Senin, 21 September 2015

Rasa Pahit itu akan Tetap Pahit

Alkisah seorang pertapa, yang suka mengembara dari satu tempat ke tempat lain, bermeditasi, mencari kedamaian batin dan menjadi satu dengan ciptaan Tuhan. Seperti semua pertapa, ia menjalani hidup secara sederhana.
Dalam perjalanan pengembaraannya, ia sampai pada sebuah kerasaan. Saat itu adalah musim hujan, dan ia disambut sebagai tamu kerajaan. Ia diperlakukan dengan hormat dan setiap waktu ia bisa menghabiskan waktunya dengan damai. Ia tinggal di taman kerajaan dan menghabiskan waktunya dalam meditasi.
Raja dikarunia seorang putra, tapi ia memiliki masalah yang sangat besar. Pangeran itu seorang laki-laki yang mudah sakit hati, ia mudah sekali marah. Raja mencoba yang terbaik untuk mengubah sifat anaknya. Ia selalu memberikan apa yang diinginkan anaknya, termasuk semua kekayaannya. Namun, sayangnya semua upayanya itu gagal. Raja sampai putus asa. Ia memiliki pewaris tahtanya, tapi siapa yang akan mentolerir seorang raja yang pemarah? Maka, Raja meminta bantuan sang pertapa itu.
Suatu hari, pertapa dan pangeran sedang berjalan-jalan di taman kerajaan. Pertapa memintanya untuk mencicipi daun tanaman di dekatnya. Saat pangeran mencicipi daun itu, ia memuntahkannya karena pahit.
Melihat itu, sang pertapa berkata, “Ini adalah daun dari tanaman muda, tetapi belum begitu pahit. Bayangkan betapa pahitnya itu akan dirasakan ketika pohon itu tumbuh membesar.”
Mendengar itu, pangeran muda menyadari apa yang dimaksud sang pertama. Ia masih muda, tetapi memiliki temperamen yang paling mengerikan. Jika ayahnya sendiri saja tidak bisa mentolerir ini, seberapa buruk orang lain harus merasakan itu? Dan apa yang terjadi ketika ia matang menjadi seorang pria? Sifat buruk itu akan tumbuh terus, seperti pahitnya daun di pohoh. Pangeran merasa benar-benar rendah hati dengan pelajaran yang diberikan sang pertama, karena telah mengajarinya dengan begitu lembut.
Sejak saat, pangeran muda mencoba untuk memperbaiki sifatnya dan menjadi orang yang lebih baik lagi.
Read More..........

Jumat, 18 September 2015

Juara Piala Kemerdekaan, Punggawa PSMS Disambut Plh Wali Kota Medan

Seribuan pendukung setia PSMS Medan menyambut kedatangan Tim Ayam Kinantan di Lapangan Benteng Medan, Selasa (15/9/2015). Dengan penuh histeris mereka tak putus-putusnya mengelu-elukan para punggawa tim besutan Suharto AD usai keluar sebagai kampiun Piala Kemerdekaan 2015 setelah menang dramatis atas Persinga Ngawi di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Minggu (13/9/2015). 
Sukses Legimin Raharjo cs ini langsung mendapat apresiasi penuh dari Pemko Medan, terutama Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Medan Ir Syaiful Bahri Lubis.

Sebagai bentuk apresiasi dan rasa terima kasih atas perjuangan para punggawa PSMS yang telah tampil habis-habisan sepanjang pertandingan, sehingga berhasil mengakhiri puasa gelar setelah terakhir kali keluar sebagai juara Perserikatan tahun 1985, Plh Wali Kota pun membuat syukuran sederhana di Lapangan Benteng bersama dengan para suporter fanatik PSMS seperti SMEcK dan Kampak maupun organisasi masyarakat.

Sebelumnya mantan Kepala Bappeda Kota Medan itu menyambut kepulangan seluruh punggawa Ayam Kinantan di Kuala Namu International Airport (KNIA). Rombongan baik itu pemain, pelatih dan manajemen dikalungi bunga sebagai ucapan rasa terima kasih. Setelah itu rombongan pemain diarak keliling Kota Medan bersama dengan piala kebanggaan yang baru berhasil direbut. Keberhasilan ini diharapkan menajdi momentum kebangkitan sepakbola di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan yang sudah lama mati suri.

Menurut Plh Wali Kota, syukuran sederhana  ini digelar karena PSMS merupakan ikon Kota Medan. Untuk itu dia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersungguh-sungguh memberikan perhatian kepada tim yang dibentuk tahun 1950 tersebut. Apalagi  tim berlambang daun tembakau ini telah menunjukkan prestasi kepada seluruh pecinta sepakbola di Sumut, khususnya Kota Medan dengan menjauarai Piala Kemerdekaan 2015.

“Saya berharap prestasi hari ini menjadi bagian dari motivasi dan semangat dalam berprestasi di kemudian hari. Euforia ini jangan sampai berlarut-larut, sebab tantangan ke depan jauh lebih sulit lagi  dari pada apa yang kita raih hari ini. Teruslah berlatih dan tingkatkan  kualitas, sehingga gelar juara dapat diraih kembali PSMS dalam kejuaraan apapun. Sudah saatnya PSMS bangkit dan berjaya kembali setelah sekian lama minim prestasi,” kata Plh Wali Kota.

Selanjutnya Syaiful mengungkapkan, keberhasilan PSMS ini tidak terlepas dari campur tangan orang-orang yang selama ini memberikan perhatian penuh yakni Pangkostrad Letjend TNI Edy Rahmayadi. Sebab, mantan Pangdam I/BB itu telah memacu semua untuk mendukung kebangkitan PSMS. Untuk itulah kepeloporan Pangkostrad dapat diteruskan dan terus menjaga Ayam kinantan agar tetap memberikan prestasi yang membanggakan.

“Kita berharap akan ada Bapak Edy Rahmayadi lainnya yang siap menyokong tim kebanggaan warga Sumatera Utara dan Kota Medan ini, sehingga PSMS Medan kembali berjaya di kancah persepakbolaan tanah air. Sekali lagi atas nama seluruh jajaran Pemko Medan dan warga Kota Medan, saya mengucapkan terima kasih atas prestasi ini. Kami semua menunggu prestasi-prestasi selanjutnya,” harapnya.

Selain doa bersama, syukuran juga diisi dengan pemotongan nasi tumpeng yang dilakukan Plh Wali Kota. Potongan nasi tumpeng itu langsung diberikan kepada il capitano PSMS Legimin Raharjo. Kemudian unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) Sumatera Utara dan Kota medan secara bergiliran memotong tumpeng dan menyerahkannya kepada pengurus serta perwakilan supporter fanatik Ayam Kinantan.

Syukuran ini turut dihadiri Sekda Provinsi Sumatera Utara H hasban Ritonga SH, unsur FKPD Sumut dan Kota Medan, Drs Dzulmi Eldin S MSi tokoh masyarakat sekaligus penasehat PSMS, mantan pemain PSMS,  tokoh-tokoh olahraga, pimpinan SKPD Provinsi Sumut dan Kota Medan, serta  Ketua MPC PP Kota Medan AR Batu Bara.

Ketua Umum PSMS Medan, Dr Mahyono mengaku sangat bangga dengan prestasi yang baru ditorehkan ini, sebab sudah lama tim yang juga berjuluk The Killer tidak meraih prestasi. Menurut dia, keberhasilan ini tidak terlepas dari sosok Pangkostrad Letjend TNI Edy Rahmayadi yang berhasil membangkitkan kembali Ayam kinantan dari mati suri dan berhasil kembali juara.

“Inilah titik awal kebangkitan sepakbola di Sumut dan Kota Medan. Ke depan mari kita sama-sama menjadikan Medan sebagai industri sepakbola. Untuk itu kita harus terus melakukan pembinaan sehingga melahirkan bibit-bibit  pesepakbola yang mampu mengharumkan nama daerah ini dalam persepakbolaan nasional maupun internasional,” ungkap Mahyono.

Sedangkan tokoh masyarakat sekaligus penasehat PSMS, Drs H T Dzulmi Eldin S MSi, menegaskan seluruh lapisan masyarakat harus membela dan membantu PSMS agar terus meraih prestasi.  Salah satu upaya yang harus dilakukan dengan memperbaiki fasilitas para pemain seperti perbaikan Stadion Teladan dan Mess Kebun Bunga.

Rombongan punggawa PSMS tiba di KNIA sekitar pukul 09.00 WIB. Selain PLH Wali Kota, rombongan juga disambut Kolonel KF Siregar selaku penanggung jawab PSMS, Dandim 0201/BS Letkol Inf Maulana Ridwan, Ketua DPRD Medan Hendry Jhon Hutagalung serta perwakilan supporter. Usai pengalungan bunga, rombongan selanjutnya diangkut dengan belasan mobil terbuka diiringi seribuan suporter PSMS menuju Lapangan Benteng.

Arak-arakan ini melintasi Tanjung Morawa, Amplas, Jalan Ring Road. Kodam I/BB, Jalan Gatot Subroto, Jalan Iskandar Muda, Jalan gajah Mada, Jalan S Parman, Jalan Kapten Maulana Lubis dan berakhir di Lapangan Benteng. Selama perjalanan dari bandara menuju Lapangan Benteng, masyarakat pun mengelu-elukan para punggawa PSMS sambil  berteriak, “Hidup PSMS” berulangkali.(mbz/mdn)

SUMBER : http://www.medanblitz.com/berita-3497-juara-piala-presiden-punggawa-psms-disambut-plh-wali-kota-medan.html
Read More..........

Mengenal PSMS Medan, Juara Piala Kemerdekaan 2015

Lama tenggelam dari belantika sepak bola Tanah Air, PSMS Medan akhirnya muncul ke permukaan. Tim berjuluk Ayam Kinantan itu menunjukkan tajinya usai merebut gelar juara di Piala Kemerdekaan yang digagas Tim Transisi Menpora. 

Final turnamen yang diikuti tim-tim Divisi Utama ini digelar di Gelora Bung Tomo, Surabaya. Meski tampil di "Tanah Rantau" toh anak-anak Medan tidak gentar dan tampil cukup tenang sepanjang pertandingan.  

Menghadapi Persinga Ngawi, Legimin Raharjo Cs sebenarnya sempat tertinggal menit ke-26 lewat gol Jefri Kurniawan. Perjuangan Ayam Kinantan kian berat setelah wasit mengusir Asrul Rohundua menit ke-38 akibat 2 kartu kuning.

Namun dengan 10 pemain PSMS justru tampil lebih terorganisir. Ayam Kinantan bahkan menyamakan kedudukan lewat gol Aldino Herdianto pada menit ke-61 memanfaatkan tendangan bebas pemain lawas Ayam Kinantan Legimin Raharjo. 

Permainan kembali berlangsung semakin ketat. Namun Legimin tampil sebagai pahlawan PSMS usai mencetak gol pada pada menit ke-91. Pemain 34 tahun itu merobek jala Persinga dan mengubah kedudukan menjadi 2-1 untuk PSMS. 

Kemenangan ini seakan membangkitkan kembali memori kebesaran PSMS. Di era perserikatan tim asal Kota Medan itu sempat menjadi momok bagi lawan-lawannya. Sepak bola "rap-rap" khas anak Medan plus dukungan fanatik suporternya membuat tim berjuluk Ayam Kinantan disegani tidak hanya di dalam negeri tapi oleh tim-tim manca negara.
Read More..........

Ini Topi Setya Novanto dari Donald Trump yang Diungkit KPK

Pimpinan sementara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Indriyanto Seno Adji meminta Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto dan Wakil Ketua Fadli Zon melaporkan topi yang mereka terima dari bakal calon Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Rombongan DPR termasuk Setya Novanto dan Fadli Zon menerima topi tersebut saat menghadiri kampanye Trump di New York. "Kalau memang ada pemberian topi, sebaiknya dilaporkan ke kami," kata Indriyanto dalam pesan singkat, Selasa, 14 September 2015.

KPK, lanjut dia, akan menilai apakah pemberian tersebut tergolong gratifikasi atau bukan. Indriyanto meminta Setya dan Fadli Zon meniru langkah Presiden Joko Widodo. Jokowi pernah menerima bingkisan berupa bas dari personel band Mettallica. Pemberian itu dilaporkan Jokowi pada KPK karena dianggap gratifikasi.

Ketika Fadli dan Ketua DPR Setya Novanto bertemu dengan Trump, politikus Partai Gerakan Indonesia Raya tersebut mengaku hanya mendapat sebuah bingkisan dari staf Trump. Fadli mengaku bingkisan itu merupakan suvenir dari pertemuannya dengan Trump. "Tidak ada fee atau amplop sama sekali. Yang ada hanya bingkisan yang isinya kalau tidak salah sebuah topi bertuliskan Trump," kata Fadli 15 September.
Sebelumnya, Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan DPR Junimart Girsang menduga ada uang yang terlibat dalam pertemuan Setya Novanto dan kawan-kawan dengan Donald Trump. Uang itu ditengarai sebagai fee atau bayaran dari pertemuan tersebut. "Setelah pertemuan, ternyata Donald Trump katanya memberi fee kepada S," ucap Junimart. 

Selain topi bergambar Trump, Fadli membawa oleh-oleh dalam lawatannya ke Amerika Serikat berupa beberapa buku karangan Trump. Buku itu berjudul Trump 101 dan Trump: The Art of the Deal. Ada pula majalah Time edisi 18 Agustus 2015 bergambar muka Trump dengan judul Deal with It.

Tapi Fadli menegaskan, ia membeli sendiri buku-buku karangan Trump tersebut. Dia mengaku membeli buku-buku itu dengan maksud agar bisa ditandatangani oleh Trump. "Kemudian tentu saja kami selfie. Mudah-mudahan, selfie belum terlarang, ya," ujarnya.

Undang-undang KPK mengatur bahwa setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya. Pemberian memiliki arti luas, meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.
SUMBER : http://nasional.tempo.co/read/news/2015/09/15/078700884/ini-topi-setya-novanto-dari-donald-trump-yang-diungkit-kpk
Read More..........

7 Fakta Konser Bon Jovi Live in Jakarta 2015

Band rock asal New Jersey, Bon Jovi telah berhasil meninggalkan kesan baik bagi para penggemarnya di Indonesia. Melangsungkan konser bertajuk Bon Jovi Live in Jakarta pada 11 September lalu, pemilik album Burning Bridges ini mendapat sambutan luar biasa dari para penonton.
Kedatangan band sekelas Bon Jovi tentu tak dilewatkan begitu saja oleh para penggila musik. 40 ribu tiket yang dijajakan ludes terjual meski beberapa kelas menawarkan harga yang 'wah'.
Tak hanya soal harga tiket, ada beberapa hal menarik yang tersaji dalam konser kedua Bon Jovi di Indonesia tersebut. Apa saja yang terjadi saat konser Bon Jovi di GBK? Simak fakta-faktanya berikut ini.
1. Tiket ludes dalam waktu sekejap
Nama Bon Jovi memang seperti punya daya magis bagi penggemarnya. Sejak tiket resmi dijual, tiket VIP langsung lenyap dalam waktu 4 hari. Padahal, tiket VIP dijual dengan harga selangit, yakni sekitar 3 jutaan. 
2. Setlist di luar dugaan
Beberapa hari lalu, Bintang.com sempat memberikan prediksi setlist yang akan ditampilkan Bon Jovi di GBK. Namun ternyata band gaek ini punya rencana lain. Tak menggelontorkan seluruh hits legendaris, Jon dkk banyak membawakan lagu baru. 
3. GBK 'memanas' sejak Jumat (11/9) pagi
Sejak pagi menjelang siang hari, Stadion Utama Gelora Bung Karno sudah dipenuhi dengan fans. Mencari tempat strategis, mereka sudah memadati arena konser bersaing dengan puluhan ribu penonton lain.
4. Bon Jovi 'rasa' lokal
Band sekelas Bon Jovi hanya membawa 15 kru sepanjang tur Asianya. Mereka juga menggunakan sound system, lighting dan perlengkapan lainnya dari produk lokal. Dengan fakta tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia bisa menyuguhkan tontonan kelas dunia dengan produk sendiri.
5. Judika dan Sam Tsui jadi pembuka manis
Judika membuka kemeriahan konser Bon Jovi dengan suaranya yang menggelegar. Ia juga memimpin puluhan ribu penonton menyanyikan lagu Indonesia Raya yang menggetarkan seisi stadion termegah di Jakarta tersebut. Tak ketinggalan, suara emas Sam Tsui juga menjadi pembuka yang manis dalam konser akbar tersebut.
6. Indonesia tujuan pertama Bon Jovi tur Asia
Siap menggelar tur di beberapa negara Asia, Bon Jovi memilih Indonesia sebagai destinasi pertama. Hal ini membuat fansnya di Indonesia merasa bangga dan merasa lebih dekat dengan para rocker tersebut.
7. Ketika calo 'menggila'
Meski sudah diminimalisir, kehadiran calo tetap menghiasi konser manapun, termasuk Bon Jovi. Bahkan tiket mereka tawarkan dengan harga tiga kali lipat dari harga normal. Penonton pun bimbang karena 40ribu tiket habis terjual dan panitia tak menyediakan tiket tambahan
Read More..........

Sibuk Atur Lalulintas, Polisi Ini Ditampar Pria Tionghoa

Seorang pemilik toko genset di Jalan Surabaya, Kecamatan Medan Kota menampar polisi lalulintas. Pria etnis Tionghoa itu tak senang saat diminta memindahkan mobilnya karena telah membuat kemacetan panjang.
Informasi yang dihimpun medansatu.com, Selasa (15/9/2015) menyebutkan, peristiwa itu dialami oleh Brigadir Fandi, anggota Satlantas Polresta Medan. Peristiwanya terjadi kemarin petang. Saat itu ia sedang bertugas mengatur arus lalulintas di Jalan Surabaya Simpang Jalan Pandu.
Karena ada mobil yang diparkir dua lapis di depan toko genset, kemacetan panjang pun terjadi hingga ke Jalan Pandu. Brigadir Fandi lalu mendatangi toko genset itu. Ia meminta agar mobil penyebab kemacetan itu dipindahkan ke tempat lain, sehingga tidak menghalangi arus lalulintas.
Tiba-tiba saja pemilik mobil yang juga pemilik toko genset itu keluar dari rukonya. Ia langsung marah-marah, dan langsung menampar wajah Brigadir Fandi. Polisi ini hanya diam saat ditampar, ia tak melakukan perlawanan.
Bersama rekannya, Brigadir Fandi lalu memanggil kepala lingkungan (kepling). Bersama kepling, Brigadir Fandi dan rekannya lalu masuk ke dalam ruko. Namun pria Tionghoa yang menamparnya tak ada lagi di dalam.
Kasus penganiayaan dan penghinaan ini lalu dilaporkan Brigadir Fandi ke Polsek Medan Kota. Namun saat akan membuat laporan, Brigadir Fandi mendengar pria Tionghoa penamparnya akan membuat laporan balik ke Polresta Medan. Brigadir Fandi pun langsung cabut, dan membuat laporan ke Polresta Medan.
“Awalnya akan membuat laporan di sini, tapi yang nampar juga membuat laporan ke Polresta Medan. Makanya Brigadir Fandi juga membuat laporan ke Polresta Medan,” ujar Kapolsek Medan Kota, Kompol Ronald F Sipayung saat dikonfirmasi.
SUMBER : http://medansatu.com/berita/9258/sibuk-atur-lalulintas-polisi-ini-ditampar-pria-tionghoa/
Read More..........

KPK Periksa 107 Mantan dan Anggota DPRD Sumut

Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah selesai melakukan pemeriksaan para mantan dan anggota DPRD Sumatera Utara di Markas Komando Brimob Polda Sumut, Jalan Wahid Hasyim Medan.
Sejumlah 107 mantan dan anggota dewan yang telah menjalani pemeriksaan KPK di Mako Brimob tersebut, dimulai sejak Senin (14/9) sampai Kamis (17/9). Inilah 107 daftar nama anggota dan mantan anggota DPRD Sumut yang diperiksa KPK di Mako Brimob:
Senin 14 September 2015
Muslim Simbolon, Robert Nainggolan, Marahalim Harahap, Mustofawiyah, Rahmat P Hasibuan, Khairul Fuad, Ahmad Ikhyar Hasibuan (batal diperiksa KPK karena menunaikan ibadah haji), Ramli Sopar Siburian, John Hugo Silalahi, Megalia Agustina, M Faisal, Hardi Mulyono, Analisman Zalukhu, Hidayatullah, Aduhot Simamora, Elezaro Duha, Rinawati Sianturi, Washington Pane, Oloan Simbolon, Sonny Firdaus, Yan Syahrin, Mulyani, Rooslynda Marpaung, Imam B Nasution, dan Abu Bokar Tambak.
Selasa 15 September 2015
Ali Jabbar Napitupulu, Palar Nainggolan, Tahan M Panggabean, Rijal Sirait, Hasbullah Hadi, Layari Sinukaban, M Yusuf Siregar, Meilizar Latif, Fadly Nurzal, Enda Mora Lubis, Ida Budiningsi, T Dirkhansyah Abu Subhan Ali, Ristiawati, Arifin Nainggolan, Nurhasanah, Tunggul Siagian, Jamaluddin Hasibuan, Tiasisah Ritonga, Andi Arba, Bustami HS, Tohonan Silalahi, Arlene Manurung, Darmawan Sembiring, Murni Elieser, Verawaty Munthe, dan Rahmianna Delima Pulungan.
Rabu 16 September 2015
Parluhutan Siregar, Biller Pasaribu, Mulkan Ritonga (gagal diperiksa karena sakit), Janter Sirait, Isma Padly Ardya Pulungan, Helmiati, Richard Eddy M Lingga, Evi Diana, Syafrida Fitrie, Sudirman Halawa, Indara Alamsyah (2014-2019), Japorman Saragih, Taufan Agung Ginting, Budiman P Nadapdap, Syamsul Hilal, Alamsyah Hamdani, Brilian Moktar, Effendi S Napitupulu, Tagor Pandapotan Simangunsong, Fahru Rozi, Irwansyah Damanik, Dtm H Abul Hasan Maturidi, Ahmad Hosen Hutagalung, Nurul Azhar Lubis, Tones Sianturi, dan Zulkifli Efendi Siregar.
Kamis 17 September 2015
Ajib Shah, Kamaluddin Harahap, Zulkarnain (Zul Jenggot), Muhammad Afan, Sigit Pramono Asri, Saleh Bangun, Chaidir Ritonga, Eddi Rangkuti, Muhammad Nuh, Restu Kurniawan Sarumah, Nur Azizah Tambunan, Musdalifah, Amsal Nasution, Pasiruddin Daulay (Ance), Taufik Hidayat, Hamamisul Bahsan, Muhammad Nasir, Ahmad Aswan Waruhu, Ferry Suando Tanury Kaban, Siti Aminah, Raudin Purba, Zulkifli Husein, Basyir (menunaikan ibadah haji), Ikhrimah Hamidi (2014-2019), Syahrial Harahap, dan Timbas Tarigan.
Selain memeriksa para mantan dan anggota DPRD Sumut di Mako Brimob, KPK juga memeriksa beberapa pejabat di Pemerintah Provinsi Sumut di antaranya  Sekwan DPRD Sumut, Randiman Tarigan hadir pada Selasa (15/9). Kadis Tarukim Sumut, Binsar Situmorang dan Kabiro Hukum Setdaprovsu, Sulaiman Hasibuan pada Rabu (16/9). Kadistamben Sumut, Edi S Salim dan Kabiro Hukum Setdaprovsu, Sulaiman Hasibuan pada Kamis (17/9).
SUMBER : http://waspada.co.id/medan/107-mantan-dan-anggota-dprd-sumut-diperiksa-kpk/
Read More..........

Wali Kota Getafe secara langsung menyambut kehadiran pengungsi asal Suriah, Osama Abdul Mohsen yang sempat mendapat perlakuan buruk di Hungaria.

Osama Abdul Mohsen, seorang pengungsi asal Suriah yang sempat menghiasi tajuk media internasional akibat dijegal reporter Hungaria, Petra Laszlo, mendapat kesempatan untuk berkarier sebagai pelatih di Getafe, Spanyol.
Mohsen sebelumnya telah teridentifikasi pernah bekerja sebagai pelatih di klub kasta tertinggi liga domestik Suriah, Al Fotuwa SC, sebelum perang dalam negeri memaksanya untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Setelah menarik perhatian dunia dengan kejadian penjegalannya saat berlari melintasi perbatasan Serbia-Hungaria, kini Mohsen bersama putranya yang berusia tujuh tahun, Zaid, telah tiba di Madrid untuk memulai kehidupan baru di sana.
"Kami akan bekerjasama dengan [klub] Getafe, jadi Osama Abdul Mohsen dapat melatih di sana, sebagaimana ia punya pengalaman itu. Sementara putranya, Zaid bisa bermain dan bukan tak mungkin bisa juga berkembang bersama klub Spanyol lainnya," ujar wali kota Getafe, Sara Hernandez.
"Cukup menyedihkan karena mereka terkenal karena insiden penjegalan oleh seorang jurnalis wanita, yang menunjukkan sikap xenophobia dan tanpa toleransi. Namun Getafe akan memberikan apa yang mereka seharusnya butuhkan."
sumber : http://www.goal.com/id-ID/news/1367/asia/2015/09/17/15449352/pengungsi-suriah-ini-bakal-melatih-di-spanyol
Read More..........

Ini Sosok Pengungsi Suriah yang Ditendang Kameramen TV Hungaria

Nama Osama Abdel-Mohsen al-Atharu mungkin masih terdengar sangat asing. Padahal, gambar dirinya sudah beredar di seluruh dunia, terutama lewat media sosial.

Atharu adalah sosok pengungsi Suriah yang ditendang oleh seorang kameramen televisi Hungaria, Petra Laszlo saat terjadi kericuhan di tempat penampungan pengungsi di Roszke, Hungaria beberapa waktu lalu.

Melansir Al Arabiya pada Minggu (13/9/2015), Atharu hanyalah salah satu dari ratusan ribu orang yang hidupnya hancur akibat krisis di Suriah. Sebelum konflik pecah, hidup Atharu terbilang cukup sempurna. Dirinya diketahui adalah seorang pelatih dan mantan pejabat di klub Foutowa di Deir Al-Zour, salah satu provinsi Suriah.

Hidupnya mulai berantakan ketika konflik mulai pecah di Suriah empat tahun lalu. Kehidupannya semakin amburadul setelah dirinya memutuskan untuk mendukung pemeberontak Suriah, dan turut melakukan perlawanan terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Akibat keputusannya ini, dia ditangkap dan dipenjara di salah satu penjara di Deir Al-Zour. "Saya mengalami banyak penderitaan ketika berada di dalam penjara pemerintah," ucapnya.

Setelah mengalami serangkaian penyiksaan dan penderitaan Atharu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Suriah, dan bertolak ke Eropa untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Dia tidak pergi sendirian, dalam pelariannya ke Eropa, dimana dia akhirnya menjadi penghuni tempat penampungan pengungsi di Roszke dia turut membawa anaknya.


source: http://international.sindonews.com/read/1044216/41/ini-sosok-pengungsi-suriah-yang-ditendang-kameramen-tv-hungaria-1442154461
Read More..........

H.Hendra Cipta,SE terpilih kembali memimpin PB IKAPPAI 2015-2019

Ikatan Alumni dan Abituren PonPes At-Thoyyibah Indonesia (IKAPPAI) melaksanakan silaturrahim akbar dan Musyawarah Besar pada hari minggu, 13 September 2015 di Hotel Garuda Citra Jln SM Raja Medan. Silaturrahim yang dihadiri ratusan alumni Ponpes At-Thoyyibah ini mengamanahkan kembali kepada H.Hendra Cipta,SE menjadi Ketua Umum PB IKAPPAI untuk masa bakti 2015-2019, didampingi oleh Welly Susanto sebagai Ketua Harian, Nurman Ginting Sekretaris Umum dan Santi Octaventi sebagai Bendahara Umum.

Pesantren At-Thoyyibah Indonesia (PAI) merupakan salah satu pesantren yang tertua di Sumatera Utara, terletak di desa Pinang Lombang Labuhan Batu Utara berdiri pada 5 Februari 1974 dan merupakan salah satu pesantren unggulan dimasanya, “disaat kota Medan belum ada satupun pesantren, maka pilihan pada saat itu hanya ada beberapa pesantren saja yaitu pesantren Musthafawiyyah/Pesantren Purba dan Pesantren At-Thoyyibah/Pesantren Pinang Lombang, hingga wajar jika alumninya tercatat sangat banyak berasal dari kota Medan” kata Al-Ustazd Nasrun Zakaria yang merupakan Ketua Dewan Pembina IKAPPAI.

Ustazd Abdul Rahman Sofyan,Lc,MA  juga menambahkan bahwa Ikappai sebagai sarana perajut persaudaraan dan perekat ukhuwah islamiyah bagi sesama alumni yang banyak tersebar di Sumatera Utara bahkan dari aceh hingga jakarta, Ikappai harus mampu menjadi fasilitator alumni untuk terus berkomunikasi melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat rutinitas seperti pengajian bulanan dan lainnya, dan tentunya ikappai dapat berjalan kalau seluruh alumni mulai dari angkatan pertama hingga saat ini terus memberikan dukungan terhadap seluruh kegiatan ikappai itu sendiri. “dahulu sangat sulit berkomunikasi antar sesama alumni hingga kalau mau mengundang pengajian atau kegiatan apapun  kita harus datang  ke rumah masing-masing alumni, saat ini lebih mudah dengan banyaknya media komunikasi yang ada, saat ini seharusnya ikappai bisa lebih terkordinasi lagi dengan baik” kata ustazd lulusan Universitas Al-Azhar Cairo ini.

Sedangkan Dra.Hj.Yurisna Tanjung alumni ponpes at-Thoyyibah tahun 1987 yang juga dosen di UMSU menyatakan semoga ikappai dimasa mendatang bisa lebih baik lagi, bisa lebih berperan dalam memberi kematangan sumber daya alumni ponpes At-Thoyyibah khususnya bagi alumni yang baru saja lulus dan saat ini masih berstatus mahasiswa, meskipun secara kualitatif alumni pesantren At-Thoyyibah sangat mumpuni dan mampu bersaing prestasinya dengan alumnus lainnya. “Anak pesantren itu dididik dengan sangat ketat dan penuh disiplin hingga prestasinya dipastikan tidak akan mengecewakan, tugas Ikappai menjaga, mengayomi dan memberinya kematangan untuk bisa bersaing dengan lulusan lembaga pendidikan lainnya”.

Turut hadir dalam acara silaturahim akbar beberapa alumni ponpes tersebut diantaranya H.Indra Suardi, Lc,MA, H.Riswanto Wage,Lc, Ahmad Sugeng, S.sos, Sarbini Tanjung, S.Kom, Syahbudi Abdi, MA, Ahmad Khairuddin, MPd, Dr. Rusdi, Suheri Alvian, Rudi Syahputra, Taufik Dalimunthe dan lainnya.
Read More..........
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...