Rabu, 04 Juli 2012

Jangan Pernah Mencerca Bangsa Sendiri

Banyak orang mengaku sebagai tokoh bangsa, elit bangsa, namun kerjaannya hanya mengkritik tanpa memberikan solusi. Banyak orang berbicara mengenai kebangsaan dan nasionalis, tapi tidak pernah menunjukan perilaku mecintai bangsa. Bisanya omdo alias ngomong doang. Untuk apa mengkritik, kalau hanya untuk menjelekkan bangsa sendiri. Untuk apa berkoar soal nasionalisme, kalau tidak pernah merasa bangga sebagai bagian bangsa Indonesia.
 
HR mengatakan, “Jangan pernah mencerca bangsa sendiri.” Kalimat pendek dari seorang HR itu sebenarnya menjadi sindiran untuk orang-orang yang suka berkoar. Katanya sih mengkritik, tapi ujung-ujungnya menjelekkan pemerintah, memojokan penguasa, mencari borok-borok kekuasaan. Dalam demokrasi, mengkritik itu boleh, memberikan masukan itu sah-sah saja. Tetapi ketika kritik hanya dijadikan alat untuk menjatuhkan pemerintahan atau lawan politik di pemerintah, itu tidak sehat.
Suatu ketika ada seorang elit politik yang mengaku sebagai tokoh bangsa menyatakan malu menjadi orang Indonesia. Dia berkoar-koar lewat media. Orang ini mungkin tidak sadar bahwa dia hidup di Indonesia, mencari makan di Indonesia, membangun bisnis di Indonesia, dan menghidupi  keluarganya  di  Indonesia.  Bagaimana  dia bisa berkata ‘malu’, sementara mobil yang dipakai, rumah yang ditempati, perusahaan yang dijalankannya berada di Indonesia.
 
Kembali lagi pada pernyataan HR ‘jangan pernah mencerca bangsa sendiri’. Sebagai orang Indonesia, apa yang dikatakan HR sebagai tokoh bangsa dan pejabat publik merupakan sebuah wawasan kebangsaan. Jangan mencerca, artinya kita harus mencintai bangsa Indonesia. Apa pun kondisinya, siapa pun pemimpinnya, kita harus cinta Indonesia. Ketika memberikan sambutan di Institut Teknologi Bandung (ITB) beberapa waktu lalu, HR menegaskan bentuk cinta itu bisa dilakukan dengan kerja keras, tidak gampang menyerah dan mensyukuri segala apa yang dimiliki Indonesia. Cinta, kerja keras, pantang menyerah merupakan bentuk lain dari sikap nasionalis.
 
Dalam konteks kebangsaan, apa yang disampaikan HR merupakan bentuk pemikiran seorang tokoh bangsa yang melihat Indonesia dengan hati. Sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, HR bekerja all out untuk membangun ekonomi Indonesia. Padahal dia seorang teknokrat, namun dengan semangat kerja keras, pantang menyerah, perekonomian Indonesia berhasil diangkat, sehingga disegani oleh dunia. Dalam 5 tahun terakhir atau sejak Menko Perekonomian dipegang HR, pertumbuhan ekonomi Indonesia paling stabil di kawasan Asia.
 
Menteri Pendidikan Nasional, M. Nuh bahkan mengatakan seorang teknokrat seperti HR, mampu mengalahkan para ekonom. Dalam sebuah perbincangan tidak resmi dengan beberapa wartawan, HR mengatakan kunci dari keberhasilan membangun ekonomi Indonesia adalah kerja keras. Selain kerja keras, sikap nasionalis HR yang selalu ditunjukkan dengan membanggakan Indonesia di kepada dunia luar, forum internasional dan pertemuan pemimpin dunia.
 
Dalam banyak kesempatan, lepas dari posisinya sebagai Menko Perekonomian, HR tidak pernah malu untuk mempromosikan Indonesia sebagai tempat yang indah, nyaman dan kondunsif untuk berinvestasi. Dalam kondisi terpuruk sekalipun, HR tak pernah menjelekkan Indonesia di mata dunia dan relasi internasional. Nah, kalau mau menjadi tokoh bangsa, sikap HR ini seharusnya ditiru oleh tokoh lain. Jangan hanya bisa berkoar di dalam negeri, sementara kalau dihadapkan dengan dunia internasional, selalu tidak punya nyali untuk membanggakan Indonesia.
 
Kalau semua pejabat Negara, para elit politik dan mereka yang selalu mengaku tokoh bangsa itu mau melakukan seperti apa yang dikerjakan HR, insya Allah dan hakul yakin Indonesia pasti akan menjadi bangsa yang besar, disegani dunia internasional. Kalau bukan kita yang mencintai dan membanggakan Indonesia, lalu siapa? Tidak mungkin orang Malayasia, Jepang, China atau Amerika Serikat membanggakan Indonesia. Jangan sampai kecintaan terhadap Indonesia luntur, karena itu sama saja mematikan Indonesia. Semoga HR bisa menularkan sikap kebangsaannya kepada tokoh lain. Indonesia perlu orang-orang seperti HR, yang punya wawasan kebangsaan dan kecintaan yang tinggi terhadap Indonesia yang kita cintai ini.
Read More..........

Capai Target Dua Digit, PAN Sumut Bentuk KPPW

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Sumatera Utara membentuk Komite Pemenangan Pemilu Wilayah (KPPW), guna mencapai target perolehan suara dua digit di Pemilu 2014. Pembentukan KPPW DPW PAN Sumut ini berdasarkan intruksi DPP PAN. Hal itu dikemukakan Ketua KPPW PAN Sumut yang juga Anggota DPRDSU dari Fraksi PAN, Muslim Simbolon MA kepada wartawan di gedung dewan Jalan Imam Bonjoil Medan, Selasa. "Berdasarkan hasil rapat pengurus harisn DPW PAN Sumut , Senin (18/6) malam, saya diamanahkan menjadi Ketua KPPW PAN Sumut,dengan Sekretaris Arifai Tambunan dan Bendahara Zuraidah,"kata Muslim Simbolon.

Muslim Simbolon juga Wakil Ketua DPW PAN Sumut mengatakan, pihaknya akan melakukan penyusunan kepengurusan KPPW PAN Sumut sebanyak 30 orang yang terdiri dari pengurus DPW dan kader PAN Sumut. Sedangkan Penasehat KPPW PAN Sumut yakni, Ketua DPW PAN Sumut, H Syah Afandin SH, Sekretaris dan Bendahara DPW PAN Sumut, Drs Parluhutan Siregar dan H Usman Hasibuan.

Sesuai tupoksin

Muslim Simbolon juga menjelaskan, tujuan dibentuknya KPPW PAN Sumut tugas dan fungsinya (tupoksinya) untuk menggawangi dan mempersiapkan seluruh perangkat kesiapan PAN dalam menghadapi pertarungan Pemilu 2014. "Jadi dibentuknya KPPW yang sesuai intruksi DPP PAN ini juga tujuan utamanya semata-mata untuk mencapai target dua digit yang telah diputuskan pada Rekernas PAN.

Dia juga menekankan, dengan dibentuknya KPPW PAN Sumut ini, maka diharapkan dan kita bertekad akan memenangkan suara PAN di Sumatera Utara.Muslim juga menjelaskan, adapun perangkat dibentuknya KPPW PAN Sumut yakni pengaturan logistik, saksi, juru kampanye (jurkam), rekrutmen calon legislatif (caleg), hingga pengamanan suara PAN di Pemilu 2014.

Untuk itu, lanjut Muslim Simbolon yang juga wakil rakyat asal pemilihan daerah Kabupaten Asahan, Batubara dan Kota Tanjungbalai ini, pihaknya akan segera menyusun komposisi kepengurusan KPPW PAN Sumut dengan mengakomodir seluruh potensi kader dalam melaksanakan seluruh tugas-tugas pemenangan Pemilu 2014. Bahkan, lanjut dia, pihaknya juga akan segera melakukan kordinasi kepada DPD PAN se Sumut untuk segera melakukan penyusunan KPPD di daerahnya masing-masing
Read More..........

Kamis, 28 Juni 2012

KEPEDULIAN PAN SUMUT TERHADAP KORBAN KEBAKARAN DI BAGAN DELI BELAWAN MEDAN

Sebagai wujud rasa kepedulian atas musibah kebakaran yang menghanguskan 38 unit rumah di Kelurahan Bagan Deli, Partai Amanat Nasional (PAN) menyerahkan bantuan kepada korban kebakaran di Lingkungan IV Lorong Proyek, Kecamatan Medan Belawan tersebut, Rabu (27/6).
Bantuan berupa satu ton beras serta 200 kotak mi instan diserahkan Ketua DPW PAN Sumut H. Syah Afandin, SH didampingi Ketua DPD PAN Kota Medan H Ahmad Arief, Ketua POK PAN Medan Husni Lubis, pengurus DPW PAN Sumut lainnya seperti, Ketua Litbang Hendra Cipta, Wakil Sekretaris Surkani dan Suhandi, Hakim dan lainnya, melalui panitia penanggulangan musibah di Bagan Deli.

"Musibah kebakaran ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Melalui bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban para korban kebakaran," harapnya.

Menurut H Syah Afandin yang akrab dipanggil Ondim, Walikota Medan Rahudman Harahap telah meninjau langsung korban kebakaran dan ia berjanji akan segera membangun kembali rumah yang terbakar atau ada alternatif yang ditawarkan untuk tinggal di Rusunawa. Kita berharap Walikota Medan segera merealisasikan janjinya sehingga para korban bisa tinggal kembali di tempat yang layak sebagaimana sebelumnya.

Pada kesempatan itu Ondim juga menerima masukan dari para korban yang sebagian besar merupakan nelayan. Mereka mengatakan bahwa alat tangkap mereka sebagian besar ikut rusak. "Karena itu saya juga minta kepada Pemko Medan khususnya Dinas Perikanan dan Kelautan untuk memberikan bantuan berupa alat tangkap kepada para nelayan ini. Melalui Fraksi PAN saya juga minta untuk mendesak agar persoalan alat tangkap yang rusak bisa segera diatasi sehingga nelayan bisa kembali mencari nafkah," tegasnya.

Ondim yang juga Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sumut dan salah seorang kandidat calon Gubernur Sumatera Utara ini, di samping memberikan bantuan beras dan mi instan, secara langsung memberikan uang tunai kepada salah seorang korban. "Jangan bersedih bu! Tabahlah ini merupakan cobaan dari Tuhan kepada kita," ujarnya disambut dengan isak tangis rasa haru dari ibu yang mendapat bantuan tunai tersebut.

Salah satu korban musibah kebakaran, Habibah mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh PAN. Semoga kepedulian ini dapat mereka manfaatkan. "Kami bersyukur bisa diberikan bantuan, karena beras sangat kami butuhkan untuk setiap harinya," kata Habibah
Read More..........

Kamis, 21 Juni 2012

Pidato Hatta Rajasa di Acara Ulang Tahun 13 PAN

Saudara-saudaraku para kader Partai Amanat Nasional yang saya cintai. Hari ini 13 tahun yang lalu Partai Amanat Nasional dilahirkan dari rahim reformasi Indonesia. Reformasi yang telah membawa negeri ini menjadi negeri demokrasi terbesar di dunia. Sebuah reformasi yang terbesar dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa yang modern.

Saudaraku sekalian, tidak banyak negara yang berhasil melakukan sebuah perubahan besar dan selamat. It's not only survive, but growing.

Kita tumbuh dan kita besar untuk menatap sebuah negeri masa depan yang lebih baik. Kita harus percaya diri dan kita yakin diri dari banyak alasan untuk kita tetap optimistis menatap masa depan bangsa. Karena kita adalah sedikit dari negara-negara unik di dunia ini yang bisa menggandengkan stabilitas pembangunan ekonomi dan demokratisasi yang kompleks dan rumit.

Saudaraku sekalian yang saya cintai, kita menyakini bahwa kita cukup berhasil dalam hal ini. Kita secara sadar menyakini bahwa demokrasi adalah pilihan terbaik dari sekian sistem yang tersedia. Walau terkadang kita tidak sabar dengan sebuah proses pengambilan keputusan yang panjang dan terkadang melelahkan, namun yakinlah demokrasi sebagai sebuah sistem nilai akan dapat mengantarkan rakyat Indonesia ke dalam kesejahteraan.

Kita mengamati ada saja kalangan di antara kita yang tidak sabar, ingin juga menempuh proses demokratisasi jalan pintas, yang saya istilahkan. Ada saja kalangan yang selalu bertindak atas nama rakyat, namun perilaku politiknya jauh dari logika-logika demokrasi. Sesuatu yang tidak boleh kita tempuh di dalam keluarga Partai Amanat Nasional. Sekeras apapun sebuah perbedaan di antara kita, di antara partai politik, di antara sesama warga bangsa dalam melihat sebuah perbedaan, maka haruslah selalu tersedia ruang bagi kita untuk menyelesaikannya secara demokratis.

Demokrasi haruslah kita yakini sebagai sebuah " values" atau nilai. Ia bukan sekadar alat untuk mengantarkan kita kepada sebuah tujuan, tapi ia adalah sebuah tata nilai. Nilai yang di dalamnya ada nilai-nilai kultural bangsa ini yang memperkuat solidaritas demokrasi itu sendiri, dan dari situ kita harus meyakini bahwa demokrasi ini akan mampu mengantarkan kita kepada kesejahteraan.

Kalau kita hanya melihat demokrasi hanya sebagai alat, maka kita terjebak ke dalam sebuah pertanyaan besar: Adakah alat lain yang lebih efektif untuk menggantikan alat ini untuk mencapai sebuah tujuan.

Kalau kita meyakini demokrasi sebagai sebuah nila, maka kita meyakini nilai-nilai demokrasi yang universal dalam kandungan-kandungan lokal kultural yang melekat di dalamnya, maka kita pastilah mengatakan yang salah terkadang cara kita menjalankan demokrasi itu bukan demokrasi itu sendiri.

Saudaraku sekalian, penting bagi saya untuk menyampaikan ini di tengah-tengah hiruk pikuknya politik yang terjadi saat ini. Maka ruang demokrasi untuk mencapai satu tujuan harus selalu tersedia di elemen sekecil apapun kita, di dalam proses kehidupan kita. Maka demokrasi harus menjadi satu cara nilai kita untuk menyelesaikan sebuah permasalan dan mengantarkan kita kepada satu tujuan. Selayaknya demokrasi pula sebagai pondasi dari penataan sistem politik nasional kita.

Kita tidak bisa melakukan sistem atau tata politik secara tambal sulam dan pragmatis. Kita memerlukan satu cetak biru atau desain sistem politik yang berdimensi jangka panjang. Bukan sekdar alat sesaat untuk mencapai suatu tujuan sesaat, yang secara pragmatis bisa kita ubah-ubah berdasarkan kepentingan sesaat kita, untuk mencapai tujuan sesaat pula.

Apabila itu kita hadirkan di dalam kehidupan politik kita, maka akan terjadi yang besar menelan yang kecil atau sebaliknya tirani yang kecil menyandera yang besar. Kita tidak ingin itu terjadi di dalam tata nilai politik bangsa kita ke depan ini. Untuk menuju kepada kematangan sistem kepartaian dan baca pemilu ke depan kita tidak bisa terus melakukan bongkar pasang aturan yang berubah ubah sesuai dengan kepentingan kepentingan sesaat yang saya sampaikan tadi itu.

Sistem ilmu politik harus dirancang jauh ke depan melampaui kepentingan jangka pendek partai apapun itu, siapapun itu. Maka partai politik harus bersama sama mendesain tata nilai paparan politik ke depan yang bisa kita jadikan sebagai sebuah rujukan bangsa ini.

Perangkat peraturan perundangan termasuk undang-undang pemilu yang sedang kita susun harus pula konsisten dengan 4 (empat) pilar kita berbangsa dan ber negara: Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus tercermin ruh itu di dalam setiap nafas dan batang tubuh dari apa yang akan kita desain tersebut.

Dalam bahasa yang sederhana, rumusan undang-undang politik kita selain berdimensi masa depan, namun juga tetap berlandaskan semangat "Founding Fathers" kita dalam membangun bangsa yang kita cintai ini.

Tentu saja penyederhanaan sistem politik dan sistem kepartaian kita butuhkan, namun dengan tanpa melupakan sama sekali semangat kebhinnekaan, keberagaman, dan jangan sampai pula aturan main malah membunuh keberagaman dan kebhinnekaan itu sendiri, yang merupakan salah satu pilar dan kekuatan bangsa ini.

Saudaraku sekalian, saya bukan ingin berpidato politik, karena pidato politik kita disampaikan nanti pada saat setelah kita merayakan Lebaran. Ini sekadar sebuah renungan, refleksi di bulan suci Ramadan ini. Apa yang saya samapikan tadi tidak akan ada artinya apa-apa tanpa kemampuan kita membumi. Dari apa yang kita desain, kita katakan di dalam resultante yang disebut sebagai perbuatan, langkah-langkah perbuatan kita di dalam pencapaian tujuan-tujuan.

Saudaraku sekalian, sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional yang notabene juga adalah Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, maka saya ingin menyampaikan bahwa sepantasnyalah kita bersyukur kepada bangsa ini atas kemajuan yang telah kita capai. Kalau kita kembali kepada 13 tahun yang lalu ketika kita melaksanakan reformasi di segala bidang, tidak banyak orang mengatakan bangsa ini akan survive. Bahkan lebih banyak orang mengatakan bahwa bangsa ini akan pecah berkeping-keping, bahkan ada yang mengatakan ini adalah sebuah contoh negara yang gagal.

Data-data mendukung ke arah itu, fakta pun menuju ke arah itu. Di mana ketika itu pendapatan perkapita bangsa ini baru USD500, dan ini semua antitesis kalau kemudian kita survive, karena sebagian orang mengatakan, bahkan Farid Zakaria --seorang kolumnis setenar itu-- mengatakan bahwa tidak mungkin sebuah negara akan survive melaksanakan demokrasi dengan pendapatan perkapita kurang dari 3.000 atau 4.000. Paling tidak Purchasing Power Parity nya.

Ketika itu kita mengalami konflik horisontal, bahkan konflik vertikal. Tetapi saudara-saudara sekalian, bangsa ini tetap tegar, tetap berdiri, tetap melangkah ke depan, tetap bersatu, karena memang negeri ini didirikan atas dasar keinginan kita bersama, bersama-sama untuk maju membangun negeri ini.

Orang lupa akan ada energi sosial bangsa ini yang luar biasa besarnya, yang kemudian inilah membentuk watak kita. Ketika kita dalam keadaan menghadapi tantangan besar, maka kita ingin bersatu. Sayangnya kalau kita mendapat challange atau tantangan sering kali lupa dan kemudian kita sering bekerja sendiri sendiri tanpa ada irama dan koordinasi yang baik.

Saya ingin melihat 13 tahun kemudian hari ini, pendapatan perkapita bangsa ini sudah USD3.500, GDP kita sudah di atas USD800 miliar, negara dengan kekuatan nomor 17 di dunia, masuk negara anggota G20. Ini harus kita syukuri. Walau kemiskinan kita harus kita akui masih tinggi, namun terus menurun seiring dengan lapangan kerja yang terus terbuka.

Namun saya ingin mengajukan pertanyaan kritis kepada seluruh kader Partai Amanat Nasional, angka USD3.500 hari ini kita capai membutuhkan waktu 60 tahun yang terlalu panjang, dan kita tidak ingin untuk melompat mejadi negara maju harus menunggu 60 tahun kedua. Kita ingin percepatan, kita ingin perluasan, kita tidak ingin " business as usual". Kita ingin mengubah mind set, kita ingin menangkal dan mengelola negeri ini lebih baik lebih efisien, lebih berkeadilan, mengurangi korupsi, memberantas korupsi, menantang orang yang mau melemahkan KPK, dan semua hal yang bisa menggerogoti percepatan pembangunan bangsa.

Oleh sebab itu, salah satu yang saya ajukan adalah pentingnya kita menata dan mengelola sumber sumber kekayaan negara yang ada di perut bumi ini secara lebih berkeadilan, dengan melakukan renegosiasi terhadap kontrak-kontrak yang kita rasakan tidak berkeadilan. Sesuai dengan Pasal 33 UUD 45, seluruh kekayaan itu hendaknya sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

Di sinilah kita beradu argumentasi mendesain dengan tetap menghormati apa yang ada, namun tetap mengatakan bahwa itu untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia. Di situlah kemudian kita harus melakukan suatu penataan, penataan yang lebih berkeadilan menghadirkan tangan-tangan negara. Saudaraku sekalian yang saya hormati, kita paham globalisasi sebagaimana pahamnya kita tentang sebuah kedaulatan dan kemandirian bangsa ini. Oleh sebab itu globalisasi tidaklah harus diartikan sebagai suatu pemahaman kita akan sebuah pasar bebas sebebas-bebasnya. Kita ingin menghadirkan pasar yang terbuka, pasar yang berkeadilan, pasar sosial, tapi kita menolak pasar bebas yang sebebas-bebasnya yang tidak mencerminkan dan menghadirkan sebuah keadilan bangsa.

Oleh sebab itu saudara sekalian, pekerjaan besar ke depan adalah menghadirkan kesamaan di dalam akses sumber daya kekayaan negara bagi semua warga bangsa siapapun dia, di pelosok manapun dia. Menghadirkan kesempatan yang sama serta peluang bagi semuanya.

Saudaraku sekalian..sebagaimana saya katakan tadi, ini bukan pidato politik, melainkan sekadar refleksi atau renungan di bulan suci Ramadan. Untuk itu maka saya menginginkan, mengharapkan, dan memerintahkan kepada kita semua untuk terus bekerja sebaik baiknya, bekerja cerdas. Amati setiap saudara-saudara yang berada di fraksi dalam membahas undang-undang. Jika meleset "titik", "koma, "dan", "atau", maka akan menimbulkan malapetaka bagi bangsa ini.

Saudaraku yang saya cintai, pesan saya di hari ulang tahun ke 13 kita ini, teruslah bekerja keras dan berikanlah yang terbaik yang kita miliki, bagi partai kita tercinta, bagi bangsa dan negara tercinta. Asahlah kepekaan kita, kepekaan untuk selalu peduli terhadap saudara-saudara kita yang masih belum beruntung. Selalu korbankan semangat selalu ingin berbagi, semangat selalu ingin memberi daripada menerima, kobarkan terus semangat rahmatan lil 'alamin, semangat cinta karena "love is pleasure and give", semangat selalu ingin memberi daripada meminta. Konsolidasikan kekuatan kita, dan lebarkan sayap partai hingga ke des--desa dengan menebarkan rahmat bagi sekalian alam.

Saudaraku, tidak ada jalan pintas di dunia ini untuk sebuah keberhasilan. Hanya orang-orang yang bekerja keras dan menanam di hamparan tanah yang luas yang akan memetik hasilnya. PAN adalah matahari, matahari harapan, matahari kehidupan, matahari yang menyinari kegelapan untuk sebuah negeri masa depan.

Dirgahayu Partai Amanat Nasional. Selamat berulang tahun. Semoga Allah SWT meridhoi kita semua, dan semoga di bulan suci Ramadan ini kita selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Teruslah mengobarkan semangat untuk kembali kepada fitrah di 1 Syawal 1433 Hijriah nanti. Terima kasih.
Read More..........

Mengefektifkan Komunikasi Meraih Kemenangan

Pesta demokrasi 2014 akan segera berlangsung, masing-masing partai sudah mulai mendeklarasikan calon yang diusung partainya menuju kemenangan. Apa lagi pemilihan umum saat ini, berbeda jauh dengan pemilihan pada masa Orde Baru. Saat ini, rakyat memilih langsung calon pemimpin berdasarkan keinginanya. Pemilihan secara langsung ini, menandakan begitu demokrasinya pemilihan kepala negara di negeri  ini. 
 
Beberapa waktu lalu, Hatta Rajasa telah direkomendasikannya sebagai kandidat Presiden 2014, berdasarkan rapat pleno II Rakernas PAN di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ). Terpilihnya nama Hatta sebagai peserta calon Presiden 2014, menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi partai berlambang matahari terbit ini. Sebelum rapat pleno ini digelar, dukungan terhadap Hatta mengalir deras. Baik dari kalangan elit PAN maupun kader akar rumput. Dalam dukungan ini pun Amin Rais tak mau ketinggalan, dirinya secara terus terang menyatakan dukungannya.
 
Meski Hatta didukung oleh banyak sayap dari internal PAN, seperti PARRA Indonesia, BM PAN, GMN dan lain-lain. Penulis menilai,  gerakan ini terbukti masih belum terlihat dipermukaan dan gaungannya, belum terdengar kuat ditengah-tengah masyarakat. Terkesan gerakan ini masih bersifat malu-malu kucing, tidak menunjukan penampakannya.
 
Akibat dari gerakan yang masih tersembunyi ini, penulis menilai menyebabkan masyarakat masih belum mengenal jauh sosok Hatta. Tak mengherankan jika ketua PAN sekaligus Menkoperekonomian kinerjanya  sampai saat ini, tak terlihat dipermukaan oleh masyarakat luas. Jika melihat dari kenyataan perekonomian dinegeri ini semakin membaik. Membaiknya ekonomi ini dikarenakannya kuatnya mesin ekonomi negeri ini. Ketika masing-masing calon Presiden menyibukan diri, Hatta lebih mementingkan kepentingan negara dibandingkan kepentingan politik. Seharusnya, sayap PAN mampu membaca dan menerjemahkan apa yang seharusnya mereka lakukan. Keadaan ini  menunjukan tak bekerjanya mesin politik dari tubuh PAN dan target untuk meraih double digit dirasakan sangat berat.
 
Padahal salah satu syarat untuk meraih dukungan publik adalah bekerjanya mesin politik partai.  Namun, hingga saat ini terkesan mesin politik yang dimiliki PAN, belum mampu bekerja secara maksimal dalam menyampaikan pesan politik kepada masyarakat. Untuk meraih simpatik dan dukungan bukan lah sebuah pekerjaan yang mudah, diperlukan sebuah keyakinan dan hasil kerja yang nyata. Tersumbatnya mesin politik yang dimotori oleh sayap PAN, harus segera teratasi jangan sampai pada akhirnya kinerja Hatta harus terkubur akibat ketidak mampuan dari sayap PAN menyampaikan pesan politik kepada masyarakat.
 
Apa lagi jika kita menoleh kebelakang, hasil perolehan suara PAN dari tahun ketahun mengalami penyusutan. Pada pemilu tahun 1999 PAN hanya meraih dukungan 7,12%, pada pemilu 2004 meraih 6,44% dan pada  pemilu 2009 meraih 6,01%. Kemerosotan ini seharusnya menjadi pemicu dari sayap PAN dalam menyuarakan pesan politik kepada kader. Tujuannya agar kader mampu mendongkrak dukungan dari masyarakat.
 
Dukungan dari masyarakat merupakan syarat untuk memenangkan pertempuran menuju 2014. Peran dari sayap PAN  mengkomunikasikan pesan politik, syarat mutlak untuk menjadi penentu kemenangan. Kesunguguhan sayap PAN dalam bekerja pada akhirnya menjadi penentu langkah Hatta. 
 
Seperti diketahui, untuk menjadi pemenang di 2014, tidak lah mudah. Kenyataan ini ditambah dengan adanya kandidat yang justru menguasai pemberitaan dinegeri ini. Penyampaian pesan politik dinegara demokrasi seperti Indonesia memiliki pernanan penting dalam mengiring opini publik. Sebagai contoh nyata bagaimana Obama presiden Amerika saat ini terpilih. 
 
Kepiawaian Obama beserta timnya memainkan peran dalam menyampaikan pesan politik dalam meraih dukungan mendapatkan simpatik dari pendukungnya. Mesin politik tim sukses Obama, menggunakan sarana komunikasi secara optimal. Berbagai cara digunakan untuk  mendongkrak popularitas, mulai dari pembuatan facebook, blog, dan terkesan Obama saat itu menguasai dunia maya lainnya.
 
Keberhasilan ini terbukti, dirinya merupakan kandidat dengan popularitas tertinggi dari calon lainnya. Tak cukup sampai disana, Obama juga berhasil mengumpulkan dana kampanye 600 juta dolar dari pendukungnya serta terhimpunnya 1.5 juta akun keanggotaan di medianya. Melihat realitas yang ada, sudah seharusnya sayap PAN, mampu melakukan pengiringan opini. 
 
Pengiringan ini bertujuan agar pesan politik partai mampu disampaikan kepada masyarakat. Kemampuan sayap dan kader PAN dalam mengkomunikasikan kepada masyarakat pada akhirnya menjadi penentu. Gabriel Almond (1960) menjelaskan komunikasi politik adalah salah satu fungsi• yang selalu ada dalam setiap sistem politik dan merupakan proses penyampaian pesan-pesan. 
 
Dari definisi tersebut sangat jelaslah kemampuan Hatta dan kader PAN dalam mengefektifkan komunikasi merupakan syarat yang mutlak. Apa lagi, dalam komunikasi itu terdapat element sosialisasi yang difokuskan untuk pengenalan Hatta kepada masyarakat luas. Sosialisasi ini dilakukan dengan cara melakukan konsolidasi ke daerah. Selain itu sosialisasi ini juga berperan untuk memperkokoh pondasi dukungan 
 
Kemampuan sayap dan kader PAN dalam berkomunikasi kepada masyarakat pada akhirnya menjadi titik penentu dalam memuluskan langkah Hatta menuju 2014 serta menentukan masa depan partai berlambang matahari terbit.
 
Ferry Ferdinasyah
Mahasiswa Pasca Sarjana 
Universitas Mercu Buana Jurusan Komunikasi Politik
Sumber : http://hatta-rajasa.info/read/559/mengefektifkan-komunikasi-meraih-kemenangan
Read More..........

Blogger Muda Bikin Buku Untuk Hatta

RMOL. Beberapa anak muda yang aktif menulis di blog, membuat buku untuk Ketua Umum PAN, Hatta Rajasa. Buku berjudul “HR Harapan Rakyat, Catatan dan Opini Blogger” itu dibedah di Gramedia Gandaria City, Jakarta Selatan, kemarin (Minggu, 15/4). Acara tersebut ramai dan dihadiri oleh sejumlah blogger muda dari beberapa kampus di Jakarta.

Dalam bedah buku tersebut dihadirkan pembahas, diantaranya Abdul Hakim Ms sebagai yang mewakili penulis dan editor, A. Bakir Ihsan (pengamat politik dari UIN Jakarta) dan Ali Rahman yang menjadi perwakilan para blogger muda. Menurut Abdul Hakim, buku setebal 196 halaman yang terdiri dari 7 bab dan 55 artikel itu berisi catatan ringan tentang sosok Hatta Rajasa, baik sebagai Ketua Umum PAN, Menko Perekonomian, mantan aktivis dan kepala keluarga. Selain Abdul Hakim, sosok muda yang ikut terlibat dalam penulisan dan editor adalah Tole Sutrisno dan Bawono Kumoro.

“Buku ini beda dengan buku kebanyakan yang mengangkat tema-tema serius. Buku ini berisi catatan dan artikel ringan sisi humanisme dan keseharian Hatta Rajasa,” ujar Abdul Hakim. Menurutnya, artikel mengenai Hatta dalam buku “HR Harapan Rakyat, Catatan dan Opini Blogger “ ini tidak ada yang dilebih-lebihkan. “Semua sesuai realitas, dan dialami sendiri oleh penulis,” tambahnya.

Sementara itu menurut Ali Rahman yang mewakili para blogger muda, artikel yang mereka buat adalah sebuah bentuk apresiasi kepada Hatta Rajasa. Bahkan Ali Rahman yang juga aktif dalam organisasi kepemudaan KNPI ini berharap banyak kepada Hatta untuk bisa menjadi tokoh bangsa dan memimpin Indonesia. “Secara personal dan sisi humanisme, Hatta adalah sosok yang bisa menjadi contoh bagi para pejabat, terutama menteri. Sikap yang sopan, terbuka kepada siapa pun, dan mau berbaur dengan masyarakat adalah contoh yang baik,” ujar Ali Rahman.

Secara politik, Ali Rahman dan blogger-blogger muda yang terlibat dalam pembuatan buku mendukung seandainya Hatta nanti maju dalam pemilihan presiden 2014. Mengenai dukungan politik para blogger muda itu, pengamat UIN A. Bakir Ihsan menilai sebagai sesuatu yang biasa. “Mengingat Hatta Rajasa sudah santer dikabarkan dan bahkan PAN sudah tegas mencalonkannya dalam Pemilu Presiden nanti, dukungan politik para blogger muda itu adalah sebuah kewajaran,” ujar Bakir Ihsan.

Bakir Ihsan melihat, dukungan para blogger melalui pembuatan buku adalah sesuatu yang positif. Dirinya memberikan apresiasi yang positif atas kreatifitas yang dilakukan para blogger itu. “Buku ini berbeda dengan buku personal tentang Mega atau tokoh politik lainnya. Buku ini lebih santai dan bercerita apa adanya,” tegasnya
Read More..........

BEST SINGER INDONESIAN IDOL 2012 : REGINA IVANOVA

Di Indonesian Idol 2012, Regina berhasil memukau tim juri ‘Triple A’ dengan membawakan lagu bernotasi sulit dari penyanyi Adele. Suaranya yang berat membuat penampilan Regina di babak eliminasi lalu, terdengar sangat sexy. Meski pernah mengalami kecelakaan tragis pada tahun 1995 silam yang mencederai kaki kanannya, tidak menyurutkan Regina untuk berkarir di dunia musik. Sebelum ikut Indonesian Idol, Regina adalah seorang penyanyi di sebuah cafĂ©. Menurutnya, hal ini sangat menyenangkan, karena selain mendapatkan penghasilan, ia pun dapat menyalurkan hobi bernyanyinya.

Berikut beberapa komentar juri indonesian idol 2012 tentang penyanyi ini :

AHMAD DHANI

“ "Sorry ya. Sorry saya harus katakan. Maaf sekali pada semuanya. Bahwa saya harus katakan. Kalau dalam bahasa Inggris Regina Ivanova 'You are the winner'. Saya mungkin mengecewakan beberapa penggemar-penggemar yang lain. Atau mengecewakan penggemar yang nge-vote atau yang tidak nge-vote Regina Ivanova. Tapi menurut saya 'You are the champion, you are the winner. Kamu adalah pemenang Indonesian Idol. Maafkan yang lain yaa. Yang enggak sependapat dengan saya." ”


AGNES MONICA
"Ini baru contoh penyanyi yang luar biasa. Karena kamu membawakan lagu itu enggak trying to hard to sound good. Which is great. Nah itu yang kadang-kadang sebagai penyanyi. Apalagi dengan kemampuan vokal seperti kamu yang kamu sebenarnya mau bawa ke lebih tinggi atau mau improve banyak. Sebanarnya bisa. Tapi kamu melihat jalan cerita dari lagunya. Kemudian kamu juga lihat jalan arransemennya. Itu yang susah untuk seorang penyanyi agar bisa kawin sama musiknya. Bukan hanya itu saja kamu sangat dewasa ” 


ANANG HERMANSYAH

"Aku cuma bilang adalah begini. Kemampuan kamu hari ini rakyat Indonesia yang mengikuti Idol adalah kamu menyanyi sebenarnya sudah sangat luar biasa. Kalau mungkin dipertandingkan nyanyi satu lagu yang sangat baru. Dengan Adele nih. Aku tetap megang kamu. Kenapa aku bilang begitu? Karena kemampuan bernyanyi kamu lain. Menyanyikan semua lagu. Kamu bawakan secara luar biasa. Belum tentu Adele bisa begitu. Saya minta maaf buat pendukung-pendukung Adele. Saya terus terang lagu tadi. Aku lebih suka kamu ”  
Read More..........

Rabu, 20 Juni 2012

PAN Sumut Buka Pendaftaran Balon Gubsu

Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional (DPW PAN) Sumut, mulai hari ini, Rabu (20/6) membuka pendaftaran balon (bakal calon) Gubsu/Wakil Gubsu dan siap membangun koalisi ke partai lain, guna mengikuti pertarungan Pilgubsu 2013.

Demikian dijelaskan Ketua Tim Pilkada DPW PAN Sumut Zulkifli Husein dan Wakil Ketua tim Pilkada Hendra Cipta, didampingi sekretaris tim Suhandi, wakil sekretaris Surkani dan bendahara tim Ahmad Fauzan kepada wartawan, Selasa (19/6) di FPAN DPRD Sumut.

Zuklifli Husein maupun Hendra Cipta mengatakan, pendaftaran balon Gubsu/Wagubsu di DPW PAN berlangsung hingga 20 Juli 2012, dalam rangka penjaringan calon Gubsu/Wagubsu melalui survei internal maupun eksternal.

“Survei internal akan dilakukan DPW PAN Sumut dengan melibatkan akademisi yang akan dihujuk partai,” ujar Hendra seraya menyebutkan semua balon Gubsu/Wagubsu yang sudah mendaftar akan mengikuti uji kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat Sumut dan platform partai.

Dalam upaya penjaringan calon pasangan Gubsu/Wagubsu 2013, lanjut Hendra Cipta, dari hasil uji kompetensi terhadap semua balon di level Sumut, akan diusulkan 2 pasang calon Gubsu/Wagubsu kepada DPP PAN untuk ditetapkan satu pasang calon Gubsu/Wagubsu yang akan ikut Pilgubsu.

“Acuan tim Pilkada DPW PAN Sumut sudah diatur dalam ketentuan partai dalam penjaringan balon Gubsu/Wagubsu, mulai dari pendaftaran, survei internal hingga uji kompetensi,” ujarnya.

Dalam pencalonan, lanjut Zulkifli Husein yang juga Wakil Ketua DPW PAN Sumut itu, PAN tidak bisa berdiri sendiri, tapi akan membangun koalisi dengan partai lain, karena PAN tidak memiliki kursi yang cukup untuk mengusung pasangan calon Gubsu/Wagubsu.

“PAN hanya punya 7 kursi, sehingga butuh minimal 8 kursi dari partai lain agar bisa mencalonkan untuk Pilgubsu nanti. Kita siap membangun koalisi dengan partai lain, meski banyak kader PAN yang ikut berkompetisi dengan balon lain yang bukan kader PAN untuk menjadi calon Gubsu 2013, tapi PAN tetap memperlakukan sama sesuai yang diinginkan masyarakat,” ujarnya.

Sebagai partai politik mewakili masyarakat, tambah Zulkifli yang juga anggota DPRD Sumut itu, PAN harus memahami keinginan masyarakat, figur pemimpin yang pas untuk Sumut.

Untuk itu, tambah Hendra Cipta, dalam proses penjaringan, tim Pilkada DPW PAN Sumut akan mengomunikasikan figur calon Gubsu/Wagubsu yang mendaftar menggunakan ‘kapal’ PAN, termasuk membangun komunikasi dan koalisi dengan partai lain akan dilakukan seluruh fungsionaris DPW PAN Sumut.

“Dengan keterbatasan kursi dimiliki PAN, kita tidak ingin pengalaman pahit pada Pilgubsu 2008 terulang lagi, dimana calon pasangan Gubsu/Wagubsu yang diusung dari partai lain yang kursinya lebih sedikit dari PAN,” tambah Hendra.
Read More..........

Senin, 18 Juni 2012

TOR TOR TIDAK BUTUH PENGAKUAN MALAYSIA

Malaysia kembali mengklaim hasil kebudayaan asli Indonesia menjadi miliknya. Kali ini, negeri jiran itu akan memasukkan tari Tor-tor dan Gordang Sambilan sebagai peninggalan nasional mereka. Di Indonesia, dua kesenian itu dikenal sebagai kebudayaan masyarakat Batak, Sumatera Utara. Bahkan, tari Tor-tor selalu ditarikan dalam upacara adat masyarakat Batak. Namun kini, Malaysia dengan berani akan meregistrasi kebudayaan itu berdasarkan Bab 67 Undang-undang Peninggalan Nasional 2005.

Tor-tor bagi masyarakat mandailing mengandung banyak nilai dan makna, nilai tradisi leluhur, nilai historis bahkan nilai karakter yang ada dalam diri masyarakat mandailing. Dan yang menjadi agak aneh adalah ketika Komunitas Mandailing di Malaysia meminta saudara mereka di Indonesia memahami usulan soal tari Tor-tor masuk dalam warisan kebudayaan negeri jiran. Salah satu alasannya adalah agar Tari Tor-tor bisa lestari dan mendapat pengakuan negara, tidak hanya dipentaskan di rumah saja. "Kami sudah 200 tahun di sini, sebelum wujud Malaysia dan Indonesia, kami sudah ada di sini" kata mereka sehingga mereka menganggap perlu diakui juga oleh pemerintahnya dan hal itu bukanlah klaim malaysia.

Yang sedikit terlupakan oleh saudara kita yang berada di Malaysia adalah bahwa pemerintah Malaysia mencoba mendaftarkannya sebagai salah satu peninggalan nasional mereka. Hal yang sangat kontras jika mencoba membandingkan tarian barongsai di era Gus Dur yang memperbolehkan pertunjukkannya di Indonesia, dan mungkin saudara kita itu tidak mengetahui bahwa Indonesia tidak pernah menjadikannya sebagai peninggalan nasional karena memang tarian itu bukan lahir di Indonesia.

Dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat mandailing sudah sangat tersebar ke berbagai belahan dunia, menurut situs web Mandailing.org, masyarakat Mandailing merantau dalam gelombang besar ke pesisir barat Malaysia pada beberapa dekade pertama abad ke 19 akibat Perang Paderi, saat Indonesia belum lahir dan masih bernama Hindia Belanda yang merupakan wilayah jajahan Belanda. Hingga kini, keturunan orang-orang Mandailing masih banyak berada di wilayah negara bagian Negeri Sembilan, Perak, Pahang dan Selangor di Malaysia. 

Semisal migrasi orang jawa ke Suriname sehingga banyak budaya jawa menjadi bagian tidak terpisahkan dari negara itu, dan sekali lagi Suriname tidak juga menganggapnya sebagai peninggalan negeri mereka, tetapi dengan banyaknya kaum migran jawa di Suriname menjadikan budaya jawa ikut menjadi lestari tanpa harus mendapatkan pengakuan dari pemerintahnya 

Tor-Tor akan selalu hidup dan lestari selama masyarakat mandailing melestarikannya dimana saja tanpa perlu adanya pengakuan dari suatu negara.

Sedikit informasi tentang tari Tor-Tor 

Tari tor-tor bisa diiringi dengan iringan musik magondangi. Tarian ini dimainkan dengan dibarengi alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak. Bahkan, banyak masyarakat percaya tarian itu sebagai ritual yang berhubungan dengan pemanggilan roh. Roh tersebut dipanggil kembali dan masuk ke dalam patung-patung batu. Mereka percaya ini merupakan simbol penghormatan terhadap leluhur. Kemudian, patung-patung itu bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan kaku. Gerakan itu seperti gerakan kaki sedang jinjit dan gerakan tangan.

Pada perkembangannya, jenis tor-tor menjadi beragam. Ada yang dinamakan tor tor Pangurason (tari pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Mereka beranggapan, sebelum pesta dimulai tempat pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.

Selanjutnya, ada tari tor-tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).

Terakhir, ada tor tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.

Dahulu, tarian ini juga dilakukan untuk acara seremoni ketika orangtua atau anggota keluarganya meninggal dunia. Kini, tari tor-tor biasanya digunakan untuk acara acara seremonial di daerah Sumatera Utara dan dibeberapa daerah yang memiliki komunitas masyarakat mandailing.



Read More..........

Kamis, 14 Juni 2012

Kongres Mahasiswa Sumatera Utara....

Sebuah Gagasan Yang Ideal Dari Kaum Intelektual Muda

(14/06/2012) Semakin dekat perhelatan akbar masyarakat Sumatera Utara dalam pesta demokrasi pemilihan gubernur sumatera utara (pilgubsu), semakin membuat banyak kalangan mendiskusikannya dalam berbagai tingkatan kemampuan diskusinya, mulai dari warung kopi dari kalangan masyarakat yang awam terhadap perpolitikan lokal sumatera utara, ibu-ibu rumah tangga juga tidak mau ketinggalan untuk bisik bisik kalaulah tidak mau dikatakan pergunjingan kaum ibu tentang calon yang dianggap layak memimpin propinsi yang menjadi pintu masuk bagian barat dari negeri kita ini.

Pagi tadi diwarung sarapan pagi yang biasa, saya dan beberapa fungsionaris DPW PAN Sumut mendampingi H. Syah Affandin (Ondim) Ketua DPW PAN Sumut untuk diskusi ringan dengan beberapa elemen mahasiswa dari kelompok cipayung seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Medan, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Medan serta Penegak Amanat Reformasi Rakyat (PARRA) Sumut. Diskusi yang dimulai dari hanya sebuah cakap-cakap tentang pilgubsu yang akan berlangsung pada 2013 mendatang.

Dalam kesempatan yang unik itu, Ondim menyatakan beberapa agenda mendesak bagi sumatera utara yang harus menjadi bahan evaluasi bagi kalangan kampus termasuk mahasiswa, mahasiswa yang dianggap memiliki kemampuan yang melebihi masyarakat biasa harus berperan aktif dan tidak ikut-ikutan berpolitik sebab mahasiswa merupakan agen perubahan yang harus teguh mengawal proses demokrasi di sumatera utara, mengaktualisasikan diri melalui dialog lebih bijaksana dibandingkan harus teriak dijalanan.

Salah seorang aktivis mahasiswa menyatakan ide untuk menggelar Kongres Mahasiswa Sumatera Utara, yang akan dihadiri oleh perwakilan organisasi formal dan informal kampus dari seluruh sumatera utara, gagasan yang brilian dari cakap-cakap dipagi hari. Saya jadi teringat dengan masa lalu dimana menjadi salah satu inisitor dari kalangan aktivis 98 menggelar Kongres Mahasiswa Sumatera dengan membawa isu "Sumatera Merdeka" yang memang menjadi isu cukup seksi pada masa itu, mudah-mudahan saja ide kongres mahasiswa sumatera ini dapat terwujud dan melahirkan banyak rekomendasi bagi kemaslahatan masyarakat sumatera utara.

Ondim pun sangat menyambut baik gagasan ini, bahkan memberi muatan bagi mahasiswa agar ada output yang cerdas dan menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di propinsi sumatera utara.

Hmmmm..... sarapan pagi yang menarik.
Read More..........
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...