahun, sambil tersenyum. Dia tak pernah berhutang pada dunia.

Sumber (http://rumahputih.net/2008/10/14/diplomat-minang-berlidah-pedang/)
Read More..........

Senin, 05 Desember 2011

Kisah Persahabatan Sejati


Terdapat dua orang sahabat baik bernama John dan Andy.
Mereka dari kecil telah bermain bersama, sekolah bersama,
melakukan kenakalan bersama, pada dasarnya hampir segala sesuatu
mereka lakukan secara bersama.
Pada saat mereka memasuki umur remaja pecahlah perang dunia ke-2.
Pemuda-pemudi yang tangguh diwajibkan untuk ikut wajib militer
membela negaranya, tidak terkecuali John dan Andy.
Mereka mendapat pangkat letnan dua dan ditugaskan
di garis depan medan perang.
Pada suatu pagi berkabut hendak dilakukan serangan mendadak
menuju tempat musuh dipimpin oleh kapten mereka.
Pada saat mereka mengendap-endap menuju tempat musuh
mentari pagi bersinar dengan cerahnya dan menghapus kabut
yang menyelubungi mereka.
Kontan musuh yang melihat mereka
segera menembak dengan membabi- buta.
Maka lari tunggang-langganglah mereka semua termasuk John dan Andy.
Sesampainya mereka semua dimarkas ternyata John tidak ada,
maka dengan segera Andy meminta ijin pada kaptennya untuk kembali
ke wilayah musuh mencari John.
Namun sang kapten menolak sambil berkata,
"Untuk apa kau kembali lagi kesana, mungkin dia sudah mati
dan kaupun bakal tertembak musuh "
Namun Andy tidak menghiraukan perintah tersebut
dan tetap kembali untuk mencari John.
Selang setengah jam kemudian Andy kembali
dengan berlumuran darah sendirian.
Sang kaptenpun marah besar,
"Apa kubilang, John tidak kembali dan kaupun tertembak.
Sungguh sia-sia" kata sang kapten.
"Tidak sia-sia, karena aku mendengar kata-kata terakhirnya,"
kata Andy.
"Omong kosong," kata sang kapten sambil berlalu.
Namun karena rasa ingin tahu sang kapten maka dia kembali lagi
ke tempat Andy dan bertanya,"Memangnya apa yang dia katakan,
sampai kau rela mempertaruhkan nyawamu?".
"Saya tahu kau pasti akan kembali mencariku," itulah kata-kata terakhirnya
dan dia mengatakannya sambil tersenyum dengan puas.
Memang tidak mudah untuk mencari sahabat sejati,
karena kita tidak akan pernah bisa menebak isi hati
dan pikiran orang lain.
Bahkan seorang ibu pun tidak bisa mengetahui apa yang ada
dalam pikiran anaknya walaupun dia yang melahirkan tubuh anaknya.
Sebaliknya teman begitu mudah untuk dicari
namun hal itu tidaklah kekal.
Mereka akan bersama Anda saat ada kepentingan
dan di saat sedang ada kegembiraan,
namun saat giliran duka sedang menaungi Anda
mereka satu demisatu akan meninggalkan Anda.
Disinilah kita bisa mengetahui siapa sahabat sejati Anda.
Namun sahabat janganlah Anda uji,
karena dia telah memberi tempat khusus di hatinya untuk Anda,
saat diuji maka Anda akan kehilangan tempat tersebut.
Biarlah seleksi alam yang menentukan siapa sahabat sejati Anda,
saat Anda sedang jatuh dia akan tetap bersama Anda,
saat dia sedang kesulitan Anda akan menolongnya tanpa pamrih.
Bila Anda telah menemukannya Anda harus menjaga
berlian tersebut baik-baik karena Anda mungkin tidak akan
menemukan berlian yang lain.
Saya sering mendengar dan membaca cerita
bahwa persahabatan putus karena masalah uang dan cinta,
dan saya sering tertawa setelah mendengar / melihatnya
karena menurut saya itu adalah omong kosong.
Seorang sahabat sejati tidak akan menukar hati sahabatnya
dengan uang bahkan untuk wanita/pria sekalipun,
bahkan bila mereka telah berkeluarga tetap akan saling kontak.
Tidak ada teori tetap yang bisa merumuskan seorang sahabat sejati
untuk Anda namun bila saatnya tiba Anda akan mengetahui dengan sendirinya.
Seperti sebuah pepatah cina yang menyebutkan
'bisa bertemu merupakan jodoh'.
Tentunya bukan dalam konteks cowo-cewe,
bisa saja antar cowo maupun antar cewe
dan belum tentu harus kawin dan saling menyukai.
Bisa saja seorang sahabat sejati justru adalah rival Anda,
dia akan banyak bergesekan dengan Anda tapi hal tersebut
justru membuat Anda makin sering bersua dengannya,
berkompetisi sehingga saling memajukan,
dan kembali ke ciri klasik bahwa dialah yang akan menolong Anda
saat sedang jatuh walaupun terkadang rival Anda ini
terlalu angkuh untuk mengakuinya.
Semoga Anda mampu menemukan sahabat sejatimu.
Ingatlah selalu bahwa sahabat sejati layak untuk diperjuangkan...
Read More..........

Jumat, 02 Desember 2011

Pemikiran Politik Islam Jamaluddin Al-Afghani


Jamaludin Al-Afghani dilahirkan tahun 1938. tempat kelahirannya sulit dipastikan. Ia mengaku dilahirkan di As’adabad, Konar, distrik KabulAfghanistan, dari keluarga penganut Mazhab Hanafi. Versi lain mengatakan, ia dilahirkan di As’adabad dekat HamadanPersia (Iran). Hal ini dilakukan dengan maksud menghindari kesewenang-wenangan penguasa Persia pada saat itu.[1]
Afghani dibesarkan dibesarkan di Afgahanistan. Pada usia 18 tahun di Kabul, Afghani tidak hanya menguasai segala cabang ilmu keagamaan, tetapi juga mendalami falsafah, hukum, sejarah, metafisika, kedokteran, sains, astronomi dan astrologi. Kemudian pergi ke India dan tinggal disana selama satu tahun sebelum menunaikan ibadah haji pada tahun 1857. pada waktu itu di India terjadi pengotakan dramatis antara pembaharu Muslim yang pro-Inggris dan Muslim yang anti-Inggris. Afghani bersekutu dengan kelompok Muslim tradisionalis untuk menghadapi kelompok Muslim pro-Inggris. Ia menyadari bahwa kebangkitan dan solidaritas Islam bisa menjadi senjata untuk melawan Pemerintahan Inggris di bumi Muslim. Ia mendorong rakyat India untuk bangkit melawan kekuasaan Inggris. Hasilnya pada tahun 1857 muncul kesadaran baru di kalangan pribumi India untuk melawan penjajah.[2]
Sekembalinya ia di Afghanistan ia memasuki dinas pemerintahan Amir Dost Muhamma Khan. Ketia Amir meninggal dan digantikan oleh Amir Syir Ali, Afghani diangkat menjadi Menteri. Namun ketika Syir Ali dijatuhkan maka dengan dalih akan menunaikan ibadah haji lagi pada tahun 1869, Afghani meninggalkan Afghanistan. Dari snilah awal keterlibatan langsung Afghani dalam gerakan internasional anti kolonialisme/imperialisme Barat dan despotisme Timur.
Pada tahun 1871 Afghani tiba di Istambul. Oleh karena masyarakat Istambul sudah terlebih dahulu mendengar tentang kealiman dan perjuangannya, maka tokoh-tokoh masyarakat di ibukota kerajaan Usthmaniyah itu menyambutkanya dengan gembira. Belum lama tinggal di Istambul ia diangkat menjadi anggota Majelis Pendidikan, dan mulai diundang berceramah diAya Sofia serta Masjid Ahmadiyah. Popularitas Afghani ini mengundang kecemburuan Hasan Fahmi, Syaikh al-Islam, dan mufti itu berhasil memfitnah Afghani dengan materi ceramahnya di muka sejumlah mahasiswa dan cendekiawan di Dar al-Funun. Karena fitnah ini Afghani memutuskan untuk pindah ke Kairo.
Di Kairo ia disambut gembira, baik oleh penguasa maupun oleh ilmuan. Melihat campur tangan Inggris di Mesir, dan tidak inginnya Inggris melihat Islam bersatu dan kuat, Afghani akhirnya kembali lagi ke politik. Sebagai langkah taktis atau intrik politik, Afghani bergabung dengan perkumpulan Free Masonry, suatu organisasi yang disokong oleh kelompok anti zionis. Dari sini, tahun 1897 terbentuk partai politik bernama Hizb al-Wathani (Partai Kebangsaan). Slogan partai ini: “Mesir untuk Bangsa Mesir”. Partai ini antara lain menanamkan kesadaran berbangsa, memperjuangkan pendidikan universal, kemerdekaanpers, memperjuangkan unsur-unsur Mesir masuk dalam angkatan bersenjata.[3]
Dengan berdirinya partai ini Afghani merasa mendapat sokongan untuk berusahan menggulingkan raja Mesir yang berkuasa waktu itu, yakni Khadewi Ismail yang pemboros, untuk digantikan dengan putera mahkota Taufiq. Taufiq berjanji akan mengadakan pembaharuan-pembaharuan sebagaimana yang dituntut Hizb al-Wathani. Tetapi karena kegiatan politik dan agitasinya yang tajam terhadap campur tangan Inggris dalam negeri Mesir, maka Taufiq atas tekanan Inggris justru mengusir Afghani keluar dari Mesir pata tahun 1879.[4]
Dari mesir Afghani dibawa ke India, ditahan di Haiderabad dan Kalkuta, dan baru dibebaskan setelah pemberontakan Urabi Pasha di Mesir tahun 1882 berhasil ditumpas. Pada tahun 1883, Afghani berada di London kemudian pindah ke Paris dan menerbitkan majalah berkala dalam bahasa Arab Al-Urwah al-Wutqa bersama muridnya Muhammad Abduh yang juga diusir dari Mesir karena dituduh terlibat dalam pemberontakan Urabi Pasha yang gagal itu.
Dalam majalah ini, Afghani mengembangkan polemik anti Inggrisnya. Ia mulai mengemukakan argumen yang memperkuat pandangannya bahwa persatuan antar negara Islam dapat membendung serbuan pihak asing. Karena peredarannya dihalangi oleh penguasa kolonial, majalah berkala ini hanya berumur 8 bulan setelah terbit sebanyak 18 nomor. Nomor pertama terbit 13 Maret 1884 dan yang terakhir 17 Oktober tahun yang sama.
Pada tahun 1886, Afghani pergi ke Teheran. Dari sana ia pergi ke Rusia, kemudian ke Eropa. Tahun 1889 kembali ke Teheran. Tetapi kemudian Perdana Menteri Mirza Ali Asghar Khan, yang menganggap kehadiran Afghani sebagai ancaman bagi kedudukannya, berhasil menghasut Syah Nasirudin supaya tidak percaya lagi kepada Afghani. Pada awal tahun 1891, Afghani ditangkap dan dibawa ke Khariqin, suatu kota kecil dekat tapal batas Persia-Turki. Dari sana ia pergi ke London. Kemudian atas undangan Sultan Abdul Hamid ia datang dan menetap di Istambul, Turki. Afghani wafat pada bulan Maret 1879, karena kanker yang berawal dari dagunya.[5]
Pemikiran Afghani: Revivalis dan Modernis
Semua orang sepakat bahwa dialah yang menghembuskan gerakan Islam modern dan mengilhami pembaharuan di kalangan kaum Muslim yang hidup ditengah-tengah kemodernan. Dia pula yang pengaruhnya amat besar terhadap gerakan-gerakan pembebasan dan konstitusional yang dilakukan dinegara-negara Islam setelah zamannya. Ia menggabungkan ilmu-ilmu tradisional Islamnya dengan berbagai ilmu pengetahauan yang diperolehnya dari Eropa dan pengetahuan modern.[6]
Semua usahanya dicurahkan untuk menerbitkan makalah-makalah politik yang membangkitkan semangat, khususnya yang termuat dalam majalah Al-Urwah al-Wutsqa. Ia telah membangkitkan gerakan yang berskala nasional dan gerakan jamaah Islam.
Afghani mengembangkan pemikiran (dan gerakan) salafiyah, yakni aliran keagamaan yang berpendirian bahwa untuk dapat memulihkan kejayaannya, umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti yang dahulu diamalkan oleh generasi pertama Islam, yang juga biasa disebut salaf (pendahulu) yang saleh. Sebenarnya Afghani bukanlah pemikir Islam yang pertama yang mempelopori aliran salafiyah (revivalis). Ibnu Taymiyah telah mengajarkan teori yang serupa, begitu pula Syeikh Mohammd Abdul Wahab pada abad ke-18. Tetapi salafiyah (baru) dari Afghani terdiri dari tiga komponen utama, yakni; Pertama, keyakinan bahwa kebangunan dan kejayaan kembali Islam hanya mungkin terwujud kalau umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang masih murni, dan meneladani pola hidup para sahabat Nabi, khususnya Al-Khulafa al-RasyidinKedua, perlawanan terhadap kolonialisme dan dominasi Barat, baik politik, ekonomi maupun kebudayaan. Ketiga, pengakuan terhadap keunggulan barat dalam bidang ilmu dan teknologi, dan karenanya umat Islam harus belajar dari barat dalam dua bidang tersebut, yang pada hakikatnya hanya mengambil kembali apa yang dahulu disumbangkan oleh dunia Islam kepada Barat, dan kemudian secara selektif dan kritis memanfaatkan ilmu dan teknologi Barat itu untuk kejayaan kembali dunia Islam. Adapun alairan-aliran salafiyah sebelum Afghani hanya terdiri dari unsur pertama saja.[7]
Dalam rangka usaha pemurnian akidah dan ajaran Islam, serta pengembalian keutuhan umat Islam, Afghani menganjurkan pembentukan suatu ikatan politik yang mempersatukan seluruh umat Islam (Jami’ah islamiyah) atau Pan-Islamisme. Menurut Afghani, asosiasi politik itu harus melipluti seluruh umat Islam dari segala penjuru dunia Islam, baik yang hidup dalam negara-negara yang merdeka, termasuk Persia, maupun mereka yang masih merupakan rakyat jajahan. Ikatan tersebut, yang didasarkan atas solidaritas akidah Islam, bertujuan membiana kesetiakawanan danpesatuan umat Islam dalam perjuangan; pertama, menentang tiap sistempemerintahan yang dispotik atau sewenang-wenang, dan menggantikannya dengan sistem pemerintahan yang berdasarkan musyawarah seperti yang diajarkan Islam, hal mana juga berarti menentang sistem pemerintahan Utsmaniyah yang absolut itu. Kedua, menentang kolonialisme dan dominasi Barat.[8]
Menurut Afghani, dalam ikatan itu eksistensi dan kemandirian masing-masing negara anggota tetap diakui dan dihormati, sedangkan kedudukan para kepala negaranya, apa pun gelarnya, tetap sama dan sederajat antara satu dengan yang lain, tanpa ada satu pun dari mereka yang lebih ditinggikan.
Afghani mendiagnose penyebab kemunduran di dunia Islam, adalah tidak adanya keadilan dan syura (dewan) serta tidak setianya pemerintah pada konstitusi dikarenakan pemerintahan yang sewenang-wenang (despotik), inilah alasan mengapa pemikir di negara-negara Islam di timur tidak bisa mencerahkan masyarakat tentang inti sari dan kebaikan dari pemerintahan republik. Pemerintahan republik, merupakan sumber dari kebahagiaan dan kebanggaan. Mereka yang diatur oleh pemerintahan republik sendirilah yang layak untuk disebut manusia; karena suatu manusia yang sesungguhnya hanya diatur oleh hukum yang didasari oleh keadilan dan mengatur gerakan, tindakan, transaksi dan hubungan dengan orang yang lain yang dapat mengangkat masyarakat ke puncak kebahagiaan. Bagi Afghani, pemerintah rakyat adalah “pemerintahan yang terbatas”, pemerintahan yang yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, dan karenanya merupakan lawan dari pemerintahan absolut. Merupakan suatu pemerintah yang berkonsultasi dalam mengatur, membebaskan dari beban yang diletakkan pemerintahan despotik dan mengangkat dari keadaan membusuk ke tingkat kesempurnaan.[9]
Reformasi atau pembaharuan dalam bidang politik yang hendak diperjuangkan oleh salafiyah(baru) di negara-negara Islam adalah pelaksanaan ajaran Islam tentang musyawarah melaui dewan-dewan konstitusi dan badan-badan perwakilan (rakyat), pembatasan terhadap kekuasaan dan kewenangan pemerintah dengan konstitusi dan undang-undang, serta pengerahan kekuatan dan potensi rakyat untuk mendukung reformasi politik an sekaligus untuk membebaskan dunia Islam dari penjajahan an dominasi Barat.
Menurut Afghani, cara terbaik dan paling efektif untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut adalah melalui revolusi yang didasarkan atas kekuatan rakyat, kalau perlu dengan pertumpahan darah. Ia mengatakan bahwa kalau memang ada sejumlah hal yang harus direbut dan tidak ditunggu untuk diterima sebagai hadiah atau anugerah, maka kebebasan an kemerdekaan merupakan dua hal tersebut.[10]
Waktu tinggal di Mesir, sejak awal Afghani menganjurkan pembentukan “pemerintaha rakyat” melalui partisipasi rakyat Mesir dalam pemerintahan konstitusional yang sejati. Ia banyak berbicara tentang keharusan pembentukan dewan perwakilan yang disusun sesuai dengan apa yang diinginkan rakyat, dan anggota-anggotanya terdiri ari orang-orang yang betul-betul dipilih oleh rakyat, sebab dia berkeyakinan bahwa suatu dewan perwakilan yang dibentuk atas perintah raja atau kepala negara, atau atas anjuran penguasa asing, maka lembaga tersebut akan lebih merupakan alat politik bagi yang membentuknya. Ketika penguasa Mesir, Khedewi Taufiq bermaksud menarik kembali janjinya untuk membentuk dewan perwakilan rakyat berdasarkan alasan bahwa rakyat masih bodoh dan buta politik, Afghani menulis surat kepada Khedewi yang isinya menyatakan bahwa memang benar di antara rakyat Mesir, seperti halnya rakyat dinegeri-negeri lain, banyak yang masih bodoh, teapi itu tidak berarti bahwa di antara mereka tidak terdapat orang-orang pandai dan berotak.[11]
Tujuan utama gerakan Afghani ialah menyatukan pendapat semua negara-negara Islam dibawah satu kekhalifahan, untuk mendirikan sebuah imperium Islam yang kuat dan mampu berhadapan dengan campur tangan bangsa Eropa. Ia ingin membangunkan kesadaran mereka akan kejayaan Islam pada masa lampau yang menjadi kuat karena bersatu. Menyadarkan bahwa kelemahan umat Islam sekarang ini adalah karena mereka berpecah-belah.[12]
Afghani berusaha menghimpun kembali kekuatan dunia Islam yang tercecer. Ia yakin bahwa kebangkitan Islam merupakan tanggungjawab kaum Muslim, bukan tanggung jawab Sang Pencipta. Masa depan kaum Muslim tidak akan mulia kecuali jika mereka menjadikan diri mereka sendiri sebagai orang besar. Mereka harus bangkit dan menyingkirkan kelalaian. Mereka harus tahu realitas, melepaskan diri dari kepasrahan. Ia menjelaskan kebobrokan umat Islam, dan menerangkan bahwa duni Islam sedang terancam. Ancamannya datang dari Barat yang memiliki kekuatan dinamis. Afghani mengajak umat Islam untuk melakukan perbaikan secara internal, menumbuhkan kekuatan untuk bertahana dan mengaopsi buah peradaban Barat, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembalikan kejayaan Islam. Barat harus dihadapi karena dialah yang mengancam Islam. Cara menghadapinya adalah dengan menirunya dalam hal-hal yang positif, selain aturan kebebasan dan demokrasinya.[13]
Afghani adalah pembaharu muslim pertama yang menggunakan term Islam dan Barat sebagai dua fenomena yang selalu bertentangan. Sebuah pertentangan yang justru harus dijadikan patokan berpikir kaum muslim, yaiut untuk membebaskan kaum muslim dari ketakutan dan eksploitasi yang dilakukan oleh orang-orang Eropa.[14]
Beberapa buku yang ditulis oleh Afghani antara lain[15]Tatimmat al-bayan (Cairo, 1879). Buku sejarah politik, sosial dan budaya AfghanistanHakikati Madhhabi Naychari wa Bayani Hali Naychariyan. Pertama kali diterbitkan di Haydarabad-Deccan, 1298 H/1881 M, ini adalah karya intelektual Afghani paling utama yang diterbitkan selama hidupnya. Merupakan suatu kritik pedas dan penolakan total terhadap materialisme. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam Arab oleh Muhammad Abduh dengan judul Al-Radd 'ala al-dahriyyin (Bantahan terhadap Materialisme). Al-Ta'Liqat 'ala sharh al-Dawwani li'l-'aqa'id al-'adudiyyah (Cairo, 1968). Berupa catatan Afghani atas komentar Dawwani terhadap buku kalam yang terkenal dari] Adud al-Din al-'Iji yang berjudul al-‘aqa’id al-‘adudiyyah. Berikutnya Risalat al-waridat fi sirr al-tajalliyat (Cairo, 1968). Suatu tulisan yang didiktekan oleh Afghani kepada siswanya Muhammad 'Abduh ketika ia di Mesir. Khatirat Jamal al-Din al-Afghani al-Husayni (Beirut, 1931). Suatu buku hasil kompilasi oleh Muhammad Pasha al-Mahzumi wartawan Libanon. Mahzumi hadir dalam kebanyakan forum pembicaraan Afghani pada bagian akhir dari hidupnya Buku berisi informasi yang penting tentang gagasan dan hidup Afghani.
Selanjutnya, pemikiran Afghani, diteruskan dan dikembangkan oleh murid-muridnya yakni Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Selanjutnya, pemikiran Islam modern yang mereka kembangkan bukan hanya pada tingkat wacana, namun ditransformasikan oleh pengikut-pengikut selanjutnya menjadi gerakan. Dapat dikatakan bahwa gerakan Islam di abad kedua puluh banyak terpengaruh olehnya dan menjadikannya sumber inspirasi.[16] Pengaruh tersebut terlihat dalam tokoh dan gerakan-gerakan Islam modern masa kini seperti Hasan al-Banna dengan Ikhwanul Muslimin, Abul A’la al-Maududi dengan Jama’atul Islam dan termasuk Muh Natsir dengan Masyuminya. Wallahu’alam
DAFTAR PUSTAKA
Abdulbasit Hasan, Jamal Ad-Din Al-Afghani, Cairo, 1982, dalam Dr. Azzam S. Tamimi,Democracy in Islamic Political Thought, (http://www.iol.ie/~afifi/Articles/democracy.htm)
Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000).
Munawir Sajdzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: UI Press, 1993).
RA Gunadi & M Shoelhi (Penyunting), Dari Penakluk Jerusalem hingga Angka Nol, (Jakarta: Penerbit Republika, 2002).
Website:
http://www.cis-ca.org/voices/a/afghni.htm

[1] Munawir Sajdzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: UI Press, 1993). Hal.117
[2] RA Gunadi & M Shoelhi (Penyunting), Dari Penakluk Jerusalem hingga Angka Nol, (Jakarta: Penerbit Republika, 2002). Hal.136
[3] Ibid, hal.137
[4] Ibid, Hal.140
[5] Munawir Sajdzali, op cit. hal.119-120
[6] Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hal.293
[7] Munawir Sjazali, op cit. hal. 124-125
[8] Ibid. hal.126
[9] Abdulbasit Hasan, Jamal Ad-Din Al-Afghani, Cairo, 1982, pp. 267-8, dalam Dr. Azzam S. Tamimi, Democracy in Islamic Political Thought, (http://www.iol.ie/~afifi/Articles/democracy.htm)
[10] Munawir Sjazali, op cit. hal.129
[11] Ibid. hal 128
[12] Husayn Ahmad Amin, op cit. hal 295
[13] Ibid. hal 294-295
[14] ibid. hal 295
[15] http://www.cis-ca.org/voices/a/afghni.htm
[16] Husayn Ahmad Amin, op cit, hal 294-295
posted by Hermawan @ 12:46 PM
Read More..........
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...