Senin, 18 Juni 2012

TOR TOR TIDAK BUTUH PENGAKUAN MALAYSIA

Malaysia kembali mengklaim hasil kebudayaan asli Indonesia menjadi miliknya. Kali ini, negeri jiran itu akan memasukkan tari Tor-tor dan Gordang Sambilan sebagai peninggalan nasional mereka. Di Indonesia, dua kesenian itu dikenal sebagai kebudayaan masyarakat Batak, Sumatera Utara. Bahkan, tari Tor-tor selalu ditarikan dalam upacara adat masyarakat Batak. Namun kini, Malaysia dengan berani akan meregistrasi kebudayaan itu berdasarkan Bab 67 Undang-undang Peninggalan Nasional 2005.

Tor-tor bagi masyarakat mandailing mengandung banyak nilai dan makna, nilai tradisi leluhur, nilai historis bahkan nilai karakter yang ada dalam diri masyarakat mandailing. Dan yang menjadi agak aneh adalah ketika Komunitas Mandailing di Malaysia meminta saudara mereka di Indonesia memahami usulan soal tari Tor-tor masuk dalam warisan kebudayaan negeri jiran. Salah satu alasannya adalah agar Tari Tor-tor bisa lestari dan mendapat pengakuan negara, tidak hanya dipentaskan di rumah saja. "Kami sudah 200 tahun di sini, sebelum wujud Malaysia dan Indonesia, kami sudah ada di sini" kata mereka sehingga mereka menganggap perlu diakui juga oleh pemerintahnya dan hal itu bukanlah klaim malaysia.

Yang sedikit terlupakan oleh saudara kita yang berada di Malaysia adalah bahwa pemerintah Malaysia mencoba mendaftarkannya sebagai salah satu peninggalan nasional mereka. Hal yang sangat kontras jika mencoba membandingkan tarian barongsai di era Gus Dur yang memperbolehkan pertunjukkannya di Indonesia, dan mungkin saudara kita itu tidak mengetahui bahwa Indonesia tidak pernah menjadikannya sebagai peninggalan nasional karena memang tarian itu bukan lahir di Indonesia.

Dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat mandailing sudah sangat tersebar ke berbagai belahan dunia, menurut situs web Mandailing.org, masyarakat Mandailing merantau dalam gelombang besar ke pesisir barat Malaysia pada beberapa dekade pertama abad ke 19 akibat Perang Paderi, saat Indonesia belum lahir dan masih bernama Hindia Belanda yang merupakan wilayah jajahan Belanda. Hingga kini, keturunan orang-orang Mandailing masih banyak berada di wilayah negara bagian Negeri Sembilan, Perak, Pahang dan Selangor di Malaysia. 

Semisal migrasi orang jawa ke Suriname sehingga banyak budaya jawa menjadi bagian tidak terpisahkan dari negara itu, dan sekali lagi Suriname tidak juga menganggapnya sebagai peninggalan negeri mereka, tetapi dengan banyaknya kaum migran jawa di Suriname menjadikan budaya jawa ikut menjadi lestari tanpa harus mendapatkan pengakuan dari pemerintahnya 

Tor-Tor akan selalu hidup dan lestari selama masyarakat mandailing melestarikannya dimana saja tanpa perlu adanya pengakuan dari suatu negara.

Sedikit informasi tentang tari Tor-Tor 

Tari tor-tor bisa diiringi dengan iringan musik magondangi. Tarian ini dimainkan dengan dibarengi alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak. Bahkan, banyak masyarakat percaya tarian itu sebagai ritual yang berhubungan dengan pemanggilan roh. Roh tersebut dipanggil kembali dan masuk ke dalam patung-patung batu. Mereka percaya ini merupakan simbol penghormatan terhadap leluhur. Kemudian, patung-patung itu bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan kaku. Gerakan itu seperti gerakan kaki sedang jinjit dan gerakan tangan.

Pada perkembangannya, jenis tor-tor menjadi beragam. Ada yang dinamakan tor tor Pangurason (tari pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Mereka beranggapan, sebelum pesta dimulai tempat pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.

Selanjutnya, ada tari tor-tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).

Terakhir, ada tor tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.

Dahulu, tarian ini juga dilakukan untuk acara seremoni ketika orangtua atau anggota keluarganya meninggal dunia. Kini, tari tor-tor biasanya digunakan untuk acara acara seremonial di daerah Sumatera Utara dan dibeberapa daerah yang memiliki komunitas masyarakat mandailing.



Read More..........

Kamis, 14 Juni 2012

Kongres Mahasiswa Sumatera Utara....

Sebuah Gagasan Yang Ideal Dari Kaum Intelektual Muda

(14/06/2012) Semakin dekat perhelatan akbar masyarakat Sumatera Utara dalam pesta demokrasi pemilihan gubernur sumatera utara (pilgubsu), semakin membuat banyak kalangan mendiskusikannya dalam berbagai tingkatan kemampuan diskusinya, mulai dari warung kopi dari kalangan masyarakat yang awam terhadap perpolitikan lokal sumatera utara, ibu-ibu rumah tangga juga tidak mau ketinggalan untuk bisik bisik kalaulah tidak mau dikatakan pergunjingan kaum ibu tentang calon yang dianggap layak memimpin propinsi yang menjadi pintu masuk bagian barat dari negeri kita ini.

Pagi tadi diwarung sarapan pagi yang biasa, saya dan beberapa fungsionaris DPW PAN Sumut mendampingi H. Syah Affandin (Ondim) Ketua DPW PAN Sumut untuk diskusi ringan dengan beberapa elemen mahasiswa dari kelompok cipayung seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Medan, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Medan serta Penegak Amanat Reformasi Rakyat (PARRA) Sumut. Diskusi yang dimulai dari hanya sebuah cakap-cakap tentang pilgubsu yang akan berlangsung pada 2013 mendatang.

Dalam kesempatan yang unik itu, Ondim menyatakan beberapa agenda mendesak bagi sumatera utara yang harus menjadi bahan evaluasi bagi kalangan kampus termasuk mahasiswa, mahasiswa yang dianggap memiliki kemampuan yang melebihi masyarakat biasa harus berperan aktif dan tidak ikut-ikutan berpolitik sebab mahasiswa merupakan agen perubahan yang harus teguh mengawal proses demokrasi di sumatera utara, mengaktualisasikan diri melalui dialog lebih bijaksana dibandingkan harus teriak dijalanan.

Salah seorang aktivis mahasiswa menyatakan ide untuk menggelar Kongres Mahasiswa Sumatera Utara, yang akan dihadiri oleh perwakilan organisasi formal dan informal kampus dari seluruh sumatera utara, gagasan yang brilian dari cakap-cakap dipagi hari. Saya jadi teringat dengan masa lalu dimana menjadi salah satu inisitor dari kalangan aktivis 98 menggelar Kongres Mahasiswa Sumatera dengan membawa isu "Sumatera Merdeka" yang memang menjadi isu cukup seksi pada masa itu, mudah-mudahan saja ide kongres mahasiswa sumatera ini dapat terwujud dan melahirkan banyak rekomendasi bagi kemaslahatan masyarakat sumatera utara.

Ondim pun sangat menyambut baik gagasan ini, bahkan memberi muatan bagi mahasiswa agar ada output yang cerdas dan menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di propinsi sumatera utara.

Hmmmm..... sarapan pagi yang menarik.
Read More..........

BIOGRAFI IWAN FALS

Iwan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir 3 September 1961 di Jakarta) adalah seorang penyanyi beraliran balada yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia. Lewat lagu-lagunya, Iwan menggambarkan suasana sosial kehidupan Indonesia (terutama Jakarta) di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti lagu Wakil Rakyat dan Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya lagu Siang Seberang Istana dan Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti lagu Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya.

Lewat lagu-lagunya, ia memotret kehidupan dan sosial-budaya di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.

Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum 'akar rumput'. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh Nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang Oi dapat ditemui setiap penjuru Nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.

Perjalanan Hidup
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP, Iwan menjadi gitaris dalama paduan suara sekolah.

Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul. Tapi album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen.

Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records. Tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.

Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Waktu siaran acara Manasuka Siaran Niaga di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya yang kritis.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang di dukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.

Keluarga
Iwan lahir di Jakarta pada 3 September 1961 dari pasangan Haryoso (ayah)(almarhum) dan Lies (ibu). Iwan menikahi Rosanna (Mbak Yos) dan mempunyai anak Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.

Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi trade mark ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat merilis satu album perdana menjelang kematiannya.

Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul Galang Rambu Anarki pada album Opini , yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1981 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1981).

Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991.

Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara mendadak yang membuat aktifitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung Bogor Jawa Barat sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri.

Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang di dalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki. Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang dinamakan Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan sebutan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals.

Link Download Ebook Biografi Iwan Fals :
http://www.ziddu.com/download/15684959/BiografiIwanFals.rar.html
Read More..........

Selasa, 05 Juni 2012

Sinopsis Buku : Menapak Jejak Amien Rais

BUKU berjudul Menapak Jejak Amien Rais adalah jawaban yang tepat untuk mengenal sosok Amien Rais lebih dekat dan lebih personal. Buku ini menyajikan sisi-sisi lain kehidupan salah satu tokoh reformasi tersebut.
Tidak mudah menyelami kedalaman jiwa seorang tokoh bangsa seperti Amien Rais, jika bukan sosok yang dekat pula dengannya. Menapak Jejak Amien Rais ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais, anak kedua Amien Rais. Sebagai penulis, Hanum menampilkan wajah Amien Rais dari berbagai sudut pandang.

Dalam buku ini, sosok Amien Rais tidak sekadar hadir sebagai seorang politisi maupun tokoh agama terkemuka melainkan sebagai seorang suami, seorang ayah, seorang teman berdiskusi, dan tentunya seorang panutan. Sudut pandang seorang anak itulah yang membuat buku ini semakin kaya dan menarik.
Hanum Salsabiela Rais tumbuh bersama dengan sang ayah. Sebagai seorang anak, Hanum tidak hanya mampu merekam kehidupan bersama Amien Rais tapi juga piawai merangkainya menjadi kisah yang menarik. Hanum juga mencatat setiap pesan-pesan yang disampaikan Amien Rais dan menuturkannya ulang dalam buku ini. Pesan-pesan yang disampaikan Amien Rais dalam buku ini mengajak setiap orang merenungi banyak hal.

Salah satu pesan dalam buku ini yang mengingatkan seseorang untuk konsisten dan bersungguh-sungguh dalam sebuah rumus sederhana:  “Kalau kamu ingin sukses, sukses apa saja, kamu harus menyisihkan minimal 3 jam sehari untuk menekuni apa yang kamu sukai.” Pesan menarik lainnya seperti sebuah pesan sederhana Amien Rais kepada penulis dan semua orang: “Pernikahan adalah waktunya untuk berhenti membandingkan.”Hanum merekam suka dan duka menjadi anak seorang Amien Rais. Tentunya, ia merasakan saat-saat yang sulit ketika ayahnya dianggap sebagai musuh Orde Baru. Amien Rais yang dikenal kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah Orde Baru, menghadapi banyak tekanan dari berbagai penjuru ketika itu. Intimidasi psikologis yang juga berdampak kepada keluarganya.

Menyikapi Kekalahan
Menapak Jejak Amien Rais pun mengajarkan pada kita bagaimana menyikapi sebuah kekalahan. Pada pemilihan presiden tahun 2004, pasangan Amien Rais dan Siswono Yudhohusodo mengalami kekalahan pada putaran pertama. Di tengah-tengah rasa kecewa karena hasil perolehan suara yang menyelimuti keluarganya, seorang Amien justru berujar teduh: “Kalau mau tenang hati, ambil air wudhu, terus salat, dan baca Al-Quran.”

Sisi-sisi personal dan emosional tersaji di dalam buku Menapak Jejak Amien Rais dengan bahasa yang sederhana dan nyaman dibaca. Buku ini adalah sebuah referensi berharga untuk menyelami lebih dalam kearifan dan kebijaksanaan seorang tokoh bangsa bernama Amien Rais.


Read More..........

Detik-Detik yang Menentukan - Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi

Mengingat bahwa buku ini ditulis berdasarkan catatan harian beliau dan komentar berbagai surat kabar nasional pada masa itu maka buku ini seolah-olah merupakan rekaman ulang sebuah realitas politik yang amat mencekam saat itu. Meskipun demikian sisi-sisi kelembutan, di tengah-tengah ketegasan sikapnya, seorang anak bangsa yang bernama B.J. Habibie sangat jelas tergambarkan pula di dalam buku ini. (Hermawan K. Dipojono)

Tokoh yang dengan reformasi berubah dari wakil presiden menjadi presiden dan kemudian meninggalkan kursi kepresidenannya dengan bibir yang tersenyum dan kepala yang tegak. Semua berlaku dengan konstitusional, damai, tanpa setetes darahpun yang tertumpahkan, dan kemudian membuka pintu lebar-lebar untuk para pemimpin penerusnya agar dapat mengisi momentum-momentum yang hadir dengan lebih sukses. (Hidayat Nur Wahid)

Banyak hal yang sangat menarik dari buku B.J. Habibie "Detik-Detik yang Menentukan", banyak juga yang menarik dari kepribadian penulisnya, setelah membaca buku itu. Namun demikian tidak meleset jika disimpulkan bahwa: "Buku dan penulisnya menyatu dalam kata "Demokrasi". Itulah uraian buku ini dan itu pula kunci kepribadian penulisnya yang taat beragama Islam itu. Dengan demikian terbukti bahwa tidak ada pertentangan sedikit pun antara penegakan demokrasi dan pelaksanaan ajaran Islam. (M. Quraish Shihab)

As those move further into the past, the scale and scope of Habibie's achievement seems ever more astounding and surprising. How was it that an administrative technologist with weak political skills and almost no political support could change Indonesia so rapidly, decisively and fundamentally, and in ways that no one could have expected? (Robert.E. Elson)

Kesalahfahaman seolah-olah Presiden Habibie menciptakan "bom waktu disintegrasi" melalui kebijakan desentralisasinya adalah sesuatu yang berangkat dari argumen yang keliru dan tidak berdasar. (Ryaas Rasyid)

Whether one believes in the 'Great Man' or 'Great Idea' concept of leadership, Pak Habibie succeeded, within the shortest time possible, in mobilizing every resource that was available, to launch a 'new Indonesia'. (Bilveer Singh)
Read More..........

Jumat, 01 Juni 2012

KNPI: Andi Mallarangeng Mencoreng Nama Pemuda Indonesia


Tribunnews.com - Kamis, 24 Mei 2012 14:04 WIB


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) menilai tindakan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng, telah mencoreng nama pemuda Indonesia.
Karena itu, pihaknya mendesak KPK segera mengungkap dan mengusut tuntas semua perkara hukum yang melibatkan Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat (PD).
"Sebagai menteri yang mengklaim dirinya mewakili aspirasi pemuda, seharusnya tidak terlibat dalam masalah-masalah bangsa, termasuk perkara hukum," kata Ketua Bidang Pertahanan DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Muklis Ramlan, saat mengelar audiensi dengan KPK, di Kantor KPK, Jakarta, Kamis (24/5/2012).
Nama Andi Mallarangeng kerap dikaitkan dengan kasus Wisma Atlet dan Hambalang, sebagai pihak yang ikut menerima aliran dana proyek-proyek di Kemenpora.
"Kami tidak mau menteri yang mengatasnamakan pemuda, lagi-lagi terlibat kasus yang hingga saat ini belum tuntas. Bila Pak Andi Malarangeng memang bersalah, kami meminta agar segera dituntaskan kasusnya, termasuk berbagai kasus yang selama ini menjerat beliau," tutur Muklis.
Hari ini, KPK memeriksa Andi Mallarangeng, terkait proyek pembangunan pusat pelatihan olahraga Hambalang, Jawa Barat. (*)

Read More..........

Senin, 28 Mei 2012

Sergai Gelar Fasilitasi Kab/Kota Layak Anak

Perbaungan- Sebagai bentuk komitmen dan keseriusan pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Pemkab Sergai) memberikan jaminan perlindungan hak-hak anak dengan kebijakan di bidang partisipasi anak antara lain dengan membentuk wadah-wadah partisipasi anak.
Salah satu perwujudan dari hal tersebut adalah dibentuknya Forum Anak Daerah Serdang Bedagai (Fadase) beberapa waktu yang lalu untuk memenuhi hak anak agar terencana dan terlaksana secara menyeluruh.
Pemkab Sergai menindaklanjuti kegiatan fasilitasi layak anak guna mendukung eksistensi keberadaan Forum Anak dengan menggelar kegiatan Fasilitasi Kabupaten/Kota Layak Anak tahun 2012.
 Hal ini dikemukakan Wakil Bupati (Wabup) Sergai Ir. H. Soekirman dalam sambutannya yang diikuti sebanyak 120 orang dari tiga desa layak anak yakni Desa Sei Buluh Kecamatan Perbaungan, Desa Petuaran Hilir Kecamatan Pegajahan dan Desa Dolok Merawan Kecamatan Dolok Merawan di Balai Desa Sei Buluh Kecamatan Perbaungan, Selasa (22/5).
Turut hadir dalam acara Ketua GOPTKI Ny. Hj. Marliah Soekirman, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Anak dan KB Sergai Hj. Irwani Jamilah SH, Camat Perbaungan Drs. Akmal, Ketua TP. PKK dari Kecamatan Perbaungan, Pegajahan dan Dolok Merawan, Kades Sei Buluh Sukardi, perwakilan dari SKPD se-Sergai, Ketua Fadase Gusti Ramadhan, Tim Gugus Tugas Desa Layak dari beberapa kecamatan.
Lebih lanjut dikatakan Wabup Soekirman bahwa kegiatan fasilitasi ini sebagai sarana untuk memperoleh masukan-masukan dan kesamaan pemahaman secara sinergis antara lembaga pemerintah, LSM, sektor swasta dan dunia usaha serta tokoh masyarakat pemerhati anak yang nantinya diharapkan dapat melahirkan suatu kebijakan yang mengintegrasikan isu-isu perlindungan dan peningkatan kualitas anak.
Selain itu diharapkan bagi peserta fasilitasi dapat meningkatkan pengetahuan mengenai Kabupaten/Kota layak anak secara sederhana dan mencari solusi terhadap masalah sosial anak yang amat kompleks yang akhir-akhir ini kerap terjadi sehingga nantinya dapat disampaikan kepada masyarakat umum. Hal ini bertujuan untuk mencapai upaya Pemkab Sergai dalam mempersiapkan dan mewujudkan wilayah tanah bertuah negeri beradat ini menjadi Kabupaten Layak Anak dengan generasi yang berkualitas, jelas Wabup Soekrman.
Belum terpenuhinya hak-hak anak secara maksimal menyebabkan terjadinya masalah sosial anak antara lain perdagangan dan eksploitasi anak, dalam bidang kesehatan meningkatnya angka kematian bayi dan  gizi buruk. Begitu juga dengan masalah lingkungan yang kurang bersih untuk itu Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus disampaikan kepada anak.
Dalam berkomunikasi dapat dilihat dari intensitas komunikasi yang semakin berkurang antar anggota keluarga, padahal keluarga merupakan unit terkecil dalam membangun komunikasi dan paling berpengaruh dalam membentuk karakter anak terhadap lingkungan sekitarnya, ujar Soekirman.
Maka untuk itu diharapkan kepada kita semua, terutama bagi para SKPD di daerah ini agar benar-benar dapat memahami dan melaksanakannya sesuai dengan tugas masing-masing serta menyatukan pandangan dalam menciptakan pembangunan yang peduli terhadap kebutuhan dan kepentingan anak, harap Wabup Sergai.
Sebelumnya Panitia Penyelenggara Dra Hj. Salmiah MM dalam laporannya mengatakan kegiatan fasilitasi ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut sejak tanggal 22 – 24 Mei 2012.(ARM)
Read More..........

Kader PAN Diminta Hindari Konflik

Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais mengingatkan para pengurus daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota untuk belajar dari Pemilu 2009.
Beberapa target pemenangan pemilu yang meleset harus diperbaiki agar membuahkan hasil yang memuaskan pada Pemilu 2014 mendatang. Dia juga meminta jajaran DPW PAN Jawa Barat belajar dari kegagalan dengan melakukan konsolidasi sejak dini secara intensif.“Jangan kenal lelah dan seluruh jajaran partai harus sangat menghindari konflik,”tegasnya di sela rapat koordinasi bersama DPD PAN se-Bandung Raya di Kota Cimahi, Jawa Barat,kemarin.
Kegiatan itu juga dihadiri Sekretaris Jenderal DPP PAN Taufik Kurniawan,Ketua Pedoman Organisasi dan Keanggotaan (POK) DPP PAN Hafisz Tohir, Wakil Sekjen DPP PAN Ibrahim Kadir Tuasamu Ibnu Biladudin, Ketua DPD PAN Kota Cimahi Dedi Kuswandi, Ketua DPD PAN Kota Bandung Juniarso Ridwan,dan Ketua DPP BM PAN Soni Sumarsono. Amien mengaku sangat yakin bila semua kader bekerja secara sungguh-sungguh,kejayaan PAN di Jawa Barat akan kembali.
“Kita menang di sini (Jawa Barat) bukan sesuatu yang mustahil,”ujar Amien. Sementara itu, Sekjen DPP PAN Taufik Kurniawan mengungkapkan, target PAN mengulang massa kejayaannya di Jawa Barat merupakan harga mati. Bila pada Pemilu 1999 PAN berhasil memperoleh 8 kursi DPR dari Jawa Barat dan pada 2009 Jawa Barat hanya menyumbang 8 kursi, pada 2014 para kader harus solid mengejar target dua digit suara.
“Minimal kita meraih hasil pada Pemilu 1999 dan mengantarkan Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa menjadi presiden,” katanya. Untuk mewujudkan hal tersebut, lanjutTaufik,para kader harus bekerja sungguh-sungguh. Dia menyatakan,Pemilu 2014 adalah momentum kebangkitan PAN. Ketua DPW PAN Jawa Barat Edi Danardi menyatakan siap untuk memimpin mewujudkan target bahwa Jawa Barat menjadi lumbung suara PAN pada 2014 nanti.
“Saat ini PAN Jawa Barat telah secara intensif melakukan konsolidasi hingga ke ranting-ranting.Tanpa kesiapan infrastruktur hingga tingkat RT, akan sulit bagi PAN untuk memenangi pemilu nanti,”katanya. Sumber : Seputar Indonesia
Read More..........

Haji Agus Salim: Diplomat Minang Berlidah Pedang : The Grand Old Man

Di panggung rapat Sarekat Islam itu, Muso –kelak menjadi tokoh Partai Komunis Indonesia– berdiri, kokoh. Dia melihat para anggota rapat, tersenyum.

“Saudara, saudara, seperti apa orang yang berjanggut itu,” tanyanya.

Para peserta seperti kaget. Tapi, mereka menjawab juga. “Kambing!”

“Lalu, seperti apa orang yang memasang kumis,” tanya Muso lagi.

“Kucing!”

“Terimakasih.” Muso tergelak, lalu turun dari podium.

Kemudian, seorang lelaki kecil, berjanggut panjang, berkumis, naik podium. Dia tersenyum sebentar pada peserta rapat. Mengelus janggutnya, berdehem, dan bertanya, “Tahukah Saudara, seperti apa orang yang tidak berkumis dan berjanggut?”

Koor jawaban pun bergema. “Anjing!”

Lelaki berjanggut itu tersenyum. Kemudian meneruskan pidatonya, menjelaskan agenda Sarekat Islam dalam menghadapi politik kolonialisasi Belanda.

Lelaki berjanggut dan berkumis panjang itu adalah Haji Agus Salim, pentolan Sarekat Islam. Sejak awal, dia memang agak berbeda sikap dengan Muso. Tapi, Agus Salim selalu menanggapi semua perdebatan dengan Muso, bahkan sampai menyentuh hal yang amat pribadi. Bagi Agus Salim, setiap perdebatan harus ia hadapi, dan mesti ia menangi.

“Jarang ada yang mau menghadapi Agus Salim dalam berdebat. Ia amat ahli berkelit, bernegosisi, dan lidahnya amat tajam kala mengecam,” jelas Mohamad Roem, rekan Agus Salim semasa aktif di Jong Islamieten Bond.

Menolak Bea Siswa

Agus Salim lahir di kota Gedang, Bukittinggi, Sumatera Barat, 8 Oktober 1884. Ia anak keempat dari Haji Moehammad Sali, jaksa di pengadilan negeri setempat. Karena kedudukan ayahnya itu, Agus kecil yang bernama asli Mashudul Haq, dapat bersekolah Belanda. Hebatnya, lelaki yang memang sedari muda suka memelihara janggut ini, amat pintar. Waktu lulus dari Hogere Burgerschool (HBS) di usia 19 tahun, ia meraih predikat sebagai lulusan terbaik untuk wilayah tiga kota: Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Karena itu, Agus kemudian mengajukan permintaan beasiswa pada pemerintaan Belanda. Tapi, permintaan itu ditampik. Agus Salim patah arang.

Sementara itu, di Jawa, tepatnya di Jepara, Kartini yang mendapat beasiswa tapi tak diizinkan orang tuanya, mendesak pemerintahan Belanda untuk menghibahkan beasiswa itu pada Agus Salim. Pemerintah Belanda menyanggupi. Tapi apa kata Agus Salim?

“Jika beasiswa itu diberikan kepadaku karena desakan Kartini, dan bukan karena penghargaan atas diriku sendiri, lebih baik tidak akan pernah kuterima,” kecamnya.

Sebagai sikap pembangkangan, Agus Salim bahkan hengkang ke Jeddah, dan belajar pada ulama di sana, sambil bekerja di konsulat Belanda.

Karier politik Agus Salim bermula saat dia pulang ke Indonesia, dan bergabung dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis di Sarekat Islam. Waktu kedua tokoh SI itu mundur dari Volksraad (dewan rakyat), Agus menggantikannya. Tapi, karena Belanda tak juga mengubah kebijakanannya pada Indonesia, Agus pun akhirnya mundur.

SI kemudian pecah, antara golongan Semaun dan Muso yang condong ke garis kiri, dan Agus Salim-Tjokro yang tetap di jalur agama. SI Semaun-Muso berkembang menjadi partai komunis, sedangkan Agus Salium kemudian aktif di Jong Islamieten Bond.

Di organisasi baru ini, Agus pernah dituduh memecah belah pemuda berdasarkan sentimen keagamaan. Tapi Agus menolak, dan mengajak berdebat, dan dia menang.

Di lembaga ini Agus kemudian melakukan gebrakan. Dalam kongres Jong Islamieten Bond di Yogyakarta 1925, peserta lelaki dan wanita duduk terpisah dan berbatas tabir, sesuai syariah Islam. Tapi, dua tahun kemudian, dalam kongres di Solo, Agus atas nama pengurus membuka tabir itu, setelah menjelaskan penafsirannya. Semangat pembaruan Islam ini terus berkembang.

“Ajaran dan semangat Islam, memelopori emansipasi perempuan. Itu pasti,” ucapnya, berapi. Kisah ini sering diucapulangkan Seokarno dalam tiap pidatonya, untuk menerangkan perlunya memandang Islam dan berbagai agama dengan dada terbuka.

Tak Hirau Harta Dunia

Setelah Indonesia merdeka, bakat debat dan ketajaman lidah Agus Salim dimanfaatkan untuk menyokong politik luar negeri Indonesia. Agus menjadi diplomat, yang bahkan atas lobinya, Mesir mau mengakui kemerdekaan Indonesia pertama kali. Dalam perjanjian dengan Belanda dan negara lain pun, Agus pasti disertakan. Tapi, sebagai pejabat negara, hidup keseharian Agus tak ubahnya rakyat jelata.

Hidupnya berpindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain. Kadang, rumah itu hanya satu kamar, di gang becek, dan dia huni bersama 8 anaknya, serta ribuan buku koleksinya.

Tapi, menjadi miskin tak membuat keluarga itu murung. Penampikan Agus pada harta tak membuat anaknya kehilangan kegairahan dan keceriaan hidup. Mohamad Roem yang acap bertandang, menjadi saksi: “Kegembiraan berada di tengah keluarga Agus Salim, membuat kita acap lupa, sungguh betapa melaratnya keluarga ini,” katanya.

Agus Salim memang tak dendam pada kemiskinannya. Yang ia dendami adalah perlakuan Belanda yang menolak beasiswa dia. Karena itu, sedari lahir, tak pernah anaknya ia sekolahkan formal, kecuali yang bungsu. Agus mendidik sendiri anaknya dengan cinta dan pengertian. Bermain bagi Agus adalah belajar, belajar juga adalah permainan.

Hebatnya, sistem pendidikan informal ini cukup berhasil. Anak tertuanya, Jusuf Taufik, telah mampu membaca Mahabrata berbahasa Belanda di usia 13 tahun, dan yang lainnya, di usia belasan telah mampu menghapal syair Belanda. Perlu diketahui, tata bahasa Belanda amat sulit, sehingga butuh ketekunan yang luar biasa untuk bisa menguasainya.

Bagi Agus Salim, keberhasilan dirinya dia ukur dengan kemampuannya mengantarkan jiwa merdeka dan mandiri bagi anak-anaknya, tak menggantungkan hidup pada orang atau bangsa lain.

Jiwa yang merdeka ini, lidah yang amat tajam ini, dan otak yang luar biasa cemerlang itu, akhirnya rebah, 4 November 1954, di usia 70 tahun, sambil tersenyum. Dia tak pernah berhutang pada dunia.

Sumber (http://rumahputih.net/2008/10/14/diplomat-minang-berlidah-pedang/)
Read More..........

Kamis, 24 Mei 2012

SEJARAH AWAL PERMUSUHAN REAL MADRID DAN BARCELONA

Permusuhan antara Barcelona dan Real Madrid bermula pada masa Franco. Siapa Franco ini? Dia adalah seorang Jenderal yang menjadi penguasa diktator di Spanyol pada tahun 1930-an. Barcelona, sampai sekarang, adalah ibukota dari Provinsi Catalonia, yang sebagian besar penduduknya adalah dari suku bangsa Catalan dan Basque. Sejak dulu, orang-orang Catalonia ini menganggap diri mereka bukan bagian dari Spanyol, dan merupakan bangsa yang berada di bawah penjajahan Spanyol.

Franco melarang penggunaan bendera dan bahasa daerah Catalan. FC Barcelona kemudian menjadi satu-satunya tempat dimana sekumpulan besar orang dapat berkumpul dan berbicara dalam bahasa daerah mereka. Warna biru dan merah marun Barcelona menjadi pengganti yang mudah dipahami dari warna merah dan kuning (bendera) Catalonia.

Franco kemudian bertindak lebih jauh. Josep Suol, Presiden Barcelona waktu itu, dibunuh oleh pihak militer pada tahun 1936, dan sebuah bom dijatuhkan di FC Barcelona Social Club pada tahun 1938. Di lapangan sepakbola, titik nadir permusuhan ini terjadi pada tahun 1941 ketika para pemain Barcelona diinstruksikan (dibawah ancaman militer) untuk kalah dari Real.

Barcelona kalah dan gawang mereka kemasukan 11 gol dari Real Madrid. Sebagai bentuk protes, Barcelona bermain serius dalam 1 serangan dan mencetak 1 gol. Skor akhir 11-1, dan 1 gol itu membuat Franco kesal. Kiper Barcelona kemudian dijatuhi tuduhan pengaturan pertandingan dan dilarang untuk bermain sepakbola lagi seumur hidupnya.

Sejak saat itu FC Barcelona menjadi semacam klub anti-franco dan menjadi simbol perlawanan Catalonia terhadap Franco, dan secara umum, terhadap Spanyol. Ada juga klub-klub lain di Catalonia seperti Athletic Bilbao dan Espanyol. Athletic Bilbao sampai saat ini tetap pada idealismenya untuk hanya merekrut pemain-pemain asli Basque, tetapi dari segi prestasi tidak sementereng Barcelona.

Demikian juga dengan Espanyol. Sementara yang dijadikan simbol musuh, tentu saja, adalah klub kesayangan Franco yang bermarkas di ibukota Spanyol, FC Real Madrid. Sebagai sebuah simbol perlawanan, kultur dan karakter Barcelona kemudian terbentuk dengan sendirinya. Siapapun pelatihnya, dan gaya apapun yang dipakai, karakternya hanya satu: Menyerang!.

Sebagai penyerang, Barcelona bermaksud untuk mendobrak dominasi Real Madrid (dan bagi orang Catalonia, mendobrak dominasi Spanyol). Untuk itulah Barcelona pantang bermain bertahan, karena itu adalah simbol ketakutan. Kalah atau menang adalah hal biasa. Tapi keberanian memegang karakter, itulah yang menjadi simbol perlawanan.

Pada tahun 50-an dan 60-an, Barca memang tertutup oleh kejayaan Real Madrid yang waktu itu diperkuat Ferenc Puskas, Di Stefano, dsb. Sebagai anak emas Franco sejak tahun 1930-an, Real Madrid memang selalu memiliki sumber dana besar untuk belanja pemain. Barcelona sendiri, pada 2 dasawarsa tersebut hanya bisa memenangi 4 kali liga spanyol, 2 kali piala raja, dan satu kali piala Inter City Honest (yang kemudian menjadi UEFA Cup).

Pada tahun 1973, seorang pemain Belanda yang kelak menjadi salah satu legenda Barcelona, Johan Cruyff, bergabung dari Ajax. Dalam pernyataan persnya ketika diperkenalkan, Cruyff menyatakan bahwa ia lebih memilih Barcelona dibanding Real Madrid karena ia tidak akan mau bermain di sebuah klub yang diasosiasikan dengan Franco.

Bersama kompatriotnya, Johan Neeskens, mereka langsung membawa Barcelona memenangi gelar liga spanyol (setelah sebelumnya 14 tahun puasa gelar), dan dalam prosesnya tahun itu sempat mengalahkan Real Madrid di kandang Madrid sendiri dengan skor 5-0 (!).

Pada tahun itu Johan Cruyff dinobatkan sebagai pesepakbola terbaik Eropa, dan memberi nama anaknya dengan nama khas Catalan, yaitu Jordi. Statusnya sebagai legenda menjadi abadi. Jordi Cruyff sendiri pada akhirnya tidak pernah bisa sebesar ayahnya. Karir sepakbolanya lebih banyak dihabiskan di klub-klub medioker, meski sempat beberapa tahun memperkuat Manchester United.

Selanjutnya, permusuhan itu terus ada, meskipun tidak sesengit pada tahun-tahun awalnya, sampai sekarang. Bisa dibilang, rivalitas saat ini sudah lebih sportif dan berjalan dengan lebih sehat. Tapi permusuhan yang sejak dulu telah begitu mengakar menjadikan duel diantara keduanya selalu menjanjikan sesuatu yang spesial.

Inilah mengapa duel antara Barcelona dengan Real Madrid yang terjadi setidaknya 2 kali setiap tahunnya (di liga Spanyol) disebut dengan el classico, karena memang menyajikan satu duel klasik dengan sejarah panjang terbentang dibelakangnya.

Meski berulang setiap tahun, akan tetapi saking monumentalnya duel ini membuat Johan Cruyff dan Bobby Robson ketika menjadi pelatih Barcelona pada era akhir 1980-an sampai akhir 1990-an sampai mengibaratkan el classico sebagai sebuah perang, bukan sekedar pertandingan sepak bola.

Baik pelatih Real Madrid maupun pelatih Barcelona ketika menghadapi el classico akan merasa seperti membawa sepasukan serdadu perang, bukan sebuah kesebelasan sepak bola, karena begitu besarnya kehormatan yang dipertaruhkan.

Demikian juga pertaruhan bagi pelatih, karena ketika dia diangkat sebagai pelatih seolah sudah ada beban yang diberikan oleh klub: "Anda boleh kalah dari siapa saja di liga ini, tapi JANGAN sampai kalah dari Real Madrid…!!

Meski begitu di dalam lapangan, peperangan ini sepanjang sejarahnya selalu berlangsung dalam sportifitas yang tinggi, karena sportifitas pun merupakan satu bentuk kehormatan yang harus dijaga. Ini soal nama baik.
Transfer pemain adalah salah satu bentuk perang di luar lapangan. Dalam hal ini, perpindahan pemain dari Barcelona ke Real Madrid (maupun sebaliknya) akan dianggap sebagai sebuah bentuk pengkhianatans Figo mungkin adalah salah seorang yang paling mengerti mengenai hal ini.

Direkrut oleh Barcelona pada tahun 1996, pemain Portugal yang kala itu bukan siapa-siapaa tersebut kemudian menemui masa-masa jayanya. Barcelona memberinya peranan signifikan sebagai sayap kanan tim, dan bersama Rivaldo membawa Barcelona berjaya pada akhir tahun 1990an.
Akan tetapi, pada tahun 2001, dunia tersentak ketika Figo menerima tawaran Real Madrid dengan iming-iming gaji dua kali lipat dan nilai transfer yang ketika itu menjadi rekor pembelian termahal seorang pemain sepak bola.

Nilai itu melebihi batas klausul transfer Figo, sehingga Barcelona harus menerima tawaran tersebut berdasarkan aturan Bosman. Meski begitu, transfer itu tetap tidak akan terjadi seandainya Figo secara pribadi tidak menerima tawaran Real Madrid. Toh akhirnya Figo berkhianat.

Dalam duel el classico tahun berikutnya, ketika pertandingan dilangsungkan di Nou Camp (kandang Barcelona), Figo menerima sambutan monumental yang mungkin tidak akan dilupakannya seumur hidup.
Seorang pendukung Barcelona di tengah-tengah pertandingan berhasil menerobos pagar petugas keamanan, sambil memakai bendera Barcelona sebagai jubah, kemudian berlari ke arah Figo membawa sebuah hadiah istimewa: sebuah kepala babi, lengkap dengan sedikit darah masih menetes dari lehernya. Ia kemudian melemparkan bendera Barcelona dan kepala babi itu ke arah Figo. Figo sendiri hanya terdiam menunduk beberapa saat, lalu berjalan menjauh. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu, karena ia tahu kepala babi itu adalah simbol keserakahan dan pengkhianatan.

Dalam hal prestasi, Real Madrid memang masih di atas Barcelona. Jarak prestasi itu terjadi terutama pada tahun 1950-1970an, ketika Real Madrid menjadi anak emas Franco dan memiliki kekuatan finansial jauh diatas Barcelona untuk membeli bintang-bintang sepakbola dari seluruh dunia dan tradisi itu masih berlanjut hingga sekarang. (El Clasico)


Read More..........
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...