Jumat, 02 Desember 2011

NASIONALISME


Sampai dgn hari ini, banyak org yang salah mengartikan Nasionalisme.
Kebanyakan berpikir bahwa Nasionalisme adalah “Cinta Indonesia” atau “Semangat kebangsaan”
Banyak yg salah menggunakan kata Nasionalisme dalam obrolan. Contoh:
“Tunjukkan Nasionalisme kamu dgn membeli produk Indonesia”
Atau
“Katanya Nasionalisme, kok pake bahasa inggris?”
Atau
“Bagaimana cara menunjukkan Nasionalisme kita?”
Itu semua adalah contoh penggunaan (yg datang dari pemaknaan) Nasionalisme yang salah.
Dlm bahasa sederhana, Nasionalisme adalah paham yg percaya bahwa perbedaan dlm sebuah negara harus dipersatukan.
Beda kan?
Kebayang kesalahan penggunaan di atas?
Kalau maksudnya adalah cinta Indonesia, kalimatnya sebaiknya ya begini aja:
“Tunjukkan kecintaan kamu kpd Indonesia dgn membeli produk Indonesia”
Atau
“Katanya cinta Indonesia, kok pake bahasa inggris?”
Atau
“Bagaimana cara menunjukkan kecintaan kita kpd Indonesia?”
Dan sebenarnya, kalau cinta Indonesia itu adalah tidak boleh pake bahasa asing dan hanya boleh pakai bahasa Indonesia saja, mnurut saya itu kecintaan yg dangkal.
Kalau cinta Indonesia ditunjukkan dgn beli produk2 Indonesia saja, itu cetek kecintaannya.
Cinta Indonesia ditunjukkan lewat karya. Lewat apa yg kita lakukan UNTUK Indonesia
Bung Karno sering pake bahasa inggris dan belanda dalam pidatonya kepada sesama bangsa Indonesia
Bung Hatta mengidam idamkan sepatu merk asing Balley.
Berani bilang mereka tidak cinta Indonesia?
Kembali kepada penggunaan istilah, selama ini rakyat Indonesia memang sering salah kaprah dlm menggunakan istilah..
Pada era 80an, gue inget banget byk org yg manggil bule (org asing) dgn sebutan Albino. Padahal Albino beda lagi artinya, sebuah kelainan dlm pigmentasi kulit.
Lalu hari ini byk yg salah menggunakan kata Anarki, Anarkis, Anarkisme.
“Demo yg berlangsung anarkis”
Atau “Terjadi anarskisme antara pendukung kedua kubu”
Kesannya Anarki itu artinya “Kekerasan”
Padahal, Anarkisme itu artinya: Paham yg percaya sebuah negara bisa berjalan tanpa Pemerintahan. Krn paham ini meyakini Pemerintah melakukan kezaliman kpd masyarakat.
Beda kan?
Balik ke Nasionalisme: Sebuah paham yg percaya bahwa perbedaan di sebuah negara harus dipersatukan.
Agar negara yg penuh dgn keragaman itu bisa hidup dlm persatuan dan keharmonisan.
Wujudnya bagaimana?
Beda beda
Di Amerika Serikat, negara para imigran dipersatukan lewat salah satunya olahraga.
Saat dunia punya Football, Amerika menciptakan American Football.
Karena “modern football” itu dikenal besar di Inggris.
Football tidak mengakomodir imigran2 lain yg tdk merasa sebudaya dgn football-nya inggris.
Juga Basketball yg merupakan produk asli Amerika.
Lewat olahraga2 ini, semua imigran berpartisipasi lewat “produk bersama” sehingga persatuan itu muncul.
Itu hanya segelintir contoh di Amerika.
Di Indonesia sendiri wujud Nasionalisme-nya seperti apa?
Jawabannya: PANCASILA.
Dasar negara, tempat di mana semua suku, agama, keragaman, berpijak. Dasar yg mempersatukan perbedaan kita.
Pancasila, yang menjadikan Indonesia tidak senasib dgn India yg harus terpecah menjadi Pakistan krn setelah bebas dari Inggris, masy Islam (minoritas di India) takut tidak akan diakomodir kebutuhaannya. Maka peranglah India antara Islam dan Hindu.
Pada momen inilah Gandhi puasa makan sampai kekerasan di India berhenti.
Akhirnya seluruh India berhenti perang saudara, krn ingin Gandhi kembali makan.
Namun hasil akhirnya, India akhirnya pecah. Masy muslimnya kemudian menjadi Pakistan. Migrasi masyarakat Islam dan Hindu ke daerah India dan Pakistan sangat memilukan.
Pancasila jugalah yg membuat Indonesia dikagumi dunia sebagai negara yg demokratis. Rata2 negara Islam (atau neg dgn penduduk Islam yg tinggi) itu dipimpin oleh rezim2 yg lama. Makanya skarang rezim2 itu pada goyang.
Indonesia sejak 98 tidak lagi begitu.
Perkembangan praktek demokrasi dan pertumbuhan ekonomi kita kini luar biasa.
Makanya Amerika senang dgn kita. Hehehe. Di negara yg demokratis, bisnis dan ekonomi bisa berkembang. Soal bisnis, Amerika (mrasa) paling megang.
Makanya mereka punya kbutuhan ekonomi di Indonesia.
Pancasila adalah pemersatu Indonesia
Pancasila adalah alasan kita bisa seperti sekarang.
Krn itu pendidikan akan Pancasila masih sangat relevan.
Nama pelajarannya bisa berganti ganti. Dari PMP ke PPKN ke PKN dan entah kelak apa lagi, tapi Pancasila wajib dikenalkan, diajarkan, dan terpenting, di amalkan.
Pancasila, adalah wujud nasionalisme kita.
Read More..........

Andik: Kaus Beckham Tak akan Dicuci 3 Hari

Pemain lincah timnas Indonesia Selection, Andik Vermansyah mungkin menjadi sosok yang paling bahagia. Ia berhasil mendapatkan kaus David Beckham.
Andik Vermansyah menjadi sosok yang beruntung bisa mendapatkan kaus David Beckham dalam pertandingan persahabatan antar LA Galaxy dan Timnas Indonesia Selection, Rabu (30/11) di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Ketika para pemain Indonesia lain harus gigit jari ketika meminta kaus Beckham, justru Andik yang beruntung. Beckham dengan sukarela memberikan kausnya kepada pemain yang tampil luar biasa dalam pertandingan tersebut.

Andik pun tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya karena mendapat kaos mantan punggawa Manchester United itu.

"Saya senang bisa mendapatkan kaus dia (Beckham). Saya tidak akan mencucinya selama tiga hari," kata Andik tertawa di areamixed zone usai laga.

Pertandingan antara LA Galaxy kontra Timnas Indonesia Selection sendiri berakhir untuk kemenangan David Beckham cs. dengan skor 1-0 berkat gol yang dicetak oleh Robbie Keane.
Read More..........

Pemikiran Politik Islam Jamaluddin Al-Afghani


Jamaludin Al-Afghani dilahirkan tahun 1938. tempat kelahirannya sulit dipastikan. Ia mengaku dilahirkan di As’adabad, Konar, distrik KabulAfghanistan, dari keluarga penganut Mazhab Hanafi. Versi lain mengatakan, ia dilahirkan di As’adabad dekat HamadanPersia (Iran). Hal ini dilakukan dengan maksud menghindari kesewenang-wenangan penguasa Persia pada saat itu.[1]
Afghani dibesarkan dibesarkan di Afgahanistan. Pada usia 18 tahun di Kabul, Afghani tidak hanya menguasai segala cabang ilmu keagamaan, tetapi juga mendalami falsafah, hukum, sejarah, metafisika, kedokteran, sains, astronomi dan astrologi. Kemudian pergi ke India dan tinggal disana selama satu tahun sebelum menunaikan ibadah haji pada tahun 1857. pada waktu itu di India terjadi pengotakan dramatis antara pembaharu Muslim yang pro-Inggris dan Muslim yang anti-Inggris. Afghani bersekutu dengan kelompok Muslim tradisionalis untuk menghadapi kelompok Muslim pro-Inggris. Ia menyadari bahwa kebangkitan dan solidaritas Islam bisa menjadi senjata untuk melawan Pemerintahan Inggris di bumi Muslim. Ia mendorong rakyat India untuk bangkit melawan kekuasaan Inggris. Hasilnya pada tahun 1857 muncul kesadaran baru di kalangan pribumi India untuk melawan penjajah.[2]
Sekembalinya ia di Afghanistan ia memasuki dinas pemerintahan Amir Dost Muhamma Khan. Ketia Amir meninggal dan digantikan oleh Amir Syir Ali, Afghani diangkat menjadi Menteri. Namun ketika Syir Ali dijatuhkan maka dengan dalih akan menunaikan ibadah haji lagi pada tahun 1869, Afghani meninggalkan Afghanistan. Dari snilah awal keterlibatan langsung Afghani dalam gerakan internasional anti kolonialisme/imperialisme Barat dan despotisme Timur.
Pada tahun 1871 Afghani tiba di Istambul. Oleh karena masyarakat Istambul sudah terlebih dahulu mendengar tentang kealiman dan perjuangannya, maka tokoh-tokoh masyarakat di ibukota kerajaan Usthmaniyah itu menyambutkanya dengan gembira. Belum lama tinggal di Istambul ia diangkat menjadi anggota Majelis Pendidikan, dan mulai diundang berceramah diAya Sofia serta Masjid Ahmadiyah. Popularitas Afghani ini mengundang kecemburuan Hasan Fahmi, Syaikh al-Islam, dan mufti itu berhasil memfitnah Afghani dengan materi ceramahnya di muka sejumlah mahasiswa dan cendekiawan di Dar al-Funun. Karena fitnah ini Afghani memutuskan untuk pindah ke Kairo.
Di Kairo ia disambut gembira, baik oleh penguasa maupun oleh ilmuan. Melihat campur tangan Inggris di Mesir, dan tidak inginnya Inggris melihat Islam bersatu dan kuat, Afghani akhirnya kembali lagi ke politik. Sebagai langkah taktis atau intrik politik, Afghani bergabung dengan perkumpulan Free Masonry, suatu organisasi yang disokong oleh kelompok anti zionis. Dari sini, tahun 1897 terbentuk partai politik bernama Hizb al-Wathani (Partai Kebangsaan). Slogan partai ini: “Mesir untuk Bangsa Mesir”. Partai ini antara lain menanamkan kesadaran berbangsa, memperjuangkan pendidikan universal, kemerdekaanpers, memperjuangkan unsur-unsur Mesir masuk dalam angkatan bersenjata.[3]
Dengan berdirinya partai ini Afghani merasa mendapat sokongan untuk berusahan menggulingkan raja Mesir yang berkuasa waktu itu, yakni Khadewi Ismail yang pemboros, untuk digantikan dengan putera mahkota Taufiq. Taufiq berjanji akan mengadakan pembaharuan-pembaharuan sebagaimana yang dituntut Hizb al-Wathani. Tetapi karena kegiatan politik dan agitasinya yang tajam terhadap campur tangan Inggris dalam negeri Mesir, maka Taufiq atas tekanan Inggris justru mengusir Afghani keluar dari Mesir pata tahun 1879.[4]
Dari mesir Afghani dibawa ke India, ditahan di Haiderabad dan Kalkuta, dan baru dibebaskan setelah pemberontakan Urabi Pasha di Mesir tahun 1882 berhasil ditumpas. Pada tahun 1883, Afghani berada di London kemudian pindah ke Paris dan menerbitkan majalah berkala dalam bahasa Arab Al-Urwah al-Wutqa bersama muridnya Muhammad Abduh yang juga diusir dari Mesir karena dituduh terlibat dalam pemberontakan Urabi Pasha yang gagal itu.
Dalam majalah ini, Afghani mengembangkan polemik anti Inggrisnya. Ia mulai mengemukakan argumen yang memperkuat pandangannya bahwa persatuan antar negara Islam dapat membendung serbuan pihak asing. Karena peredarannya dihalangi oleh penguasa kolonial, majalah berkala ini hanya berumur 8 bulan setelah terbit sebanyak 18 nomor. Nomor pertama terbit 13 Maret 1884 dan yang terakhir 17 Oktober tahun yang sama.
Pada tahun 1886, Afghani pergi ke Teheran. Dari sana ia pergi ke Rusia, kemudian ke Eropa. Tahun 1889 kembali ke Teheran. Tetapi kemudian Perdana Menteri Mirza Ali Asghar Khan, yang menganggap kehadiran Afghani sebagai ancaman bagi kedudukannya, berhasil menghasut Syah Nasirudin supaya tidak percaya lagi kepada Afghani. Pada awal tahun 1891, Afghani ditangkap dan dibawa ke Khariqin, suatu kota kecil dekat tapal batas Persia-Turki. Dari sana ia pergi ke London. Kemudian atas undangan Sultan Abdul Hamid ia datang dan menetap di Istambul, Turki. Afghani wafat pada bulan Maret 1879, karena kanker yang berawal dari dagunya.[5]
Pemikiran Afghani: Revivalis dan Modernis
Semua orang sepakat bahwa dialah yang menghembuskan gerakan Islam modern dan mengilhami pembaharuan di kalangan kaum Muslim yang hidup ditengah-tengah kemodernan. Dia pula yang pengaruhnya amat besar terhadap gerakan-gerakan pembebasan dan konstitusional yang dilakukan dinegara-negara Islam setelah zamannya. Ia menggabungkan ilmu-ilmu tradisional Islamnya dengan berbagai ilmu pengetahauan yang diperolehnya dari Eropa dan pengetahuan modern.[6]
Semua usahanya dicurahkan untuk menerbitkan makalah-makalah politik yang membangkitkan semangat, khususnya yang termuat dalam majalah Al-Urwah al-Wutsqa. Ia telah membangkitkan gerakan yang berskala nasional dan gerakan jamaah Islam.
Afghani mengembangkan pemikiran (dan gerakan) salafiyah, yakni aliran keagamaan yang berpendirian bahwa untuk dapat memulihkan kejayaannya, umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti yang dahulu diamalkan oleh generasi pertama Islam, yang juga biasa disebut salaf (pendahulu) yang saleh. Sebenarnya Afghani bukanlah pemikir Islam yang pertama yang mempelopori aliran salafiyah (revivalis). Ibnu Taymiyah telah mengajarkan teori yang serupa, begitu pula Syeikh Mohammd Abdul Wahab pada abad ke-18. Tetapi salafiyah (baru) dari Afghani terdiri dari tiga komponen utama, yakni; Pertama, keyakinan bahwa kebangunan dan kejayaan kembali Islam hanya mungkin terwujud kalau umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang masih murni, dan meneladani pola hidup para sahabat Nabi, khususnya Al-Khulafa al-RasyidinKedua, perlawanan terhadap kolonialisme dan dominasi Barat, baik politik, ekonomi maupun kebudayaan. Ketiga, pengakuan terhadap keunggulan barat dalam bidang ilmu dan teknologi, dan karenanya umat Islam harus belajar dari barat dalam dua bidang tersebut, yang pada hakikatnya hanya mengambil kembali apa yang dahulu disumbangkan oleh dunia Islam kepada Barat, dan kemudian secara selektif dan kritis memanfaatkan ilmu dan teknologi Barat itu untuk kejayaan kembali dunia Islam. Adapun alairan-aliran salafiyah sebelum Afghani hanya terdiri dari unsur pertama saja.[7]
Dalam rangka usaha pemurnian akidah dan ajaran Islam, serta pengembalian keutuhan umat Islam, Afghani menganjurkan pembentukan suatu ikatan politik yang mempersatukan seluruh umat Islam (Jami’ah islamiyah) atau Pan-Islamisme. Menurut Afghani, asosiasi politik itu harus melipluti seluruh umat Islam dari segala penjuru dunia Islam, baik yang hidup dalam negara-negara yang merdeka, termasuk Persia, maupun mereka yang masih merupakan rakyat jajahan. Ikatan tersebut, yang didasarkan atas solidaritas akidah Islam, bertujuan membiana kesetiakawanan danpesatuan umat Islam dalam perjuangan; pertama, menentang tiap sistempemerintahan yang dispotik atau sewenang-wenang, dan menggantikannya dengan sistem pemerintahan yang berdasarkan musyawarah seperti yang diajarkan Islam, hal mana juga berarti menentang sistem pemerintahan Utsmaniyah yang absolut itu. Kedua, menentang kolonialisme dan dominasi Barat.[8]
Menurut Afghani, dalam ikatan itu eksistensi dan kemandirian masing-masing negara anggota tetap diakui dan dihormati, sedangkan kedudukan para kepala negaranya, apa pun gelarnya, tetap sama dan sederajat antara satu dengan yang lain, tanpa ada satu pun dari mereka yang lebih ditinggikan.
Afghani mendiagnose penyebab kemunduran di dunia Islam, adalah tidak adanya keadilan dan syura (dewan) serta tidak setianya pemerintah pada konstitusi dikarenakan pemerintahan yang sewenang-wenang (despotik), inilah alasan mengapa pemikir di negara-negara Islam di timur tidak bisa mencerahkan masyarakat tentang inti sari dan kebaikan dari pemerintahan republik. Pemerintahan republik, merupakan sumber dari kebahagiaan dan kebanggaan. Mereka yang diatur oleh pemerintahan republik sendirilah yang layak untuk disebut manusia; karena suatu manusia yang sesungguhnya hanya diatur oleh hukum yang didasari oleh keadilan dan mengatur gerakan, tindakan, transaksi dan hubungan dengan orang yang lain yang dapat mengangkat masyarakat ke puncak kebahagiaan. Bagi Afghani, pemerintah rakyat adalah “pemerintahan yang terbatas”, pemerintahan yang yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, dan karenanya merupakan lawan dari pemerintahan absolut. Merupakan suatu pemerintah yang berkonsultasi dalam mengatur, membebaskan dari beban yang diletakkan pemerintahan despotik dan mengangkat dari keadaan membusuk ke tingkat kesempurnaan.[9]
Reformasi atau pembaharuan dalam bidang politik yang hendak diperjuangkan oleh salafiyah(baru) di negara-negara Islam adalah pelaksanaan ajaran Islam tentang musyawarah melaui dewan-dewan konstitusi dan badan-badan perwakilan (rakyat), pembatasan terhadap kekuasaan dan kewenangan pemerintah dengan konstitusi dan undang-undang, serta pengerahan kekuatan dan potensi rakyat untuk mendukung reformasi politik an sekaligus untuk membebaskan dunia Islam dari penjajahan an dominasi Barat.
Menurut Afghani, cara terbaik dan paling efektif untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut adalah melalui revolusi yang didasarkan atas kekuatan rakyat, kalau perlu dengan pertumpahan darah. Ia mengatakan bahwa kalau memang ada sejumlah hal yang harus direbut dan tidak ditunggu untuk diterima sebagai hadiah atau anugerah, maka kebebasan an kemerdekaan merupakan dua hal tersebut.[10]
Waktu tinggal di Mesir, sejak awal Afghani menganjurkan pembentukan “pemerintaha rakyat” melalui partisipasi rakyat Mesir dalam pemerintahan konstitusional yang sejati. Ia banyak berbicara tentang keharusan pembentukan dewan perwakilan yang disusun sesuai dengan apa yang diinginkan rakyat, dan anggota-anggotanya terdiri ari orang-orang yang betul-betul dipilih oleh rakyat, sebab dia berkeyakinan bahwa suatu dewan perwakilan yang dibentuk atas perintah raja atau kepala negara, atau atas anjuran penguasa asing, maka lembaga tersebut akan lebih merupakan alat politik bagi yang membentuknya. Ketika penguasa Mesir, Khedewi Taufiq bermaksud menarik kembali janjinya untuk membentuk dewan perwakilan rakyat berdasarkan alasan bahwa rakyat masih bodoh dan buta politik, Afghani menulis surat kepada Khedewi yang isinya menyatakan bahwa memang benar di antara rakyat Mesir, seperti halnya rakyat dinegeri-negeri lain, banyak yang masih bodoh, teapi itu tidak berarti bahwa di antara mereka tidak terdapat orang-orang pandai dan berotak.[11]
Tujuan utama gerakan Afghani ialah menyatukan pendapat semua negara-negara Islam dibawah satu kekhalifahan, untuk mendirikan sebuah imperium Islam yang kuat dan mampu berhadapan dengan campur tangan bangsa Eropa. Ia ingin membangunkan kesadaran mereka akan kejayaan Islam pada masa lampau yang menjadi kuat karena bersatu. Menyadarkan bahwa kelemahan umat Islam sekarang ini adalah karena mereka berpecah-belah.[12]
Afghani berusaha menghimpun kembali kekuatan dunia Islam yang tercecer. Ia yakin bahwa kebangkitan Islam merupakan tanggungjawab kaum Muslim, bukan tanggung jawab Sang Pencipta. Masa depan kaum Muslim tidak akan mulia kecuali jika mereka menjadikan diri mereka sendiri sebagai orang besar. Mereka harus bangkit dan menyingkirkan kelalaian. Mereka harus tahu realitas, melepaskan diri dari kepasrahan. Ia menjelaskan kebobrokan umat Islam, dan menerangkan bahwa duni Islam sedang terancam. Ancamannya datang dari Barat yang memiliki kekuatan dinamis. Afghani mengajak umat Islam untuk melakukan perbaikan secara internal, menumbuhkan kekuatan untuk bertahana dan mengaopsi buah peradaban Barat, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembalikan kejayaan Islam. Barat harus dihadapi karena dialah yang mengancam Islam. Cara menghadapinya adalah dengan menirunya dalam hal-hal yang positif, selain aturan kebebasan dan demokrasinya.[13]
Afghani adalah pembaharu muslim pertama yang menggunakan term Islam dan Barat sebagai dua fenomena yang selalu bertentangan. Sebuah pertentangan yang justru harus dijadikan patokan berpikir kaum muslim, yaiut untuk membebaskan kaum muslim dari ketakutan dan eksploitasi yang dilakukan oleh orang-orang Eropa.[14]
Beberapa buku yang ditulis oleh Afghani antara lain[15]Tatimmat al-bayan (Cairo, 1879). Buku sejarah politik, sosial dan budaya AfghanistanHakikati Madhhabi Naychari wa Bayani Hali Naychariyan. Pertama kali diterbitkan di Haydarabad-Deccan, 1298 H/1881 M, ini adalah karya intelektual Afghani paling utama yang diterbitkan selama hidupnya. Merupakan suatu kritik pedas dan penolakan total terhadap materialisme. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam Arab oleh Muhammad Abduh dengan judul Al-Radd 'ala al-dahriyyin (Bantahan terhadap Materialisme). Al-Ta'Liqat 'ala sharh al-Dawwani li'l-'aqa'id al-'adudiyyah (Cairo, 1968). Berupa catatan Afghani atas komentar Dawwani terhadap buku kalam yang terkenal dari] Adud al-Din al-'Iji yang berjudul al-‘aqa’id al-‘adudiyyah. Berikutnya Risalat al-waridat fi sirr al-tajalliyat (Cairo, 1968). Suatu tulisan yang didiktekan oleh Afghani kepada siswanya Muhammad 'Abduh ketika ia di Mesir. Khatirat Jamal al-Din al-Afghani al-Husayni (Beirut, 1931). Suatu buku hasil kompilasi oleh Muhammad Pasha al-Mahzumi wartawan Libanon. Mahzumi hadir dalam kebanyakan forum pembicaraan Afghani pada bagian akhir dari hidupnya Buku berisi informasi yang penting tentang gagasan dan hidup Afghani.
Selanjutnya, pemikiran Afghani, diteruskan dan dikembangkan oleh murid-muridnya yakni Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Selanjutnya, pemikiran Islam modern yang mereka kembangkan bukan hanya pada tingkat wacana, namun ditransformasikan oleh pengikut-pengikut selanjutnya menjadi gerakan. Dapat dikatakan bahwa gerakan Islam di abad kedua puluh banyak terpengaruh olehnya dan menjadikannya sumber inspirasi.[16] Pengaruh tersebut terlihat dalam tokoh dan gerakan-gerakan Islam modern masa kini seperti Hasan al-Banna dengan Ikhwanul Muslimin, Abul A’la al-Maududi dengan Jama’atul Islam dan termasuk Muh Natsir dengan Masyuminya. Wallahu’alam
DAFTAR PUSTAKA
Abdulbasit Hasan, Jamal Ad-Din Al-Afghani, Cairo, 1982, dalam Dr. Azzam S. Tamimi,Democracy in Islamic Political Thought, (http://www.iol.ie/~afifi/Articles/democracy.htm)
Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000).
Munawir Sajdzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: UI Press, 1993).
RA Gunadi & M Shoelhi (Penyunting), Dari Penakluk Jerusalem hingga Angka Nol, (Jakarta: Penerbit Republika, 2002).
Website:
http://www.cis-ca.org/voices/a/afghni.htm

[1] Munawir Sajdzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: UI Press, 1993). Hal.117
[2] RA Gunadi & M Shoelhi (Penyunting), Dari Penakluk Jerusalem hingga Angka Nol, (Jakarta: Penerbit Republika, 2002). Hal.136
[3] Ibid, hal.137
[4] Ibid, Hal.140
[5] Munawir Sajdzali, op cit. hal.119-120
[6] Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hal.293
[7] Munawir Sjazali, op cit. hal. 124-125
[8] Ibid. hal.126
[9] Abdulbasit Hasan, Jamal Ad-Din Al-Afghani, Cairo, 1982, pp. 267-8, dalam Dr. Azzam S. Tamimi, Democracy in Islamic Political Thought, (http://www.iol.ie/~afifi/Articles/democracy.htm)
[10] Munawir Sjazali, op cit. hal.129
[11] Ibid. hal 128
[12] Husayn Ahmad Amin, op cit. hal 295
[13] Ibid. hal 294-295
[14] ibid. hal 295
[15] http://www.cis-ca.org/voices/a/afghni.htm
[16] Husayn Ahmad Amin, op cit, hal 294-295
posted by Hermawan @ 12:46 PM
Read More..........

Selasa, 29 November 2011

Gatot Didemo 35 Ormas Islam


MEDAN-Kemarin, Senin (28/11), Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho menjadi pusat perhatian. Pasalnya, selain didemo oleh massa dari 35 organisasi massa (Ormas) Islam terkait Masjid Al Ikhlas, PLN juga memberi pernyataan akan melakukan somasi Plt Gubsu soal PLTA Asahan III.
Pada aksi demo di halaman Gedung DPRD Sumut, Senin (28/11), sejatinya massa mengutuk pembongkaran Masjid Al Ikhlas di Jalan Timor Medan, yang sampai saat ini tidak mendapat respon positif dari Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho. Bukti tidak ada respon positif dari Gatot adalah sampai saat ini, tidak terbersit niat untuk melakukan pembangunan masjid sebagai pengganti Masjid Al Ikhlas tersebut.
“Harus ada langkah konkret, misalnya pembangunan masjid sebagai pengganti masjid Al Ikhlas yang dirubuhkan, dan dianggarkan di APBD. Harusnya pemerintah Sumut segera membahas hal ini dengan segenap Muspida Plus,” tegas Ustad Suhairi, salah seorang orator dalam aksi tersebut.
Sementara itu, orator dari Pemuda Muslimin Indonesia (PMI) Kota Medan, Muslim Kamal, dalam orasinya menyatakan Gatot tidak mampu menepati dan merealisasikan janjinya. “Plt Gubsu harus mampu merealisasikan janji-janjinya untuk menjaga kondusifitas umat Islam di Sumut. Karena keadaan seperti ini, membuat umat Islam di Sumut gerah dan merasa terganggu,” tegasnya.
Selain PMI, ormas Islam lainnya yang hadir antara lain MUI Sumut, MUI Medan, Muhammadiyah, Ikadi, Ibnu Sabil, Pemuda Islam, Muslim Institute, JBMI, BKRM Deliserdang, ICMI Medan, ICMI Muda, BKPRMI, PMII, HMI Fisipol USU, IMM se-Kota Medan, Puluhan jemaah masjid Al Ikhlas Jalan Timor Medan, dan sebagainya. Satu per satu orator dari 35 ormas Islam menyampaikan orasinya. Bahkan, salah seorang orator dari aksi tersebut sempat mengecam dan mengatakan bahwa kinerja Plt Gubsu hanya duduk berdiam diri di ruangan ber-AC, sementara rakyat yang dipimpinnya tengah tertindas atas ketidakadilan yang terjadi.
Tidak hanya itu, di tengah berlangsungnya rapat paripurna DPRD Sumut yang membahas tentang Penyampaian Nota Keuangan dan R-APBD 2012, kemarin, segenap massa yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat (Lempar), ‘menyeruduk’ gedung DPRD Sumut berupaya ‘mengingatkan’ para anggota dewan agar Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Sumut 2012 terbebas dari korupsi. Untuk menjaga itu, menurut demonstran, Plt Gubsu harus menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum Of Understanding (MoU), guna menjamin tidak ada persenan dalam penyusunan dan pengesahan APBD 2012.
Wakil Ketua DPRD Sumut Sigit Pramono Asri yang menerima para demonstran menegaskan, tidak ada persenan apa pun dalam pembahasan, penyusunan dan pengesahan APBD Sumut 2012 mendatang. Sigit juga meminta masyarakat agar sama-sama mengawal keberlangsungan APBD 2012 mendatang.
Read More..........

Pentingnya Roadmap Pemberantasan Korupsi di Indonesia


Permasalahan utama yang dihadapi oleh institusi pemberantasan korupsi saat ini salah satunya berkaitan fungsi koordinasi dan supervisi institusi terkait. Salah satu permasalahan tersebut sepertinya juga dirasakan oleh Indonesian Corruption Watch , selaku salah satu lembaga yang serius dalam memperhatikan permasalahan korupsi di Indonesia.
Keseriusan tersebut salah satunya tergambar dalam forum yang dikemas dalam bentuk Seminar Nasional mengenai “Penguatan Pemberantasan Korupsi melalui Fungsi Koordinasi dan Supervisi KPK” di Hotel Ritz Carlton, Jakarta hari kamis, 27 Oktober 2011 lalu.
Dalam seminar sesi kedua, saya diamanahkan untuk menjadi salah satu pembicara dari unsur komisi III DPR yang membidangi hal-hal yang berkaitan dengan hukum. Selain saya, dalam sesi yang sama juga hadir tiga narasumber lain, yakni Farouk Muhammad, anggota DPD RI yang pernah menjadi direktur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Dadang Trisasongko yang merupakan penggerak antikorupsi dari organisasi Kemitraan (Partnership), serta Zainul Arifin Mochtar, direktur PuKAT Korupsi FH UGM.
Koordinasi dan supervisi menjadi isu yang hangat diperbincangkan ketika kita membahas hubungan antara KPK dengan kepolisian dan kejaksaan, selaku institusi hukum lainnya di Indonesia yang secara langsung memiliki peran dalam hal pencegahan dan pemberantasan korupsi di negeri ini. Tidak dapat dipungkiri, kondisi hubungan antara KPK, kepolisian, dan kejaksaan dalam pemberantasan korupsi dirasa kurang terjalin dengan harmonis. Hubungan yang kurang sehat tersebut sudah sepantasnya tidak bisa dibiarkan. Mengapa? Karena ketiga institusi tersebut merupakan “trisula utama” dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.
Berkaitan dengan pentingnya posisi KPK, kejaksaan, dan kepolisian dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi, seharusnya perlu ada teamwork yang kuat dari ketiga institusi tersebut. Tidak hanya itu, berkaitan dengan koordinasi dan supervisi, sudah menjadi sesuatu yang wajar jika KPK, kejaksaan, dan kepolisian duduk bersama, untuk menyusun grand skenario untuk pencegahan dan pemberantasan korupsi secara berkesinambungan.
Kenapa koordinasi dan supervisi antar institusi pemberantasan korupsi seperti KPK, kejaksaan, dan kepolisian penting? Satu hal yang bisa menjadi jawaban. Masing-masing dari institusi tersebut memiliki kelebihan dan keterbatasan. Misalnya, KPK memiliki keterbatasan sumber daya dan jangkauan dalam penanganan korupsi di Indonesia. Di balik keterbatasannya itu, KPK sudah tidak diragukan lagi kredibilitasnya berkaitan dengan keberhasilan dalam menangani beberapa kasus korupsi. Sementara itu, sebenarnya keterbatasan sumber daya yang menjadi kekurangan KPK sudah bisa dicover oleh kepolisian dan kejaksaan, yang telah memiliki sumber daya yang lebih besar.
Di sisi lain, masih berkaitan dengan penanganan kasus korupsi di Indonesia, anggaran tentu menjadi hal yang penting. Dari jejak rekam yang ada, di tahun 2010, ketiga institusi tersebut memiliki anggaran yang berbeda dalam penanganan per kasus korupsi. Kepolisian misalnya, setiap kasus tipikor yang ditanganinya, institusi tersebut mengeluarkan biaya sebesar 37 juta rupiah per kasus. Kepolisian dalam hal ini merupakan institusi paling efisien dibanding dengan kejaksaan dan KPK. Kejaksaan mengeluarkan biaya per kasus sebesar 48 juta, sementara KPK mengeluarkan biaya per kasus sebesar 400 juta.
Untuk kedepannya, berkaitan dengan anggaran penanganan tindak pidana korupsi, komisi III DPR RI mengusahakan untuk menaikkan anggaran tersebut. Hal ini tentu saja bertujuan untuk meningkatkan kinerja kepolisian, KPK, dan kejaksaan dalam pencegahan serta pemberantasan tipikor di Indonesia. Hingga saat ini, anggaran yang diusulkan di komisi III DPR mengenai biaya per penanganan tipikor di tahun 2012 adalah sebesar 68 juta rupiah untuk kepolisian, 81 juta rupiah untuk kejaksaan, dan 736 juta rupiah untuk KPK.
Kedepan, saya membayangkan bahwa ketiga institusi, kepolisian, kejaksaan, dan KPK punya peta korupsi dan roadmap pemberantasan korupsi bersama. Keberadaan peta korupsi dan roadmap pemberantasan korupsi merupakan media untuk mempermudah koordinasi dan supervisi antar lembaga antikorupsi tersebut.
Tidak hanya itu, di era teknologi seperti saat sekarang ini, untuk melakukan koordinasi dan supervisi antar lembaga juga bisa memanfaatkan sistem online. Hal ini tentu saja akan sangat berguna bagi ketiga institusi tersebut agar muncul keterbukaan serta keselarasan bersama dalam penanganan tindak pidana korupsi di Indonesia. Sumber - tjatursaptoedy.com
Read More..........

PEMUDA, TAMENG KEBUDAYAAN NASIONAL


Ada degradasi dalam tatanan adat istiadat dan budaya kita. Bila ini terus dibiarkan maka akan membahayakan jatidiri dan identitas bangsa, sebab keberadaan keduanya ada dalam budaya. Kebiasaan merendahkan karya bangsa adalah salah satu hal yang menyebabkan bangsa ini terus digerus kemeralatan budaya. Hampir tidak ada kebanggaan berbangsa, apalagi kebanggaan pada karya bangsa sendiri.

Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa ketahanan budaya bangsa ini rapuh. Bangsa kita tidak berdaya menghadapi dinamika perubahan. Ketidakberdayaan itu diperparah oleh hilangnya identitas dan rendahnya produktivitas. Kerumunan bangsa ini disibukkan aktivitas pencitraan alternatif dan belanja konsumsi. Tidak ada pemberdayaan pemuda, kosong pemberdayaan budaya.

Degradasi dalam tatanan budaya itu harus dirumuskan dalam satu kesempatan untuk membangun gerakan pelestarian budaya. Upaya itu dapat dilakukan melalui pemberdayaan pemuda dan budaya. Langkah pertama adalah menentukan siapa (tokoh, figur, panutan, pakar) yang bisa untuk mempengaruhi pemuda dan merumuskan siapa yang harus diberdayakan.
Implementasi soal siapa yang mempengaruhi pemuda dapat dilakukan dengan merangkai ketokohan yang selalu menjadi panutan kaum muda, mulai dari kalangan tokoh agama, tokoh adat, kalangan artis, perguruan tinggi, tokoh masyarakat dan bahkan partai politik..  Mereka bisa berfungsi sebagai supporter dan fasilitator. Rangkaian ketokohan ini harus melibatkan pemerintah dan perguruan tinggi untuk secara efektif menghasilkan “assimilasi dan dinamika” bagi pemberdayaan pemuda dan budaya.

Soal bagaimana cara pemuda mewujudkan pemberdayaan budaya, beberapa langkah berikut bisa dilakukan, yaitu; pertama, menggali semua jenis aktivitas budaya, seperti tradisi-tradisi tradisi-tradisi lokal setempat. Kedua, melestarikan output-output budaya melalui event-event budaya. Ketiga, menggerakkan secara serasi antara aktivitas kehidupan masyarakat dengan budaya setempat, 
Read More..........

Selasa, 13 September 2011

KUALITAS INSAN CITA HMI


Kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yang terwujud oleh HMI di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagaimana dalam pasal tujuan (pasal 5 AD HMI) adalah sebagai berikut : 
1. Kualitas Insan Akademis
Berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis. Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan. Dia selalu berlaku dan menghadapi suasana sekelilingnya dengan kesadaran. Sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu pilihannya, baik secara teoritis maupun tekhnis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan.
2. Kualitas Insan Pencipta : Insan Akademis, Pencipta
sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan bertolak dari apa yang ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan dan pembaharuan.
Bersifat independen dan terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari dengan sikap demikian potensi, kreatifnya dapat berkembang dan menentukan bentuk yang indah-indah. Dengan ditopang kemampuan akademisnya dia mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran islam.
3. Kualitas Insan Pengabdi : Insan Akdemis, Pencipta, Pengabdi
Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat. Sadar membawa tugas insan pengabdi, bukannya hanya membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya menjadi baik.
Insan akdemis, pencipta dan mengabdi adalah yang bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan sesamanya.
4. Kualitas Insan yang bernafaskan islam : Insan Akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam.
Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menajdi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai universal Islam. Dengan demikian Islam telah menafasi dan menjiwai karyanya.
Ajaran Islam telah berhasil membentuk “unity personality” dalam dirinya. Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai muslim. Kualitas insan ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan umat islam Indonesia dan sebaliknya.
5. Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT .
Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT. Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat yang dari perbuatannya sadar bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral.
Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis. Rasa tanggung jawab, taqwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT. Korektif terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
Percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukannya sebagai “khallifah fil ard” yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.
Pada pokoknya insan cita HMI merupakan “man of futureinsan pelopor yaitu insan yang berfikiran luas dan berpandangan jauh, bersikap terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara kooperatif bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan. Ideal tipe dari hasil perkaderan HMI adalah “man of inovator” (duta-duta pembantu). Penyuara “idea of progress” insan yang berkeperibadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah Allah SWT. Mereka itu manusia-manusia uang beriman berilmu dan mampu beramal saleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil)
Dari lima kualitas insan cita tersebut pada dasarnya harus memahami dalam tiga kualitas insan Cita yaitu kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta dan kualitas insan pengabdi. Ketiga insan kualitas pengabdi tersebut merupakan insan islam yang terefleksi dalam sikap senantiasa bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang ridhoi Allah SWT.

Read More..........

POLITIK INTELTUAL ATAU INTELEKTUAL POLITIK


Meletakkan independesi sebagai bagian dari dinamika dalam ber-HMI, merupakan sebuah ikhtiar yang secara integral menjadi cita-cita dari himpunan itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bersama, HMI telah eksis dalam tiga model kekuasaan politik (orde lama, orde baru dan reformasi). Dimasing-masing fase tentu saja peran HMI memiliki etosnya disegala generasi, sehingga praktek kaderisasi HMI selalu menentukan output kader seperti apa yang akan dilahirkan. Status HMI sebagai organisasi mahasiswa memberi petunjuk dimana HMI melakukan spesifikasi. Dan spesifikasi tugas inilah yang disebut fungsi HMI. Kalau tujuan menujukan dunia cita yang harus diwujudkan maka fungsi sebaliknya menunjukkan gerak atau kegiatan (aktifitas), dalam mewujudkan (final gool). Dalam melaksanakan pesifikasi tugas tersebut, karena HMI sebagai organisasi mahasiswa maka sifat serta watak mahasiswa harus menjiwai dan dijiwai oleh kader HMI. Mahasiswa sebagai kelompok elit dalam masyarakat pada hakikatnya memberi arti bahwa ia memikul tanggung jawab yang benar dalam melaksanakan fungsi generasinya sebagai kaum muda muda terdidik harus sadar akan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan ke masa depan. Karena itu dengan sifat dan wataknya yang kritis itu mahasiswa dan masyarakat berperan sebagai "kekuatan moral"atau moral force yang senantiasa melaksanakan fungsi "sosial control". 

Untuk itulah maka kelompok mahasiswa harus merupakan kelompok yang bebas dari kepentingan apapun kecuali kepentingan kebenaran dan obyektifitas demi kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan ke masa depan. Dalam rangka penghikmatan terhadap spesialisasi kemahasiswaan ini, akan dalam dinamikanya HMI harus menjiwai dan dijiwai oleh sikap independen. Tentu saja penempatan mahasiswa sebagai elit bukanlah pemaknaan keleompok elitis dalam strata sosial, makna elit secara terminologi dalam konteks ini adalah kesanggupan seorang mahasiswa yang memiliki kemampuan intelektual untuk memberikan kontribusi. Maka dari itu perlu pemaknaan yang tidak parsial dalam hal ini, mahasiswa disebut elit karena pada fase tersebut mahasiswa memiliki akses untuk melakukan presere politik terhadap pemerintah, disinilah letak makna dari “elit” itu sendiri. Secara eksistensi HMI merupakan bagian dari mahasiswa, untuk itu semangat perubahan yang memiliki porsi lebih harus dimiliki oleh seorang kader, hal inilah yang membedakan antara kader HMI dengan mahasiswa pada umumnya.Intelektualitas Independensi HMI Watak independen HMI adalah sifat organisasi secara etis, merupakan karakter dan kepribadian kader HMI. Implementasinya harus terwujud di dalam bentuk pola pikir dan pola laku setiap kader HMI baik dalam dinamika dirinya sebagai kader HMI maupun dalam melaksanakan "Hakekat dan Mission" organisasi HMI dalam kiprah hidup berorganisasi bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Watak independen HMI yang tercermin secara etis dalam pola pikir pola sikap dan pola laku setiap kader HMI akan membentuk "Independensi etis HMI", sementara watak independen HMI yang teraktualisasi secara organisatoris di dalam kiprah organisasi HMI akan membentuk "Independensi organisatoris HMI". Independensi etis adalah sifat independensi secara etis yang pada hakekatnya merupakan sifat yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Fitrah kemanusian tentu saja harus memiliki kecendrungan kepada kebenaran (baca: hubungan transendental dengan sang pencipta), untuk itu kerja kemanusiaan seorang kader harus menemukan eksistensinya dalam rutinitas kesharian. 

Disinilah hubngan relasional antara Iman, ilmu dan amal. Seorang kader yang berilmu tentu saja tidak akan memiliki makna apa-apa tanpa melakukan manifestasi dari ilmunya yaitu pengamalan. Pengamalan tidak akan berjalan pada rel yang lurus jika tidak dibarengi oleh kekuatan iman. Independensi organisatoris adalah watak independensi HMI yang teraktualisasi secara organisasi di dalam kiprah dinamika HMI, baik dalam kehidupan intern organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Independensi organisatoris diartikan bahwa dalam keutuhan kehidupan nasional HMI secara organisatoris senantiasa melakukan partisipasi aktif, kontruktif, korektif, dan konstitusional agar perjuangan bangsa dan segala usaha pembangunan demi mencapai cita-cita semakin hari semakin terwujud. Dalam melakukan partisipasi partisipasi aktif, kontruktif, korektif dan konstitusional tersebut secara organisasi HMI hanya tunduk serta teguh kepada prinsip-prinsip kebenaran dan objektifitas. Partisipasi “Non-Parlementer”HMI tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana, ungpakan tersebut secara tidak langsung memberikan konfirmasi kepada kita bahwa secara eksplisit dalam proses kaderisasi, kader HMI dipersiapkan untuk melanjutkan estafeta perjuangan bangsa. Dimana dan dalam posisi apapun kader HMI dituntut untuk memberikan kontribusi. Kontibusi tersebut dimanifestasikan melalui semangat perubahan disegala bidang. Atmosfir organisasi yang mulitdimensi menjadikan HMI sebagai wadah yang memiliki latar belakang dalam berbagai aspek, begitu juga pandangan dan partisipasi politik yang idlakukan oleh HMI. Jika kita menganilisis kecendrungan politik kader HMI saat ini ada dua tipikal kader yang begitu sangat menonjol dalam himpunan. Pertama, tipikal kader yang bersifat strukturalis, hal ini memungkinkan sebab HMI memiliki stuktur kekuasaan dan struktur kepemimpinan yang masing-masing struktur tersebut memiliki mekanisme kontestasi. Model strukturalis ini selalu menempatkan kontribusi dapat dilaksanakan jika struktur dalam pengertian jabatan dapat diraih, jadi kontestasi dalam perebutan kekuasaan menjadi acuan konsentrasi dalam aktifitasnya. Kedua, tipikal kader fungsional. Dalam pemahaman ini stuktur bukanlah acuan dari proses kaderisasi seorang kader. Diposisi apapun dan dalam dinamika seperti apapun semangat fungsional ini menjadi spirit dalam memberikan kontribusi yang lebih nyata. Tentu saja kita tidak sedang ingin melakukan perbandingan, sebab perbandingan selalu saja berbicara antara berat dan ringan. Yang ingin kita lakukan adalah melakukan pemetaan terhadap kecendrungan politik kader HMI. Sebab disadari atau tidak proses kaderisasn apapun bentuknya adalah model dari partisipasi politik HMI yang bersifat ekstraparlementarian. Disinilah letak dari nafas independensi HMI yang melihat sesuatu out of the box. Sehingga analisis yang dikembangkan mampu memberikan solusi terhadapa sekian banyak persoalan keummatan yang terjadi. 
Read More..........

Kamis, 04 Agustus 2011

Puasa di Mesir, Gratis Maidah Rahman

Di Mesir terdapat sebuah meriam tua yang digunakan sebagai penanda bulan puasa. Tiap waktu imsak dan buka puasa, meriam ini disulut hingga mengeluarkan bunyi dentuman yang keras.

Meriam yang diberi nama Hajjah Fatimah ini adalah warisan dari Muhammad Ali Pasha, yang menurut cerita, adalah putri Ustman Khos Qadam—penguasa Dinasti Usmani.

Walau meriam itu telah diganti, namanya tetap tak berubah. Meriam ini biasanya ditempatkan di dataran tinggi Moqattam dekat Citadel. Empat orang ditugaskan untuk menjaganya dan menyulutnya untuk membangunkan orang makan sahur atau mengingatkan waktu berbuka puasa.

Suasana Ramadhan di Mesir berlangsung khidmat. Setiap orang, mulai dari kota hingga desa lebih betah tinggal di masjid. Wajar jika selama Ramadhan, shaf jamaah masjid tidak berkurang. Terlebih sepuluh hari menjelang Idul Fitri, masjid-masjid penuh sesak.

Hampir di tiap masjid besar Kairo, menyelenggarakan shalat tarawih cukup lama. Setiap malam sang imam menghabiskan bacaan 1 juz Alquran. Hingga akhir Ramadhan, bacaannya genap 30 juz.

Salah satu masjid terkenal dan paling diminati jamaah Ramadhan adalah Masjid Amr bin Ash. Masjid ini merupakan masjid pertama di Afrika dan menjadi markas Ikhwanul Muslimin. Masjid ini dibangun oleh sahabat Amr bin Ash saat membebaskan Mesir pada masa khalifah Umar bin Khattab. Masjid yang agak jauh dari pusat kota ini, setiap malamnya membacakan 1 juz Alquran.

Di Mesir juga terdapat tradisi Ramadhan yang disebut Maidah Rahman atau hidangan kasih sayang. Maidah Rahman adalah hidangan makanan gratis bagi orang yang berpuasa.

Tak hanya takjil, tapi juga makanan berbuka lainnya. Menunya pun bermacam-macam bahkan ada yang sekelas hotel berbintang. Program ini merata di seluruh negeri Mesir dan berlangsung selama bulan puasa.
Read More..........
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...