Kamis, 21 Juni 2012
Mengefektifkan Komunikasi Meraih Kemenangan
Blogger Muda Bikin Buku Untuk Hatta
RMOL. Beberapa anak muda yang aktif menulis di blog, membuat buku untuk Ketua Umum PAN, Hatta Rajasa. Buku berjudul “HR Harapan Rakyat, Catatan dan Opini Blogger”
itu dibedah di Gramedia Gandaria City, Jakarta Selatan, kemarin
(Minggu, 15/4). Acara tersebut ramai dan dihadiri oleh sejumlah blogger
muda dari beberapa kampus di Jakarta.
Dalam bedah buku tersebut dihadirkan pembahas, diantaranya Abdul Hakim Ms sebagai yang mewakili penulis dan editor, A. Bakir Ihsan (pengamat politik dari UIN Jakarta) dan Ali Rahman yang menjadi perwakilan para blogger muda. Menurut Abdul Hakim, buku setebal 196 halaman yang terdiri dari 7 bab dan 55 artikel itu berisi catatan ringan tentang sosok Hatta Rajasa, baik sebagai Ketua Umum PAN, Menko Perekonomian, mantan aktivis dan kepala keluarga. Selain Abdul Hakim, sosok muda yang ikut terlibat dalam penulisan dan editor adalah Tole Sutrisno dan Bawono Kumoro.
“Buku ini beda dengan buku kebanyakan yang mengangkat tema-tema serius. Buku ini berisi catatan dan artikel ringan sisi humanisme dan keseharian Hatta Rajasa,” ujar Abdul Hakim. Menurutnya, artikel mengenai Hatta dalam buku “HR Harapan Rakyat, Catatan dan Opini Blogger “ ini tidak ada yang dilebih-lebihkan. “Semua sesuai realitas, dan dialami sendiri oleh penulis,” tambahnya.
Sementara itu menurut Ali Rahman yang mewakili para blogger muda, artikel yang mereka buat adalah sebuah bentuk apresiasi kepada Hatta Rajasa. Bahkan Ali Rahman yang juga aktif dalam organisasi kepemudaan KNPI ini berharap banyak kepada Hatta untuk bisa menjadi tokoh bangsa dan memimpin Indonesia. “Secara personal dan sisi humanisme, Hatta adalah sosok yang bisa menjadi contoh bagi para pejabat, terutama menteri. Sikap yang sopan, terbuka kepada siapa pun, dan mau berbaur dengan masyarakat adalah contoh yang baik,” ujar Ali Rahman.
Secara politik, Ali Rahman dan blogger-blogger muda yang terlibat dalam pembuatan buku mendukung seandainya Hatta nanti maju dalam pemilihan presiden 2014. Mengenai dukungan politik para blogger muda itu, pengamat UIN A. Bakir Ihsan menilai sebagai sesuatu yang biasa. “Mengingat Hatta Rajasa sudah santer dikabarkan dan bahkan PAN sudah tegas mencalonkannya dalam Pemilu Presiden nanti, dukungan politik para blogger muda itu adalah sebuah kewajaran,” ujar Bakir Ihsan.
Bakir Ihsan melihat, dukungan para blogger melalui pembuatan buku adalah sesuatu yang positif. Dirinya memberikan apresiasi yang positif atas kreatifitas yang dilakukan para blogger itu. “Buku ini berbeda dengan buku personal tentang Mega atau tokoh politik lainnya. Buku ini lebih santai dan bercerita apa adanya,” tegasnya
Dalam bedah buku tersebut dihadirkan pembahas, diantaranya Abdul Hakim Ms sebagai yang mewakili penulis dan editor, A. Bakir Ihsan (pengamat politik dari UIN Jakarta) dan Ali Rahman yang menjadi perwakilan para blogger muda. Menurut Abdul Hakim, buku setebal 196 halaman yang terdiri dari 7 bab dan 55 artikel itu berisi catatan ringan tentang sosok Hatta Rajasa, baik sebagai Ketua Umum PAN, Menko Perekonomian, mantan aktivis dan kepala keluarga. Selain Abdul Hakim, sosok muda yang ikut terlibat dalam penulisan dan editor adalah Tole Sutrisno dan Bawono Kumoro.
“Buku ini beda dengan buku kebanyakan yang mengangkat tema-tema serius. Buku ini berisi catatan dan artikel ringan sisi humanisme dan keseharian Hatta Rajasa,” ujar Abdul Hakim. Menurutnya, artikel mengenai Hatta dalam buku “HR Harapan Rakyat, Catatan dan Opini Blogger “ ini tidak ada yang dilebih-lebihkan. “Semua sesuai realitas, dan dialami sendiri oleh penulis,” tambahnya.
Sementara itu menurut Ali Rahman yang mewakili para blogger muda, artikel yang mereka buat adalah sebuah bentuk apresiasi kepada Hatta Rajasa. Bahkan Ali Rahman yang juga aktif dalam organisasi kepemudaan KNPI ini berharap banyak kepada Hatta untuk bisa menjadi tokoh bangsa dan memimpin Indonesia. “Secara personal dan sisi humanisme, Hatta adalah sosok yang bisa menjadi contoh bagi para pejabat, terutama menteri. Sikap yang sopan, terbuka kepada siapa pun, dan mau berbaur dengan masyarakat adalah contoh yang baik,” ujar Ali Rahman.
Secara politik, Ali Rahman dan blogger-blogger muda yang terlibat dalam pembuatan buku mendukung seandainya Hatta nanti maju dalam pemilihan presiden 2014. Mengenai dukungan politik para blogger muda itu, pengamat UIN A. Bakir Ihsan menilai sebagai sesuatu yang biasa. “Mengingat Hatta Rajasa sudah santer dikabarkan dan bahkan PAN sudah tegas mencalonkannya dalam Pemilu Presiden nanti, dukungan politik para blogger muda itu adalah sebuah kewajaran,” ujar Bakir Ihsan.
Bakir Ihsan melihat, dukungan para blogger melalui pembuatan buku adalah sesuatu yang positif. Dirinya memberikan apresiasi yang positif atas kreatifitas yang dilakukan para blogger itu. “Buku ini berbeda dengan buku personal tentang Mega atau tokoh politik lainnya. Buku ini lebih santai dan bercerita apa adanya,” tegasnya
BEST SINGER INDONESIAN IDOL 2012 : REGINA IVANOVA
Di Indonesian Idol 2012, Regina berhasil memukau tim juri ‘Triple A’
dengan membawakan lagu bernotasi sulit dari penyanyi Adele. Suaranya
yang berat membuat penampilan Regina di babak eliminasi lalu, terdengar
sangat sexy. Meski pernah mengalami kecelakaan tragis pada
tahun 1995 silam yang mencederai kaki kanannya, tidak menyurutkan Regina
untuk berkarir di dunia musik. Sebelum ikut Indonesian Idol, Regina
adalah seorang penyanyi di sebuah café. Menurutnya, hal ini sangat
menyenangkan, karena selain mendapatkan penghasilan, ia pun dapat
menyalurkan hobi bernyanyinya.
AHMAD DHANI
“ "Sorry ya. Sorry saya
harus katakan. Maaf sekali pada semuanya. Bahwa saya harus katakan.
Kalau dalam bahasa Inggris Regina Ivanova 'You are the winner'. Saya
mungkin mengecewakan beberapa penggemar-penggemar yang lain. Atau
mengecewakan penggemar yang nge-vote atau yang tidak nge-vote Regina
Ivanova. Tapi menurut saya 'You are the champion, you are the winner.
Kamu adalah pemenang Indonesian Idol. Maafkan yang lain yaa. Yang enggak
sependapat dengan saya." ”
AGNES MONICA
"Ini baru contoh penyanyi yang luar biasa. Karena kamu membawakan lagu
itu enggak trying to hard to sound good. Which is great. Nah itu yang
kadang-kadang sebagai penyanyi. Apalagi dengan kemampuan vokal seperti
kamu yang kamu sebenarnya mau bawa ke lebih tinggi atau mau improve
banyak. Sebanarnya bisa. Tapi kamu melihat jalan cerita dari lagunya.
Kemudian kamu juga lihat jalan arransemennya. Itu yang susah untuk
seorang penyanyi agar bisa kawin sama musiknya. Bukan hanya itu saja
kamu sangat dewasa ”
ANANG HERMANSYAH
"Aku cuma bilang adalah begini. Kemampuan kamu hari ini rakyat Indonesia
yang mengikuti Idol adalah kamu menyanyi sebenarnya sudah sangat luar
biasa. Kalau mungkin dipertandingkan nyanyi satu lagu yang sangat
baru. Dengan Adele nih. Aku tetap megang kamu. Kenapa aku bilang
begitu? Karena kemampuan bernyanyi kamu lain. Menyanyikan semua lagu.
Kamu bawakan secara luar biasa. Belum tentu Adele bisa begitu. Saya
minta maaf buat pendukung-pendukung Adele. Saya terus terang lagu
tadi. Aku lebih suka kamu ”
Rabu, 20 Juni 2012
PAN Sumut Buka Pendaftaran Balon Gubsu
Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional (DPW PAN) Sumut, mulai hari ini, Rabu (20/6) membuka pendaftaran balon (bakal calon) Gubsu/Wakil Gubsu dan siap membangun koalisi ke partai lain, guna mengikuti pertarungan Pilgubsu 2013.
Demikian dijelaskan Ketua Tim Pilkada DPW PAN Sumut Zulkifli Husein dan Wakil Ketua tim Pilkada Hendra Cipta, didampingi sekretaris tim Suhandi, wakil sekretaris Surkani dan bendahara tim Ahmad Fauzan kepada wartawan, Selasa (19/6) di FPAN DPRD Sumut.
Zuklifli Husein maupun Hendra Cipta mengatakan, pendaftaran balon Gubsu/Wagubsu di DPW PAN berlangsung hingga 20 Juli 2012, dalam rangka penjaringan calon Gubsu/Wagubsu melalui survei internal maupun eksternal.
“Survei internal akan dilakukan DPW PAN Sumut dengan melibatkan akademisi yang akan dihujuk partai,” ujar Hendra seraya menyebutkan semua balon Gubsu/Wagubsu yang sudah mendaftar akan mengikuti uji kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat Sumut dan platform partai.
Dalam upaya penjaringan calon pasangan Gubsu/Wagubsu 2013, lanjut Hendra Cipta, dari hasil uji kompetensi terhadap semua balon di level Sumut, akan diusulkan 2 pasang calon Gubsu/Wagubsu kepada DPP PAN untuk ditetapkan satu pasang calon Gubsu/Wagubsu yang akan ikut Pilgubsu.
“Acuan tim Pilkada DPW PAN Sumut sudah diatur dalam ketentuan partai dalam penjaringan balon Gubsu/Wagubsu, mulai dari pendaftaran, survei internal hingga uji kompetensi,” ujarnya.
Dalam pencalonan, lanjut Zulkifli Husein yang juga Wakil Ketua DPW PAN Sumut itu, PAN tidak bisa berdiri sendiri, tapi akan membangun koalisi dengan partai lain, karena PAN tidak memiliki kursi yang cukup untuk mengusung pasangan calon Gubsu/Wagubsu.
“PAN hanya punya 7 kursi, sehingga butuh minimal 8 kursi dari partai lain agar bisa mencalonkan untuk Pilgubsu nanti. Kita siap membangun koalisi dengan partai lain, meski banyak kader PAN yang ikut berkompetisi dengan balon lain yang bukan kader PAN untuk menjadi calon Gubsu 2013, tapi PAN tetap memperlakukan sama sesuai yang diinginkan masyarakat,” ujarnya.
Sebagai partai politik mewakili masyarakat, tambah Zulkifli yang juga anggota DPRD Sumut itu, PAN harus memahami keinginan masyarakat, figur pemimpin yang pas untuk Sumut.
Untuk itu, tambah Hendra Cipta, dalam proses penjaringan, tim Pilkada DPW PAN Sumut akan mengomunikasikan figur calon Gubsu/Wagubsu yang mendaftar menggunakan ‘kapal’ PAN, termasuk membangun komunikasi dan koalisi dengan partai lain akan dilakukan seluruh fungsionaris DPW PAN Sumut.
“Dengan keterbatasan kursi dimiliki PAN, kita tidak ingin pengalaman pahit pada Pilgubsu 2008 terulang lagi, dimana calon pasangan Gubsu/Wagubsu yang diusung dari partai lain yang kursinya lebih sedikit dari PAN,” tambah Hendra.
Demikian dijelaskan Ketua Tim Pilkada DPW PAN Sumut Zulkifli Husein dan Wakil Ketua tim Pilkada Hendra Cipta, didampingi sekretaris tim Suhandi, wakil sekretaris Surkani dan bendahara tim Ahmad Fauzan kepada wartawan, Selasa (19/6) di FPAN DPRD Sumut.
Zuklifli Husein maupun Hendra Cipta mengatakan, pendaftaran balon Gubsu/Wagubsu di DPW PAN berlangsung hingga 20 Juli 2012, dalam rangka penjaringan calon Gubsu/Wagubsu melalui survei internal maupun eksternal.
“Survei internal akan dilakukan DPW PAN Sumut dengan melibatkan akademisi yang akan dihujuk partai,” ujar Hendra seraya menyebutkan semua balon Gubsu/Wagubsu yang sudah mendaftar akan mengikuti uji kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat Sumut dan platform partai.
Dalam upaya penjaringan calon pasangan Gubsu/Wagubsu 2013, lanjut Hendra Cipta, dari hasil uji kompetensi terhadap semua balon di level Sumut, akan diusulkan 2 pasang calon Gubsu/Wagubsu kepada DPP PAN untuk ditetapkan satu pasang calon Gubsu/Wagubsu yang akan ikut Pilgubsu.
“Acuan tim Pilkada DPW PAN Sumut sudah diatur dalam ketentuan partai dalam penjaringan balon Gubsu/Wagubsu, mulai dari pendaftaran, survei internal hingga uji kompetensi,” ujarnya.
Dalam pencalonan, lanjut Zulkifli Husein yang juga Wakil Ketua DPW PAN Sumut itu, PAN tidak bisa berdiri sendiri, tapi akan membangun koalisi dengan partai lain, karena PAN tidak memiliki kursi yang cukup untuk mengusung pasangan calon Gubsu/Wagubsu.
“PAN hanya punya 7 kursi, sehingga butuh minimal 8 kursi dari partai lain agar bisa mencalonkan untuk Pilgubsu nanti. Kita siap membangun koalisi dengan partai lain, meski banyak kader PAN yang ikut berkompetisi dengan balon lain yang bukan kader PAN untuk menjadi calon Gubsu 2013, tapi PAN tetap memperlakukan sama sesuai yang diinginkan masyarakat,” ujarnya.
Sebagai partai politik mewakili masyarakat, tambah Zulkifli yang juga anggota DPRD Sumut itu, PAN harus memahami keinginan masyarakat, figur pemimpin yang pas untuk Sumut.
Untuk itu, tambah Hendra Cipta, dalam proses penjaringan, tim Pilkada DPW PAN Sumut akan mengomunikasikan figur calon Gubsu/Wagubsu yang mendaftar menggunakan ‘kapal’ PAN, termasuk membangun komunikasi dan koalisi dengan partai lain akan dilakukan seluruh fungsionaris DPW PAN Sumut.
“Dengan keterbatasan kursi dimiliki PAN, kita tidak ingin pengalaman pahit pada Pilgubsu 2008 terulang lagi, dimana calon pasangan Gubsu/Wagubsu yang diusung dari partai lain yang kursinya lebih sedikit dari PAN,” tambah Hendra.
Senin, 18 Juni 2012
TOR TOR TIDAK BUTUH PENGAKUAN MALAYSIA
Malaysia kembali mengklaim hasil kebudayaan asli Indonesia menjadi
miliknya. Kali ini, negeri jiran itu akan memasukkan tari Tor-tor dan
Gordang Sambilan sebagai peninggalan nasional mereka. Di
Indonesia, dua kesenian itu dikenal sebagai kebudayaan masyarakat Batak,
Sumatera Utara. Bahkan, tari Tor-tor selalu ditarikan dalam upacara
adat masyarakat Batak. Namun kini, Malaysia dengan berani akan meregistrasi kebudayaan itu berdasarkan Bab 67 Undang-undang Peninggalan Nasional 2005.
Tor-tor bagi masyarakat mandailing mengandung banyak nilai dan makna, nilai tradisi leluhur, nilai historis bahkan nilai karakter yang ada dalam diri masyarakat mandailing. Dan yang menjadi agak aneh adalah ketika Komunitas Mandailing di Malaysia meminta saudara mereka di Indonesia
memahami usulan soal tari Tor-tor masuk dalam warisan kebudayaan negeri
jiran. Salah satu alasannya adalah agar Tari Tor-tor bisa lestari dan
mendapat pengakuan negara, tidak hanya dipentaskan di rumah saja. "Kami
sudah 200 tahun di sini, sebelum wujud Malaysia dan Indonesia, kami
sudah ada di sini" kata mereka sehingga mereka menganggap perlu diakui juga oleh pemerintahnya dan hal itu bukanlah klaim malaysia.
Yang sedikit terlupakan oleh saudara kita yang berada di Malaysia adalah bahwa pemerintah Malaysia mencoba mendaftarkannya sebagai salah satu peninggalan nasional mereka. Hal yang sangat kontras jika mencoba membandingkan tarian barongsai di era Gus Dur yang memperbolehkan pertunjukkannya di Indonesia, dan mungkin saudara kita itu tidak mengetahui bahwa Indonesia tidak pernah menjadikannya sebagai peninggalan nasional karena memang tarian itu bukan lahir di Indonesia.
Dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat mandailing sudah sangat tersebar ke berbagai belahan dunia, menurut situs web Mandailing.org, masyarakat Mandailing merantau dalam
gelombang besar ke pesisir barat Malaysia pada beberapa dekade pertama
abad ke 19 akibat Perang Paderi, saat Indonesia belum lahir dan masih
bernama Hindia Belanda yang merupakan wilayah jajahan Belanda. Hingga
kini, keturunan orang-orang Mandailing masih banyak berada di wilayah
negara bagian Negeri Sembilan, Perak, Pahang dan Selangor di Malaysia.
Semisal migrasi orang jawa ke Suriname sehingga banyak budaya jawa menjadi bagian tidak terpisahkan dari negara itu, dan sekali lagi Suriname tidak juga menganggapnya sebagai peninggalan negeri mereka, tetapi dengan banyaknya kaum migran jawa di Suriname menjadikan budaya jawa ikut menjadi lestari tanpa harus mendapatkan pengakuan dari pemerintahnya
Tor-Tor akan selalu hidup dan lestari selama masyarakat mandailing melestarikannya dimana saja tanpa perlu adanya pengakuan dari suatu negara.
Sedikit informasi tentang tari Tor-Tor
Tari tor-tor bisa diiringi dengan iringan musik
magondangi. Tarian ini dimainkan dengan dibarengi alat-alat musik
tradisional seperti gondang, suling, terompet batak. Bahkan,
banyak masyarakat percaya tarian itu sebagai ritual yang berhubungan
dengan pemanggilan roh. Roh tersebut dipanggil kembali dan masuk ke
dalam patung-patung batu. Mereka percaya ini merupakan simbol
penghormatan terhadap leluhur. Kemudian, patung-patung itu
bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan kaku. Gerakan itu seperti
gerakan kaki sedang jinjit dan gerakan tangan.
Pada perkembangannya, jenis tor-tor menjadi beragam. Ada yang dinamakan tor tor Pangurason (tari pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Mereka beranggapan, sebelum pesta dimulai tempat pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.
Selanjutnya, ada tari tor-tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).
Terakhir, ada tor tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.
Dahulu, tarian ini juga dilakukan untuk acara seremoni ketika orangtua atau anggota keluarganya meninggal dunia. Kini, tari tor-tor biasanya digunakan untuk acara acara seremonial di daerah Sumatera Utara dan dibeberapa daerah yang memiliki komunitas masyarakat mandailing.
Pada perkembangannya, jenis tor-tor menjadi beragam. Ada yang dinamakan tor tor Pangurason (tari pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Mereka beranggapan, sebelum pesta dimulai tempat pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.
Selanjutnya, ada tari tor-tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).
Terakhir, ada tor tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.
Dahulu, tarian ini juga dilakukan untuk acara seremoni ketika orangtua atau anggota keluarganya meninggal dunia. Kini, tari tor-tor biasanya digunakan untuk acara acara seremonial di daerah Sumatera Utara dan dibeberapa daerah yang memiliki komunitas masyarakat mandailing.
Kamis, 14 Juni 2012
Kongres Mahasiswa Sumatera Utara....
Sebuah Gagasan Yang Ideal Dari Kaum Intelektual Muda
Read More..........
(14/06/2012) Semakin dekat perhelatan akbar masyarakat Sumatera Utara dalam pesta demokrasi pemilihan gubernur sumatera utara (pilgubsu), semakin membuat banyak kalangan mendiskusikannya dalam berbagai tingkatan kemampuan diskusinya, mulai dari warung kopi dari kalangan masyarakat yang awam terhadap perpolitikan lokal sumatera utara, ibu-ibu rumah tangga juga tidak mau ketinggalan untuk bisik bisik kalaulah tidak mau dikatakan pergunjingan kaum ibu tentang calon yang dianggap layak memimpin propinsi yang menjadi pintu masuk bagian barat dari negeri kita ini.
Pagi tadi diwarung sarapan pagi yang biasa, saya dan beberapa fungsionaris DPW PAN Sumut mendampingi H. Syah Affandin (Ondim) Ketua DPW PAN Sumut untuk diskusi ringan dengan beberapa elemen mahasiswa dari kelompok cipayung seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Medan, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Medan serta Penegak Amanat Reformasi Rakyat (PARRA) Sumut. Diskusi yang dimulai dari hanya sebuah cakap-cakap tentang pilgubsu yang akan berlangsung pada 2013 mendatang.
Dalam kesempatan yang unik itu, Ondim menyatakan beberapa agenda mendesak bagi sumatera utara yang harus menjadi bahan evaluasi bagi kalangan kampus termasuk mahasiswa, mahasiswa yang dianggap memiliki kemampuan yang melebihi masyarakat biasa harus berperan aktif dan tidak ikut-ikutan berpolitik sebab mahasiswa merupakan agen perubahan yang harus teguh mengawal proses demokrasi di sumatera utara, mengaktualisasikan diri melalui dialog lebih bijaksana dibandingkan harus teriak dijalanan.
Salah seorang aktivis mahasiswa menyatakan ide untuk menggelar Kongres Mahasiswa Sumatera Utara, yang akan dihadiri oleh perwakilan organisasi formal dan informal kampus dari seluruh sumatera utara, gagasan yang brilian dari cakap-cakap dipagi hari. Saya jadi teringat dengan masa lalu dimana menjadi salah satu inisitor dari kalangan aktivis 98 menggelar Kongres Mahasiswa Sumatera dengan membawa isu "Sumatera Merdeka" yang memang menjadi isu cukup seksi pada masa itu, mudah-mudahan saja ide kongres mahasiswa sumatera ini dapat terwujud dan melahirkan banyak rekomendasi bagi kemaslahatan masyarakat sumatera utara.
Ondim pun sangat menyambut baik gagasan ini, bahkan memberi muatan bagi mahasiswa agar ada output yang cerdas dan menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di propinsi sumatera utara.
Hmmmm..... sarapan pagi yang menarik.
BIOGRAFI IWAN FALS
Iwan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir 3 September
1961 di Jakarta) adalah seorang penyanyi beraliran balada yang menjadi
salah satu legenda hidup di Indonesia. Lewat lagu-lagunya, Iwan
menggambarkan suasana sosial kehidupan Indonesia (terutama Jakarta) di
akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok
orang (seperti lagu Wakil Rakyat dan Tante Lisa), empati bagi kelompok
marginal (misalnya lagu Siang Seberang Istana dan Lonteku), atau bencana
besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia,
seperti lagu Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya.
Lewat lagu-lagunya, ia memotret kehidupan dan sosial-budaya di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.
Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.
Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum 'akar rumput'. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh Nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang Oi dapat ditemui setiap penjuru Nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.
Perjalanan Hidup
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP, Iwan menjadi gitaris dalama paduan suara sekolah.
Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul. Tapi album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen.
Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records. Tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.
Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Waktu siaran acara Manasuka Siaran Niaga di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.
Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya yang kritis.
Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang di dukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.
Keluarga
Iwan lahir di Jakarta pada 3 September 1961 dari pasangan Haryoso (ayah)(almarhum) dan Lies (ibu). Iwan menikahi Rosanna (Mbak Yos) dan mempunyai anak Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.
Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi trade mark ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat merilis satu album perdana menjelang kematiannya.
Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul Galang Rambu Anarki pada album Opini , yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1981 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1981).
Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991.
Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara mendadak yang membuat aktifitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung Bogor Jawa Barat sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri.
Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang di dalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki. Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya.
Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang dinamakan Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan sebutan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals.
Lewat lagu-lagunya, ia memotret kehidupan dan sosial-budaya di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.
Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.
Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum 'akar rumput'. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh Nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang Oi dapat ditemui setiap penjuru Nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.
Perjalanan Hidup
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP, Iwan menjadi gitaris dalama paduan suara sekolah.
Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul. Tapi album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen.
Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records. Tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.
Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Waktu siaran acara Manasuka Siaran Niaga di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.
Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya yang kritis.
Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang di dukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.
Keluarga
Iwan lahir di Jakarta pada 3 September 1961 dari pasangan Haryoso (ayah)(almarhum) dan Lies (ibu). Iwan menikahi Rosanna (Mbak Yos) dan mempunyai anak Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.
Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi trade mark ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat merilis satu album perdana menjelang kematiannya.
Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul Galang Rambu Anarki pada album Opini , yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1981 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1981).
Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991.
Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara mendadak yang membuat aktifitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung Bogor Jawa Barat sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri.
Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang di dalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki. Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya.
Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang dinamakan Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan sebutan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals.
Link Download Ebook Biografi Iwan Fals :
http://www.ziddu.com/download/15684959/BiografiIwanFals.rar.html
Selasa, 05 Juni 2012
Sinopsis Buku : Menapak Jejak Amien Rais
BUKU berjudul Menapak Jejak Amien Rais adalah jawaban
yang tepat untuk mengenal sosok Amien Rais lebih dekat dan lebih
personal. Buku ini menyajikan sisi-sisi lain kehidupan salah satu tokoh
reformasi tersebut.
Tidak mudah menyelami kedalaman jiwa seorang tokoh bangsa seperti Amien Rais, jika bukan sosok yang dekat pula dengannya. Menapak Jejak Amien Rais ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais, anak kedua Amien Rais. Sebagai penulis, Hanum menampilkan wajah Amien Rais dari berbagai sudut pandang.
Dalam buku ini, sosok Amien Rais tidak sekadar hadir sebagai seorang politisi maupun tokoh agama terkemuka melainkan sebagai seorang suami, seorang ayah, seorang teman berdiskusi, dan tentunya seorang panutan. Sudut pandang seorang anak itulah yang membuat buku ini semakin kaya dan menarik.
Hanum Salsabiela Rais tumbuh bersama dengan sang ayah. Sebagai seorang anak, Hanum tidak hanya mampu merekam kehidupan bersama Amien Rais tapi juga piawai merangkainya menjadi kisah yang menarik. Hanum juga mencatat setiap pesan-pesan yang disampaikan Amien Rais dan menuturkannya ulang dalam buku ini. Pesan-pesan yang disampaikan Amien Rais dalam buku ini mengajak setiap orang merenungi banyak hal.
Salah satu pesan dalam buku ini yang mengingatkan seseorang untuk konsisten dan bersungguh-sungguh dalam sebuah rumus sederhana: “Kalau kamu ingin sukses, sukses apa saja, kamu harus menyisihkan minimal 3 jam sehari untuk menekuni apa yang kamu sukai.” Pesan menarik lainnya seperti sebuah pesan sederhana Amien Rais kepada penulis dan semua orang: “Pernikahan adalah waktunya untuk berhenti membandingkan.”Hanum merekam suka dan duka menjadi anak seorang Amien Rais. Tentunya, ia merasakan saat-saat yang sulit ketika ayahnya dianggap sebagai musuh Orde Baru. Amien Rais yang dikenal kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah Orde Baru, menghadapi banyak tekanan dari berbagai penjuru ketika itu. Intimidasi psikologis yang juga berdampak kepada keluarganya.
Menyikapi Kekalahan
Menapak Jejak Amien Rais pun mengajarkan pada kita bagaimana menyikapi sebuah kekalahan. Pada pemilihan presiden tahun 2004, pasangan Amien Rais dan Siswono Yudhohusodo mengalami kekalahan pada putaran pertama. Di tengah-tengah rasa kecewa karena hasil perolehan suara yang menyelimuti keluarganya, seorang Amien justru berujar teduh: “Kalau mau tenang hati, ambil air wudhu, terus salat, dan baca Al-Quran.”
Sisi-sisi personal dan emosional tersaji di dalam buku Menapak Jejak Amien Rais dengan bahasa yang sederhana dan nyaman dibaca. Buku ini adalah sebuah referensi berharga untuk menyelami lebih dalam kearifan dan kebijaksanaan seorang tokoh bangsa bernama Amien Rais.
Read More..........
Tidak mudah menyelami kedalaman jiwa seorang tokoh bangsa seperti Amien Rais, jika bukan sosok yang dekat pula dengannya. Menapak Jejak Amien Rais ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais, anak kedua Amien Rais. Sebagai penulis, Hanum menampilkan wajah Amien Rais dari berbagai sudut pandang.
Dalam buku ini, sosok Amien Rais tidak sekadar hadir sebagai seorang politisi maupun tokoh agama terkemuka melainkan sebagai seorang suami, seorang ayah, seorang teman berdiskusi, dan tentunya seorang panutan. Sudut pandang seorang anak itulah yang membuat buku ini semakin kaya dan menarik.
Hanum Salsabiela Rais tumbuh bersama dengan sang ayah. Sebagai seorang anak, Hanum tidak hanya mampu merekam kehidupan bersama Amien Rais tapi juga piawai merangkainya menjadi kisah yang menarik. Hanum juga mencatat setiap pesan-pesan yang disampaikan Amien Rais dan menuturkannya ulang dalam buku ini. Pesan-pesan yang disampaikan Amien Rais dalam buku ini mengajak setiap orang merenungi banyak hal.
Salah satu pesan dalam buku ini yang mengingatkan seseorang untuk konsisten dan bersungguh-sungguh dalam sebuah rumus sederhana: “Kalau kamu ingin sukses, sukses apa saja, kamu harus menyisihkan minimal 3 jam sehari untuk menekuni apa yang kamu sukai.” Pesan menarik lainnya seperti sebuah pesan sederhana Amien Rais kepada penulis dan semua orang: “Pernikahan adalah waktunya untuk berhenti membandingkan.”Hanum merekam suka dan duka menjadi anak seorang Amien Rais. Tentunya, ia merasakan saat-saat yang sulit ketika ayahnya dianggap sebagai musuh Orde Baru. Amien Rais yang dikenal kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah Orde Baru, menghadapi banyak tekanan dari berbagai penjuru ketika itu. Intimidasi psikologis yang juga berdampak kepada keluarganya.
Menyikapi Kekalahan
Menapak Jejak Amien Rais pun mengajarkan pada kita bagaimana menyikapi sebuah kekalahan. Pada pemilihan presiden tahun 2004, pasangan Amien Rais dan Siswono Yudhohusodo mengalami kekalahan pada putaran pertama. Di tengah-tengah rasa kecewa karena hasil perolehan suara yang menyelimuti keluarganya, seorang Amien justru berujar teduh: “Kalau mau tenang hati, ambil air wudhu, terus salat, dan baca Al-Quran.”
Sisi-sisi personal dan emosional tersaji di dalam buku Menapak Jejak Amien Rais dengan bahasa yang sederhana dan nyaman dibaca. Buku ini adalah sebuah referensi berharga untuk menyelami lebih dalam kearifan dan kebijaksanaan seorang tokoh bangsa bernama Amien Rais.
Detik-Detik yang Menentukan - Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi
Mengingat bahwa buku ini ditulis berdasarkan catatan harian beliau dan
komentar berbagai surat kabar nasional pada masa itu maka buku ini
seolah-olah merupakan rekaman ulang sebuah realitas politik yang amat
mencekam saat itu. Meskipun demikian sisi-sisi kelembutan, di
tengah-tengah ketegasan sikapnya, seorang anak bangsa yang bernama B.J.
Habibie sangat jelas tergambarkan pula di dalam buku ini. (Hermawan K.
Dipojono)
Tokoh yang dengan reformasi berubah dari wakil presiden menjadi presiden dan kemudian meninggalkan kursi kepresidenannya dengan bibir yang tersenyum dan kepala yang tegak. Semua berlaku dengan konstitusional, damai, tanpa setetes darahpun yang tertumpahkan, dan kemudian membuka pintu lebar-lebar untuk para pemimpin penerusnya agar dapat mengisi momentum-momentum yang hadir dengan lebih sukses. (Hidayat Nur Wahid)
Banyak hal yang sangat menarik dari buku B.J. Habibie "Detik-Detik yang Menentukan", banyak juga yang menarik dari kepribadian penulisnya, setelah membaca buku itu. Namun demikian tidak meleset jika disimpulkan bahwa: "Buku dan penulisnya menyatu dalam kata "Demokrasi". Itulah uraian buku ini dan itu pula kunci kepribadian penulisnya yang taat beragama Islam itu. Dengan demikian terbukti bahwa tidak ada pertentangan sedikit pun antara penegakan demokrasi dan pelaksanaan ajaran Islam. (M. Quraish Shihab)
As those move further into the past, the scale and scope of Habibie's achievement seems ever more astounding and surprising. How was it that an administrative technologist with weak political skills and almost no political support could change Indonesia so rapidly, decisively and fundamentally, and in ways that no one could have expected? (Robert.E. Elson)
Kesalahfahaman seolah-olah Presiden Habibie menciptakan "bom waktu disintegrasi" melalui kebijakan desentralisasinya adalah sesuatu yang berangkat dari argumen yang keliru dan tidak berdasar. (Ryaas Rasyid)
Whether one believes in the 'Great Man' or 'Great Idea' concept of leadership, Pak Habibie succeeded, within the shortest time possible, in mobilizing every resource that was available, to launch a 'new Indonesia'. (Bilveer Singh)
Read More..........
Tokoh yang dengan reformasi berubah dari wakil presiden menjadi presiden dan kemudian meninggalkan kursi kepresidenannya dengan bibir yang tersenyum dan kepala yang tegak. Semua berlaku dengan konstitusional, damai, tanpa setetes darahpun yang tertumpahkan, dan kemudian membuka pintu lebar-lebar untuk para pemimpin penerusnya agar dapat mengisi momentum-momentum yang hadir dengan lebih sukses. (Hidayat Nur Wahid)
Banyak hal yang sangat menarik dari buku B.J. Habibie "Detik-Detik yang Menentukan", banyak juga yang menarik dari kepribadian penulisnya, setelah membaca buku itu. Namun demikian tidak meleset jika disimpulkan bahwa: "Buku dan penulisnya menyatu dalam kata "Demokrasi". Itulah uraian buku ini dan itu pula kunci kepribadian penulisnya yang taat beragama Islam itu. Dengan demikian terbukti bahwa tidak ada pertentangan sedikit pun antara penegakan demokrasi dan pelaksanaan ajaran Islam. (M. Quraish Shihab)
As those move further into the past, the scale and scope of Habibie's achievement seems ever more astounding and surprising. How was it that an administrative technologist with weak political skills and almost no political support could change Indonesia so rapidly, decisively and fundamentally, and in ways that no one could have expected? (Robert.E. Elson)
Kesalahfahaman seolah-olah Presiden Habibie menciptakan "bom waktu disintegrasi" melalui kebijakan desentralisasinya adalah sesuatu yang berangkat dari argumen yang keliru dan tidak berdasar. (Ryaas Rasyid)
Whether one believes in the 'Great Man' or 'Great Idea' concept of leadership, Pak Habibie succeeded, within the shortest time possible, in mobilizing every resource that was available, to launch a 'new Indonesia'. (Bilveer Singh)
Jumat, 01 Juni 2012
KNPI: Andi Mallarangeng Mencoreng Nama Pemuda Indonesia
Tribunnews.com - Kamis, 24 Mei 2012 14:04 WIB
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) menilai tindakan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng, telah mencoreng nama pemuda Indonesia.
Karena itu, pihaknya mendesak KPK segera mengungkap dan mengusut tuntas semua perkara hukum yang melibatkan Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat (PD).
"Sebagai menteri yang mengklaim dirinya mewakili aspirasi pemuda, seharusnya tidak terlibat dalam masalah-masalah bangsa, termasuk perkara hukum," kata Ketua Bidang Pertahanan DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Muklis Ramlan, saat mengelar audiensi dengan KPK, di Kantor KPK, Jakarta, Kamis (24/5/2012).
Nama Andi Mallarangeng kerap dikaitkan dengan kasus Wisma Atlet dan Hambalang, sebagai pihak yang ikut menerima aliran dana proyek-proyek di Kemenpora.
"Kami tidak mau menteri yang mengatasnamakan pemuda, lagi-lagi terlibat kasus yang hingga saat ini belum tuntas. Bila Pak Andi Malarangeng memang bersalah, kami meminta agar segera dituntaskan kasusnya, termasuk berbagai kasus yang selama ini menjerat beliau," tutur Muklis.
Hari ini, KPK memeriksa Andi Mallarangeng, terkait proyek pembangunan pusat pelatihan olahraga Hambalang, Jawa Barat. (*)
Langganan:
Postingan (Atom)

